Rabu, 13 December 2017

Berita

Kenangan Anies Baswedan Tentang Ayahnya

14 Nov 2017 10:30:10


Kenangan Anies Baswedan Tentang Ayahnya

SAHABAT KELUARGA- Menyambut Hari Ayah Nasional yang jatuh pada 12 November 2017 lalu, mantan Menteri pendidikan dan Kebudayaan yang kini diberi amanah sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022, Anies Rasyid Baswedan, menceritakan tentang sosok ayahnya, Rasyid Baswedan dan kakeknya.

Penggagas program”Indonesia mengajar” itu menceritakan kesan-kesannya tentangf sosok ayah dan kakeknya di akun instagram pribadinya @aniesbaswedan, Minggu (12/11/2017).

Berikut postingan lengkap Anies Baswedan:

Namanya Rasyid Baswedan, Ayah adalah pribadi yang amat stabil, lempeng dan tegas. Di siang hari bekerja keras, mengajar di sekolah dan kampus. Di malam hari jadi penutur dongeng bagi anak-anaknya. Dongengnya penuh variasi mulai dari yang lucu hingga cerita sedih atau cerita menegangkan. Semua adalah dongeng karangannya sendiri.

Meja makan di rumah jadi saksi ayah mengijinkan anak2nya diskusi & debat, termasuk bila berbeda pandangan dengannya. Beliau tidak mengatur pikiran, tapi mengatur cara & adab dalam mengungkapkan pikiran.

Dengan diboncengkan vespa, Ayah antarkan saya yg masih duduk di bangku SD untuk jadi anggota perpustakaan di Harian Kedaulatan Rakyat. Hari Minggu, sama-sama membersihkan vespa dan sebulan sekali menguji mesin sambil membersihkan busi mesin vespa.

Ayah selalu menjaga semangat utk terus berjuang dan tetap teguh walau ada hantaman. Pesannya: "Kalau mau bebas hantaman ya duduk2 santai aja di rumah; kalau berjuang maka tantangan & hantaman adalah kenormalan".

Abdurrahman Baswedan, Ayahnya Ayah. Kami sekeluarga, Ayah—Ibu dan tiga anak, menempati satu kamar di rumah Kakek. Kadang2 suka heran, bgmn bisa sekamar diisi 5 orang; tp waktu itu biasa2 saja dan semua enjoy.

Karena serumah, maka saat masih di bangku TK, Kakek selalu jemput dan langsung ajak jalan kaki ke kantor pos. Tiap hari beliau ke kantor pos, kirim surat atau kirim artikel utk koran atau majalah sambil olahraga. Ada sebuah pesan singkat dari Kakek: "Begitu ada waktu senggang maka baca, baca buku apapun. Jangan buang waktu tanpa baca."

Suatu ketika, saya duduk di bangku kelas 4 SD, paman ditangkap karena dia aktivis mahasiswa yg memprotes NKK-BKK. Dari UGM dibawa ke Semarang. Ditahan beberapa bulan oleh Kopkamtib tanpa proses pengadilan dll. Ayah rutin menjenguk bawa buku dan makanan. Kakek ikut mendirikan Republik ini, dan saat-saat anak bungsunya itu ditahan oleh pemerintah republik ini, ia berpesan pada semua keluarga: jangan pernah khawatir; ini konsekuensi sebuah perjuangan, biasa saja. Berani melawan, maka berani ditahan.

Itulah Ayah dan Ayahnya Ayah. Selamat Hari Ayah !! *ABW.