Selasa, 23 January 2018

Opini

Ketika Kenyataan Tak Seindah Harapan

11 Jan 2018 09:00:00

SAHABAT KELUARGA – Apakah putra atau putri Ayah Bunda gampang mengeluhkan kondisi sekitar dan terlihat kurang sabar? Seperti mengeluhkan teman-teman baru di kelasnya yang sulit diajak ngobrol, walikelas yang kurang komunikatif atau kalah bertanding bola lalu menyalahkan fasilitas sekolah yang sepertinya tidak pernah cukup baginya?

Mungkin ananda adalah tipe anak yang mudah kecewa. Menuntut kesempurnaan dalam hampir semua hal pada dirinya dan sekelilingnya. Ketika kenyataan tidak serupa dengan harapannya, maka dia akan menyalahkan dirinya atau mencari kesalahan pihak lain. Biasanya sikap ini muncul atau menguat ketika ananda menginjak masa remaja. Seiring dengan kemampuan berpikir abstraksi, termasuk kemampuan membandingkan situasi.

Jim Fanin, seorang konselor kenamaan Amerika membeberkan anjuran dan larangan untuk si ”mudah kecewa” di Huffington Post yang mungkin bisa membantu Ayah Bunda dalam ”mendamaikan” perasaan dan sikap ananda.

Anjuran

1. Bantu ananda untuk realistis dalam merumuskan tujuan dan rumuskan ulang ketika tujuan tersebut tidak serupa dengan kenyataan. Realistis berarti kemampuan mengenali dirinya sendiri serta kondisi sekitar dengan baik. Kemampuan ini penting ditanamkan sejak dini supaya anak bisa berkembang sesuai potensi yang dimilikinya dan tidak gampang menyerah ketika bertemu banyak tantangan.

2. Bimbingan Anda untuk menyesuaikan tujuan ananda (tujuan bersekolah, berteman dan lain-lain) ketika kekecewaan itu datang. Mungkin tujuan tersebut bisa dilakukan dengan cara-cara yang lain. Misalnya, ketika ananda mengeluhkan walikelasnya yang kaku dan tidak komunikatif, Ayah Bunda bisa menginspirasi ananda mencairkan komunikasi dengan walikelas dengan membawakan kue kesukaannya dan lain-lain.

3. Arahkan perasaan negatif ananda pada hal-hal yang positif. Misalnya keluar (hang out) bersama keluarga atau teman baik dan dalam perjalanan mengulas dengan santai apa-apa yang dikeluhkan ananda. Dalam situasi yang rileks dan nyaman, biasanya orang cenderung lebih mudah untuk memperbaiki suasana hati.

4. Bantu meredam kekecewaan ananda dengan pernyataan-pernyataan positif terhadap dirinya sendiri. Seperti, ”Oh, mungkin saat itu teman-teman masih kelelahan setelah libur panjang, sehingga kelihatan malas ngobrol panjang lebar” dan lain-lain.

5. Bimbing ananda untuk bisa mengenali saat-saat kecewa biasanya datang, sehingga perasaan negatif bisa lebih diantisipasi

6. Ajari ananda teknik pernafasan untuk mengatasi kecewa dan perasaan negatif, dengan cara bernafas dalam-dalam,dan perlahan hembuskan. Katakan untuk selalu menunda bereaksi atas kekecewaan yang akan mucul, sehingga sikap lebih terkontrol.

 

Hindari:

1. Ajak ananda untuk tidak melampiaskan perasaan negatifnya pada makanan dan minuman. Karena hal ini bisa menyebabkan ananda terbiasa makan dan minum berlebihan yang nantinya berdampak buruk.

2. Berkomunikasilah hangat dengan ananda, terutama agar ananda tidak menyalahkan dirinya sendiri, orang lain atau bahkan sampai balas dendam.

3. Katakan pada ananda untuk tidak keluar (hang out) dengan orang-orang yang negatif ketika sedang kesal.

 

Nah, Ayah Bunda, ternyata jika orang tua tidak membimbing ananda untuk lebih positif, akibatnya bisa tidak baik ya untuk perkembangan ananda. Seperti makan dan minum berlebihan, menyalahkan diri sendiri hingga berniat membalas dendam.

Padahal ketika kita memiliki harapan, namun tidak sesuai kenyataan, maka di situlah kesempatan buat kita untuk belajar. Pun ketika mengalami kegagalan. Jatuh adalah kesempatan untuk belajar bangun kembali.

Pengalaman banyak orang sukses dunia, kegagalan berkali-kali membuat mereka bangun dan berdiri tegak pada akhirnya.

”Saya pernah gagal lebih dari 9.000 tembakan sepanjang karier. Saya pernah kalah di hampir 300 pertandingan, selama 26 tahun. Saya dipercaya untuk melakukan tembakan kemenangan dan gagal. Saya gagal lagi, lagi dan lagi dalam hidup saya. Dan itulah yang membuat saya sukses,” ujar Michael Jordan, pemain basket kenamaan dunia. (Sri Lestari Yuniarti, Subdit Pendidikan Orang Tua)