Sabtu, 21 April 2018

Usia SD

Cara Mudah mengajari Anak Mengelola Emosi

12 Apr 2018 00:00:00


Cara Mudah mengajari Anak Mengelola Emosi

SAHABAT KELUARGA – Emosi adalah perasaan yang benar-benar keluar dari hati seseorang yang ditujukan kepada orang lain atau sesuatu kejadian yang dialami. Emosi pada anak biasanya akan berkembang seiring berjalannya usia.

Anak usia sekolah mempunyai emosi yang bervariasi. Kadang anak yang sudah berusia sekolah (6-12 tahun) dapat mengekpresikan emosinya secara bersamaan dalam dua bentuk emosi yang berbeda, bahkan bertolak belakang.

Sebagai contoh dalam cerita berikut: Bayu ketakutan melihat sosok badut yang menurutnya berwajah sangat menyeramkan. Akibatnya dia menjerit dan menangis keras. Bayu terkejut melihat tiba-tiba di belakang badut ada sosok superhero idolanya mendekat dan memberikan hadiah. Wuahh... wajah Bayu yang tadinya takut, cemas dan menangis tiba-tiba berubah menjadi tertawa dan bahagia sekali.

Menurut Laura Markham Ph.D dalam psychologytoday.com ada empat macam emosi dasar yang dimiliki oleh seseorang, yaitu:

Pertama, kebahagiaan yang meliputi rasa cinta, sukacita dan kedamaian. Ini adalah keadaan yang biasanya secara alami sudah ada pada diri kita. Rasa bahagia dapat ditunjukkan dengan damainya sebuah keluarga. Anak yang ada bersama keluarga yang ayah ibunya bahagia, akan membuat anak pun merasa bahagia dalam kesehariannya.

Kedua, kecemasan atau takut akan ancaman yang tidak diketahui maupun diketahui penyebabnya, khawatir atau takut akan ancaman tertentu dan perasaan tidak berdaya.

Ketiga, kesedihan. Sikap ini muncul dalam diri seseorang secara alami karena melihat atau merasakan sesuatu yang tidak diinginkan. Kesedihan pada anak dapat kita rasakan saat anak cenderung menarik diri dari lingkungan, sering melamun dan menangis.

Keempat, kemarahan merupakan reaksi seseorang akibat dari kesedihan, kekecewaan atau depresi. Kemarahan pada anak juga bisa muncul akibat dari faktor lingkungan bermainnya. Kemarahan pada anak cenderung tidak berlangsung lama karena sudah menjadi sifat alamiyah anak. Namun kemarahan pada anak kadang datang secara tiba-tiba.

Seperti yang dialami Bu Neti yang tiba-tiba kaget dan merasa malu dengan teman-temannya (saat acara reuni dengan teman SMA) membawa Bobi anaknya yang berusia 6 tahun. Tiba-tiba anaknya marah sampai melempar-lempar makanan di hadapan teman-teman bundanya. Pasalnya Bobi minta sesuatu tidak didengarkan oleh ibunya.

Peristiwa di atas, seringkali terjadi pada anak, sebagai bentuk pelampiasan dalam diri anak yang merasa tidak diperhatikan.

Lantas bagaimana mengajar anak untuk dapat mengelola emosi dengan baik?

Cukup Anda mengamati apa yang dirasakan oleh anak, masuklah ke dalam hati anak, dengarkan apa kemauan anak dan jangan lakukan apa yang membuat anak marah.

Anda tidak perlu ikut-ikutan marah melihat sikap anak. Apalagi kalau kemarahan anak anda karena sikap Anda yang tidak memperhatikan anak. Janganlah malu untuk meminta maaf kepada anak. Di lain hari carilah kesempatan untuk mengenali perasaan anak.

Saat berbicara dengan anak tentang emosi, janganlah terlalu banyak ceramah. Sampaikan melalui pertanyaan-pertanyaan yang dapat membantu belajar melalui refleksi. Ajukan pertanyaan-pertanyaan seperti:

  • Kalau Bobi marah pada teman, apa yang akan Bobi lakukan?
  • Apakah Bobi jadi senang dan hati Bobi jadi tenang saat marah-marah?

Setelah anak menjawab, baru kita beri masukan dan saran kepada anak tidak ada gunanya kita marah-marah.

Bangun rasa empati anak ketika anda dan anak anda melihat teman atau anak lain sedang bersedih atau menangis. Dekati teman atau anak lain yang sedang bersedih. Seperti melalui kalimat: ”Ada yang bisa dibantu Dik?”

Beri contoh ucapan-ucapan itu saat berada di samping anak untuk menumbuhkan empatinya. Selamat mencoba. (Ida Munfarijah Kepala TK Diponegoro 146 & Pegiat Literasi di TBM Mekar Ilmu Purwokerto Barat)