Rabu, 13 December 2017

Sekolah Keren

PKBM Kuranji Wajibkan Orang Tua Berkomitmen ( Bag 1)

03 Nov 2017 11:16:31


PKBM Kuranji Wajibkan Orang Tua Berkomitmen ( Bag 1)

SAHABAT KELUARGA- Kesadaran pentingnya keterlibatan orang tua dalam meningkatkan prestasi dan memperkuat karakter peserta didik sebenarnya sudah muncul di beberapa satuan pendidikan, baik formal maupun nonformal di beberapa wilayah di Indonesia.

Bahkan, kesadaran itu muncul jauh sebelum lahirnya Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Ditjen PAUD dan Dikmas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pada tahun 2015 lalu. Direktorat besutan Anies Baswedan, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu memang memiliki amanah untuk mendorong keluarga terlibat aktif di satuan pendidikan.

Salah satu satuan pendidikan, dalam hal ini pendidikan nonformal, yang sudah memiliki kesadaran itu adalah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Kuranji. PKBM yang didirikan tahun 2009 itu berlokasi di Kampung Kuranji di Kelurahan Guntung Manggis, Kecamatan Landasan Ulin, Jalan Ahmad Yani Km.28 Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Eva Febriany, Ketua PKBM tersebut menuturkan, setiap orang tua peserta didik yang mengikuti kegiatan pendidikan di tempatnya diwajibkan memiliki komitmen untuk bersama-sama mengasuh dan mendidik anak-anaknya dengan pihak sekolah. Salah satu yang cara yang didorong pada para orang tua adalah mengajarkan anak-anak untuk

Bagi anak-anak PAUD, setelah daftar dan sebelum dimulai proses pembelajaran, para orang tuanya dipanggil untuk diberikan pemahaman tentang pola pembelajaran yang berlaku di PAUD Kuranji.  

“Saya sampaikan, bahwa usia 0-6 tahun itu masanya bermain, maka model pembelajarannya juga dengan cara bermain, bukan dengan duduk di kelas terus belajar baca dan tulis, “kata wanita asli Bandung, Jawa Barat ini.

Yang tak kalah penting, lanjut Eva, dalam pertemuan itu ditekankan agar orang tua lebih mengintensifkan komunikasi dengan anak-anaknya serta memperkuat kedekatan. Salah satu bentuknya adalah mengajak para orang tua agar setiap pagi memeluk anaknya dengan kasih sayang sebelum berangkat sekolah. Terus saat pulang sekolah, ditanya mengenai pengalamannya di sekolah, apa yang dilakukan di sekolah dan bagaimana tentang teman-temannya.

“Hal itu saya tekankan karena ketiadaan komunikasi dan kurangnya kedekatan antara orang tua dengan anak menjadi penyebab utama terbentuknya remaja-remaja bermasalah di daerah ini. Agar di masa mendatang tidak ada lagi anak-anak yang bermasalah, maka memulainya harus sejak usia dini, yakni saat di PAUD, “jelas Eva.

Menurut Eva, daerah tempat PKBM Kuranji ini dahulunya merupakan hutan dan ladang dengan sedikit pemukiman. Lebih dari itu, saat itu, wilayah itu menjadi tempat nongkrong pemuda-pemuda pengangguran yang kesehariannya tak jauh dari minum minuman keras, kekerasan, dan beberapa tindak negatif lainnya.

Tahun 2009, saat Eva memilih Kampung Kuranji sebagai lokasi PKBM, ia melihat kurangnya kedekatan dan komunikasi antara orang tua dengan anak-anaknya di daerah itu.

Hal itu, menurut Eva, menjadi penyebab munculnya remaja-remaja bermasalah karena kurangnya komunikasi dengan orang tua.

“Maklumlah di sini umumnya berprofesi sebagai pembuat bata dan kuli bangunan dengan tingkat pendidikan hanya sekolah dasar sehingga tidak pernah terlintas hal-hal seperti itu, “katanya.

Ia meyakini, kalau anak sudah terpenuhi kasih sayangnya dari orang tuanya, dengan pelukan, ngobrol dari hati ke hati, ia tidak akan menjadi remaja yang bermasalah.

Ia bersyukur, sejak didirikan PAUD 8 tahun lalu, sudah banyak perubahan perilaku di keluarga. Misalnya, anak-anak sudah dibiasakan mengucapkan salam saat masuk sekolah dan pulang sekolah, sungkem pada orang tua serta menyapa setiap orang yang ditemui.

“Saya juga lihat orang tua sudah tidak sungkan lagi mengajak anaknya mengobrol, makan bersama, suatu kebiasaan yang sebelumnya tak pernah dilakukan, “ujarnya. Yanuar Jatnika