Selasa, 23 January 2018

Berita

Di Inggris, Orang Tua Telat Jemput Anak Sekolah Bisa Kena Denda

11 Dec 2017 00:00:00


Di Inggris, Orang Tua Telat Jemput Anak Sekolah Bisa Kena Denda

SAHABAT KELUARGA – Mengantar dan menjemput anak sekolah adalah hal yang amat penting di Inggris. Hal ini menjadi tanggung jawab besar para orang tua karena menyangkut keamanan dan keselamatan siswa.

Orang tua yang telat menjemput anaknya hingga lebih dari 30 menit didenda 60 pound atau sekitar Rp 1 juta. Orang tua yang menolak bayar denda dapat dituntut ke pengadilan, bahkan diancam penjara.

Aturan ini sejatinya diperkenalkan sejak 2015 oleh beberapa pemerintah kota di Inggris, antara lain West Midlands, Hampshire dan Essex. Kini mulai banyak sekolah yang menerapkannya.

Bulan lalu, sebuah sekolah di wilayah Oldham Manchester menjadi perbincangan para orangtua siswa di Inggris. Sebab, sekolah tersebut mengenakan denda 1 pound (kira-kira Rp 18.000) per 1 menit keterlambatan menjemput siswa. Wow!

Kewajiban orang tua mengantar dan menjemput putra-putri mereka berlaku bagi siswa nursery (Kelompok Bermain) hingga Years 6 atau setara kelas 6 sekolah dasar.

Di atas jenjang tersebut, para siswa boleh berangkat dan pulang sekolah tanpa didampingi orangtua. Sekolah dimulai pukul 09.00, dan selesai hingga pukul 15.00.

Tiverton School, sekolah anak saya yang terletak di Birmingham, juga menerapkan denda serupa. Bila orangtua telat menjemput anak lebih dari 30 menit maka kami harus membayar denda.

Bahkan, apabila orang tua tiga kali telat menjemput, sekolah akan melaporkan kepada City Council (Dinas Pendidikan). Lantas, mereka akan mengirimkan petugas sosial ke rumah untuk memberikan penyuluhan parenting. Sebab, anak kami akan dianggap left behind children atau anak yang memiliki masalah sosial.

Sebagai sekolah dengan predikat Outstanding dari OFSTED (semacam Badan Akreditasi Sekolah), Tiverton amat tegas soal antar-jemput siswa.

Hal ini sudah ditegaskan pengelola sekolah sejak awal pendaftaran. Apabila kedua orang tua bekerja dan tak dapat mengantar dan menjemput anak setiap hari, mereka dapat mewakilkannya kepada kerabat atau orang lain, dan mereka harus menyerahkan data orang tersebut kepada sekolah.

Kata Sandi

Bagaimana bila suatu hari orang tua tidak dapat menjemput anaknya? Apalagi, banyak orang tua siswa di Tiverton merupakan mahasiswa di University of Birmingham yang mendadak harus menemui dosennya.

Bila tiba-tiba tidak dapat menjemput anak, orang tua harus menelepon sekolah dan memberikan nama orang yang akan menjemput, misalnya teman kuliah. Sekolah akan memberikan password atau kata sandi yang akan ditanyakan oleh guru kepada orang yang menjemput putra-putri yang bersangkutan.

Saya pernah dua kali menjemput anak seorang kawan ketika ia mendadak harus bertemu dosennya. Celakanya, ia lupa mengabarkan sekolah bahwa saya yang akan menjemput putranya.

Meskipun putranya satu kelas dengan putri saya, dan saya pun kenal baik dengan gurunya, tetap saja tidak mudah menjemput anak sahabat. Sekolah tetap tidak mengizinkan saya menjemput anak tersebut karena sekolah tidak mendapat kabar apa pun dari orangtuanya.

Saya sempat heran saat itu. Bayangkan, gurunya mengenal saya sebagai orangtua murid di kelasnya. Anak yang akan saya jemput pun sesama anak dari orang Indonesia. Namun, sekolah tetap tidak memberikan izin.

Saat mengalami kejadian tersebut, saya tidak kesal, tetapi justru kagum dengan sekolah. Mereka benar-benar berusaha memastikan keamanan dan keselamatan peserta didik mereka. Sekolah tidak mudah melepas murid meskipun kepada orang yang sudah dikenal.

Untungnya, kawan saya tidak didenda karena bukan dikategorikan telat menjemput anak. Bagaimana ya respons orang tua jika sekolah-sekolah memberlakukan denda seperti ini di Indonesia? (Yohan Rubiyantoro – Pegawai Ditjen PAUD dan Dikmas, sedang melaksanakan tugas belajar di University of Birmingham, Inggris)