Sabtu, 24 February 2018

Opini

Ta’lim Rumah

13 Feb 2018 00:00:00

Peraturan Presiden (perpres) nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) telah diluncurkan sejak September 2017. Dalam perpres tersebut mengamanahkan bahwa tanggungjawab pendidikan karakter tidak hanya pada sekolah. Masyarakat dan keluarga diminta bersama-sama bertanggungjawab terhadap pembinaan pendidikan karakter anak.

Keluarga sebagai bagian dari masyarakat yang terkecil merupakan penanggungjawab pertama dan utama terhadap pendidikan anak, termasuk karakter anak. Oleh karena itu kesadaran masing-masing keluarga terhadap kewajiban untuk semakin peduli terhadap pendidikan karakter penting untuk diwujudkan.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan kesibukan anggota keluarga menyebabkan komunikasi antar anggota keluarga semakin terbatas. Padahal komunikasi antar sesama anggota keluarga adalah bagian penting dalam keharmonisan dan kekompakan sebuah keluarga. Tidak cukup menyapa atau bersalaman saja hubungan antara anak dan orangtua. Cerita sesama anggota keluarga, saling bertukar informasi secara langsung dapat menyebabkan semakin kompaknya sebuah keluarga.

Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan dalam keluarga adalah dengan membudayakan ta’lim rumah. Kegiatan ta’lim di rumah bisa dilakukan berdasarkan kesepakatan semua anggota keluarga, dimana waktu bersama dalam sehari semua keluarga bisa berkumpul dan duduk bersama. Setelah disepakati waktunya, kemudian bisa dilaksanakan kegiatan ta’lim rumah, untuk mengawali bukan lamanya waktu ta’lim rumah, tetapi kebersamaan itu yang menjadi poin penting agar dalam keluarga tersebut menjadi keluarga yang kompak.

Dalam kegiatan ta’lim rumah, salah satu anggota keluarga, Ayah atau Bunda atau Anak dapat membacakan kitab hadist dan atau membaca kitab suci. Kegiatan ini tentunya selain bermanfaat untuk membentuk disiplin juga untuk meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT. Sesuai amanah perpres 87 tahun 2017, kegiatan ta’lim rumah juga secara langsung dapat membudayakan kegiatan literasi dan gemar membaca dalam keluarga. Setelah ta’lim rumah, sesama anggota keluarga dapat saling bercerita, berbagi pengalaman dan duduk bermusyawarah untuk kepentingan keluarga. Dalam musyawarah tersebut tentu akan muncul juga karakter saling menghormati pendapat oranglain, saling menghargai, juga belajar mendengarkan pendapat oranglain, yang nantinya akan muncul rasa empati dan kepedulian sesama anggota keluarga.

Jika masing-masing keluarga dalam satu masyarakat berkomitmen bersama untuk membudayakan ta’lim rumah, maka akan terbentuk masyarakat yang gemar membaca, disiplin, empati, saling menghargai, saling menhormati. Juga konsumsi ruhaniah akan terpupuk dengan baik. Sehingga akan terbentuk suatu komunitas masyarakat yang bersama-sama menjaga dan saling menguatkan pendidikan karakter anak yang dimulai dari kegiatan sederhana yaitu ta’lim rumah.

Seyogyanya dalam kegiatan ta’lim rumah, tidak ada yang main gadget dan TV sehingga betul-betul waktu tersebut berkualiatas untuk kebersamaan satu keluarga. Untuk mewujudkan hal tersebut tentunya perlu komitmen bersama yang kuat, masing-masing keluarga memulai mewujudkan ta’lim di rumah masing-masing. (Suwarsono - Guru SMKN 3 Yogyakarta)