Sabtu, 21 April 2018

Keluarga Hebat

Hidup Sederhana, Anak Iswandi Menorehkan Prestasi (2)

17 Jan 2018 12:43:09


Hidup Sederhana, Anak Iswandi Menorehkan Prestasi (2)

SAHABAT KELUARGA- “Dunia ini Hanya Titipan, yang penting Akhirat”. Nasehat itulah yang selalu didengungkan Iswandi ( 60) pada tiga orang anaknya. Sebagai alumni pondok pesantren, Iswandi dan istrinya sangat ketat dalam membentuk karakter tiga orang anaknya. Setiap harinya, anak-anak dipenuhi dengan kegiatan sekolah dan pelajaran agama.

“Pagi sekolah, sore belajar agama di Diniyah, malam ngaji di mesjid, tidak ada waktu untuk main. Kecuali Jumat, boleh main di sore hari karena Diniyah libur,” kata Iswandi dalam bahasa Jawa Timur yang sangat kental saat dikunjungi Tim Sahabat Keluarga pertengahan Desember 2017 lalu di rumahnya di Dusun Danyang, Desa Sukosari, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur,

Jangankan main, nonton televisi saja sangat terbatas sekalin karena Iswandi dan istrinya mendidik anak-anaknya untuk tidak begitu menyukai televisi.

Meski hidup dengan segala keterbatasan, Iswandi mengaku bahagia dan tidak pernah merasa kekurangan. Iswandi mengajarkan pada istri dan anaknya untuk tidak pernah mengeluh dalam keterbatasan ekonomi.

"Saya selalu sampaikan ke mereka untuk mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT. Dan alhamdulillah, setiap nikmat yang kami syukuri membuahkan anak-anak saya sehat, taat pada orang tua hingga bisa berprestasi," ucap Iswandi.

 

Baca juga : 

Setiap malam, menjelang tidur, Iswandi mengajarkan berbagai hafalan ayat-ayat Al Quran pada anak-anaknya. “Anak-anak setiap malam harus sholat malam, baca Bismillahirohmanirohim dan Salawat Nabi, masing-masing 1000 kali, dan beberapa hafalan lain, “kata Iswandi.

Bahkan diakui Iswandi, untuk anak pertamanya, diberikan hafalan yang dipakai setiap mau mengikuti lomba pidato Bahasa Arab atau Bahasa Inggris. “Agar percaya diri, tenang, dan siap mental saat pidato, “katanya.

Istrinya, Nur Hidayati mengatakan, anak-anak juga diajarkan puasa Senin-Kamis. Selain ibadah-ibadah tersebut, anak-anaknya juga ditekankan untuk lebih menguasai ilmu-ilmu akherat. Iswandi dan istrinya punya keyakinan kuat, bahwa urusan dunia itu sudah diatur oleh Allah SWT sehingga manusia tak perlu terlalu mengejar kepuasaan dunia. Bagi keduanya, berapapun yang mereka terima merupakan rizki yang diberikan Allah sehingga tak layak menuntut berlebihan. “Diberi seribu cukup, sepuluh ribu juga cukup, berapapun cukup. Saya tak pernah memasang tarif dalam memijat, seikhlasnya saja, “tuturnya.

Karena itu, diakui Iswandi dan istrinya, bahwa keduanya tak punya cita-cita anak-anak masuk perguruan tinggi atau sekolah yang lebih tinggi lainnya. Dari awal, keduanya sudah mewajibkan semua anak-anaknya masuk pondok pesantren.

“Dunia ini hanya titipan, yang penting akhirat, “kata Iswandi.

Dengan pola asuh seperti itu, dua dari tiga anaknya meraih berbagai prestasi. Anak pertamanya, Miftahul Huda (15), yang saat ini duduk di Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Ar Rohman, Desa Tegalrejo, Kecamatan Semen, Kabupaten Magetan, beberapa kali menyabet juara lomba debat bahasa Inggris dan bahasa Arab.

Iswandi menyebutkan prestasi Huda selama ini antara lain menjadi juara 1 pidato Bahasa Arab mewakili sekolahanya di Madiun pada 2017. Kemudian menjadi juara III lomba pidato bahasa Inggris, juga di Madiun pada 2017.

Menurut Iswandi, sampai saat ini Huda sudah mengumpukan sembilan piala dari berbagai lomba pidato Bahasa Inggris dan Bahasa Arab.

Sedangkan anak keduanya, Lailatur Rohman (11) yang duduk di Kelas IV SDN 2 Sukosari berprestasi di bidang pantomim. Pada 2017 ini, Rohman menjadi juara pertama di kompetisi pantomim tingkat Kabupaten Ponorogo.

Prestasi kedua anaknya itulah yang membuat LSM Ponorogo Peduli menggalang dana untuk merenovasi rumah Iswandi. Kedua anaknya itu juga beroleh beasiswa dari sekolahnya. Sedangkan anaknya yang bungsu, Nurul Aisyah (9), masih duduk di bangku SD kelas 3. “Huda saat ini menjadi guru pidato Bahasa Arab bagi teman-temannya, “kata Iswandi bangga. Yanuar