Rabu, 13 December 2017

Sekolah Keren

PKBM Kuranji, Ubah Kebiasaan Keluarga ( Bag 2)

03 Nov 2017 11:22:23


PKBM Kuranji, Ubah Kebiasaan Keluarga ( Bag 2)

SAHABAT KELUARGA- Kebersamaan dan kedekatan antara orang tua dengan anak-anaknya merupakan kunci agar anak-anak tumbuh menjadi manusia yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga, dan masyarakat. Hal itu diungkapkan Eva Febriany, Ketua Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Kuranji. PKBM yang didirikan tahun 2009 itu berlokasi di Kampung Kuranji di Kelurahan Guntung Manggis, Kecamatan Landasan Ulin, Jalan Ahmad Yani Km.28 Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Hal itulah yang menjadi landasan bagi istri Tata Suhanda itu untuk merubah karakter dan perilaku remaja-remaja di wilayah itu. Menurut Eva, sebelum PKBMnya didirikan tahun 2009 lalu, wilayah itu dikenal sebagai tempat nongkrong remaja-remaja pengangguran, minum minuman keras, tindak kekerasan, dan sebagainya.

Menurut Eva, hal itu disebabkan kesibukan orang tuanya yang umumnya berprofesi sebagai buruh bangunan dan pembuat batu bata. Mereka rata-rata hanya lulusan sekolah dasar, bahkan tak sedikit yang ngga sampai selesai. Begitu pula terhadap anak-anaknya yang menurut para orang tuanya cukup lulus SD saja, tak perlu melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

“Mereka, para orang tua, juga cenderung tidak mendidik anak-anaknya, dibiarkan begitu saja berkembang, tidur ya tidur, makan ya makan, pergi ya pergi begitu saja, tak ada ucapan salam, tidak ada kebersamaan, tidak ada upaya mendidik, jadi bergerak masing-masing, orang tua sibuk sendiri, anak aktivitas sendiri, rumah hanya tempat untuk tidur, “lanjut Eva.

Eva lantas membentuk PKBM yang salah satu kegiatannya adalah pendidikan kesetaraan. Dengan melihat kondisi masyarakat setempat, ia fokus di paket B, dan paket C serta pendidikan vokasional atau pendidikan kecakapaan hidup.

Sama Seperti di level PAUD, untuk peserta didik Paket B dan C, Eva juga mewajibkan para orang tua peserta didik untuk ikut serta mendidik dan mengasuh anak-anaknya. Namun, pemberian kesadaran seperti itu tidak dilakukan di ruang kelas saat hari pertama sekolah, tapi dengan strategi yang berbeda.

“Strateginya berbeda karena mereka kan usianya jauh lebih tua, jadi jangan terkesan menggurui, “katanya.

Strateginya, lanjut Eva, mengajak para orang tua peserta didik dalam berbagai kegiatan di PKBM, seperti pelatihan pembuatan hidroponik, pembuatan aneka kue dan penganan, pengajian, posyandu, dan sebagainya. “Nah, sambil melakukan berbagai kegiatan itu, kami bertanya-tanya soal kondisi di rumah, kebiasaan sehari-hari, dan sebagainya, lantas pelan-pelan kami memberi masukan cara mengatasi masalah anak, melakukan pembiasaan baik, dan sebagainya, “jelasnya.

Saat ini, peserta Paket B di PKBM Kuranji sudah tidak ada, sementara di Paket C ada sekitar 30 orang. “Paket A atau setara SD kan sudah tidak ada, jadi kami memulai dari Paket B dan lantas dilanjutkan ke Paket C, “katanya.

Peserta Paket B dan C di PKBM Kuranji merupakan usia-usia sekolah yang tidak melanjutkan ke pendidikan formal dengan alasan, selain ketiadaan biaya juga budaya setempat.

“Alhamdulillah, sudah banyak yang lulus dari PKBM ini, dan rata-rata sudah bekerja atau berwirausaha dan yang terpenting, setelah sekolah di di sini, karakter dan perilaku anak-anak muda di sini ada kemajuan ke arah yang lebih baik, tidak ada lagi tindak kekerasan, minum-minuman keras, dan sebagainya, “kata Eva sumringah.

Yang penting lainnya, melalui kegiatan pemberdayaan ekonomi keluarga yang disisipkan pendidikan keluarga, kebiasaan para orang tua untuk berkomunikasi yang dilandasi kasih sayang juga sudah diterapkan. “Anak remaja di sini sekarang sudah terbiasa cium tangan orang tua sebelum berangkat sekolah, mengucapkan salam, makan bersama, dan lain-lainnya, “lanjutnya.

Syamsi (65) salah seorang orang tua menuturkan, tiga orang anaknya bersekolah di PKBM Kuranji. Dua orang pertama kini sudah bekerja di pabrik, dan yang terakhir baru lulus dan kini bantu-bantu di PKBM Kuranji.

“Alhamdulilah, di PKBM ini, anak-anak saya memperoleh bekal yang cukup, baik pengetahuan, wawasan dan karakter, “kata Syamsi yang berprofesi sebagai pemuat bata merah ini.

Ia mengakui, PKBM yang dipimpin Eva Febriany ini banyak merubah kebiasaan keluarga dan remaja di wilayah itu ke arah yang lebih baik. “ Dulu di sini sering ribut antar remaja, sekarang aman dan nyaman, “katanya.

Dikatakan Eva, kunci dari perubahan itu adalah komunikasi dari hati ke hati. “Kita ajak pelan-pelan, masuk dalam kehidupannya, cari apa yang dibutuhkan dan kita coba memenuhinya. Salah satunya, mereka membutuhkan kasih sayang dari orang tua, dan saya coba menjadi orang tua bagi mereka, “kata Eva. Yanuar Jatnika