Sabtu, 24 February 2018

Keluarga Hebat

Iswandi Ajarkan Hidup Penuh Keikhlasan (1)

17 Jan 2018 12:28:02


Iswandi Ajarkan Hidup Penuh Keikhlasan (1)

SAHABAT KELUARGA- Keikhlasan menjalani hidup dengan berorientasi pada kehidupan akhirat. Itulah yang dilakoni pasangan suami istri Iswandi (60) dan Nur Hidayati (38). Secara ekonomis, bila mengacu pada standar kehidupan umumnya, kehidupan yang dijalani Iswandi dan Nur Hidayati dan tiga orang anak bisa disebut di bawah standar.

Rumahnya, di Dusun Danyang, Desa Sukosari, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, bisa dikatakan di bawah standar rumah-rumah pada umumnya. Berukuran sekitar 7 x 7 meter persegi, rumah Iswandi setengahnya berupa bata merah telanjang di bagian bawah dengan bagian atasnya merupakan material jenis GRC, yakni campuran semen dan serat fiber glass.

Bagian dalam rumahnya pun sangat sederhana, hanya disekat oleh GRC untuk memisahkan ruang tamu, satu kamar  untuk menyimpan barang-barang merangkap ruang sholat dan ngaji, dapur dan kamar mandi. Sementara lantainyapun masih berupa tanah yang dilapisi karpet plastik. Itupun tambal-tambalan, sudah kusam dan bolong di sana sini.

Tak banyak perabotan di rumah yang sudah dihuni keluarga Iswandi sejak tahun 2004 itu. Hanya ada dua lemari sederhana untuk menyimpan pakaian. Tidak ada meja maupun kursi. “Ruang tamu ini juga sekaligus tempat tidur semua, bareng-bareng, “kata Nur Hidayati dalam bahasa Jawa Timur yang sangat kental saat dikunjungi Tim Sahabat Keluarga pertengahan Desember 2017 lalu.

Keseharian Iswandi adalah menunggu panggilan pijat. Di waktu luangnya, ia menyabit rumput untuk memberi makan 3 ekor kambingnya. Sementara istrinya, Nur Hidayati, mencari tambahan penghasilan di sebuah warung nasi di pasar Danyang, tak jauh dari rumahnya.

Baca Juga :

Tidak setiap hari Iswandi mendapatkan panggilan pijat. Bahkan, menurut istrinya, sering tak dapat panggilan pijat sampai seminggu. Beruntung, dari bantu-bantu di warung nasi, Nur Hidayati memperoleh upah sekitar Rp40 ribu setiap harinya.

Namun,  dengan kondisi seperti itu, Iswandi dan istrinya mampu memberi motivasi pada anak-anaknya. Menariknya, bila orang tua lain mendorong anak-anaknya untuk sukses dari sisi akademik, karir, dan materi, lain halnya dengan Iswandi. Lelaki asal Nganjuk itu lebih memilih anak-anaknya mendalami ilmu-ilmu agama.

“Tiga anak saya, kalau pagi sekolah biasa sampai pukul 12.30. Pukul 14.00 lanjut ke Diniyah sampai pukul 17.00. Menjelang Maghrib, ke Mesjid untuk sholat dan ngaji sampai Pukul 20.00, “jelas Iswandi.

Iswandi dan istrinya merupakan lulusan pondok pesantren di Kertosono, Nganjuk. Kepada anak-anaknya, keduanya tak lupa memberikan wejangan-wejangan menjadi pemeluk agama Islam yang taat selain rajin belajar. Iswandi bahkan menurunkan beberapa amalan atau ayat-ayat yang dinukil dari Al Quran sebagai bekal bagi anak-anaknya dalam menjalani hidup.

Dengan pola asuh seperti itu, dua dari tiga anaknya meraih berbagai prestasi. Anak pertamanya, Miftahul Huda (15), yang saat ini duduk di Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Ar Rohman, Desa Tegalrejo, Kecamatan Semen, Kabupaten Magetan, beberapa kali menyabet juara lomba debat bahasa Inggris dan bahasa Arab.

Sedangkan anak keduanya, Lailatur Rohman (11) yang duduk di Kelas IV SDN 2 Sukosari berprestasi di bidang pantomim. Pada 2017 ini, Rohman menjadi juara pertama di kompetisi pantomim tingkat Kabupaten Ponorogo. “Sebelum ikut di tingkat kabupaten, terlebih dahulu ia mengikuti kompetisi di tingkat Kecamatan Babadan dan menjadi juara,” kata Rohman. Yanuar Jatnika