Sabtu, 21 April 2018

Berita

Mengenai Konsep 'Siri" dalam Pola Asuh Budaya Bugis

26 Mar 2018 00:00:00


Mengenai Konsep 'Siri

SAHABAT KELUARGA- Pola asuh yang diterapkan orang tua pada anak-anaknya sangat dipengaruhi adat dan budaya dari suku atau etnis darimana orang tua itu berasal.

Salah satu contoh adalah suku Bugis, sebuah suku yang sejarahnya berasal dari Sulawesi Selatan. Namun kini menyebar ke Suawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, Kalimantan, dan wilayah lainnya.

Seperti halnya di etnis-etnis lainnya, Suku Bugis juga mengenal sistem norma dan aturan adat yang disebut Pangaderreng. Dalam Pangaderreng  itu,  ada yang namanya konsep Siri atau keadaan tertimpa malu atau terhina.  Dalam konteks pengasuhan, orang Bugis dimanapun selalu menegakkan budaya siri agar tidak tertimpa rasa malu dan terhina akibat dari perbuatannya.

Budaya ‘siri’  yang ditekankan orang tua Suku Bugis itu menggugah anak agar tidak melakukan pelanggaran Ade’  atau hukum. Sementara nilai-nilai harga diri atau martabat menuntut seseorang untuk selalu patuh dan hormat pada kaidah-kaidah ade’ 

Karena itu, terhadap anak-anaknya, orang bugis sangat ketat mengajarkan soal keagamaan, kesetiaan memegang janji dan persahabatan, saling memaafkan, saling mengingatkan untuk berbuat kebajikan, tak segan saling memberi pertolongan/pengorbanan, dan memelihara ketertiban adat perkawinan.

Konsep “siri” dalam pengasuhan terungkap  dalam paseng atau nasehat yaitu roloi naptiroang, ritenggai naparaga-raga, rimunriwi napa ampiri (dari depan menjadi suri tauladan, di tengah aktif memberikan bantuan dan dari belakang aktif memberikan dukungan dan dorongan).

Nilai-nilai Siri yang ditekankan orang tua di suku Bugis mencakup :

Sipakatau,  saling menghargai dan menghormati sesama manusia. 

Pesse, bermakna kesetiakawanan terhadap manusia.  

Parakai sirimu, perasaan tanggung jawab dan pengendalian diri

Cappa lila, keterampilan berkomunikasi dan berdialog dengan penuh keterbukaan dan tutur kata yang santun

Rupannamitaue dek naullei ripinra atau hanya wajah manusia yang tidak bisa diubah. Petuah ini bermakna percaya diri dan sikap optimisme terhadap peluang terjadinya perubahan pada diri manusia ke arah yang lebih baik.

Sipatuo sipatokkong dan sipamali siparappe (saling mengembangkan dan saling menghidupkan) yang berimplikasi kepada saling membantu  dan memahami orang lain.

Pajjama (usaha dan kerja keras)mengandung  makna kemandirian, sikap optomis dan dinamis menghadapi masa depan disertai ketekunan dan kerja keras.

Getteng (ketegasan prinsip) mengandung makna kepercayaan diri, keberanian menanggung  resiko dan adanya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Yanuar Jatnika/Sumber: Buku karya Laica Marzuki “ Siri’ Bagian Kesadaran Hukum Rakyat Bugis Makassar” (1995)

 

Baca Juga: