Rabu, 13 December 2017

Keluarga Hebat

Bahlil Lahadalia: Karakter itu Dibentuk di Keluarga (Bag 4-Selesai)

30 Oct 2017 12:06:15


Bahlil Lahadalia: Karakter itu Dibentuk di Keluarga (Bag 4-Selesai)

SAHABAT KELUARGA- Karakter kerja keras, kemandirian, dan keinginan untuk maju tidak dibentuk di sekolah tapi dibentuk oleh orang tua di rumah. Itulah yang dengan tegas dikatakan Bahlil Lahadalia, pemilik 11 perusahaan dibawah bendera PT Rifa Capital yang pada 2015 lalu, terpilih sebagai Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dalam Musyawarah nasional HIPMI ke-15 di Bogor.

Di sela-sela kesibukannya yang luar biasa padat, baik sebagai pimpinan perusahaan, maupun sebagai Ketua Umum HIPMI, Sahabat Keluarga berhasil mewawancarai pria yang pernah menjabat Bendahara Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) 2001-2003 ini di kantornya di Menara Bidakara, Jakarta, pada pertengahan September 2017 lalu.

 

Sejauhmana peran orang tua dalam membentuk karakter anda sehingga mencapai keberhasilan seperti sekarang ini?

Bagi saya, orang tua mempunyai kontribusi terbesar dalam pembentukan karakter hidup saya. Ayah saya itu buruh bangunan sedangkan mamak saya itu hanya pembantu rumah tangga sambil jualan kue-kue. Saya dan adik-adik serta satu orang kakak sudah diajarkan sejak kecil, sejak SD, untuk kerja keras sembari sekolah membantu ayah dan ibu, yakni berjualan kue

Saya pikir apa yang diajarkan ibu dan bapak itu bukan menyiksa anak-anak dengan disuruh uang sejak kecil, tapi merupakan penanaman daya juang. Dengan jualan kue, mental bisnis dan mental penguaha saya sudah diuji.

Saya punya satu keberuntungan, dilahirkan dari orang tua yang punya motivasi dan jiwa pantang menyerah yang kuat. Mereka tetap fight untuk membesarkan menyekolahkan anak-anak dengan kondisi ekonomi yang minim sekali. Meski begitu, semua anaknya sarjana semua. Jadi ada yang sudah S-2, S-3 nggak ada yang nggak sarjana. Mereka rata-rata pegawai negeri, yang jadi pengusaha saya saja. Adik saya semua jadi pegawai negeri, satu dokter, dua masih kuliah di UGM, selebihnya pegawai negeri, Saya anak kedua

 

Sejauh mana figur ayah tertanam dalam hidup Anda?

Saya menjadikan ayah saya sebagai contoh dalam bekerja keras, tak pernah mengeluh tapi bagaimana bisa menghidupi keluarga. Jadi saya melihat figur pada bapak saya yang bertanggungjawab terhadap keluarga. Selain itu juga tegas dan displin. Bukan hal yang mudah, dengan profesi ayah dan ibu seperti itu harus menghidupi delapan orang anak. Saya anak ke dua. Ayah saya adalah inspirasi terbesarnya bagi saya untuk terus berjuang. Ayah yang membanting tulang sebagai buruh bangunan tidak pernah mengeluh dengan kondisi yang ada. Bahkan, saat sakit pun, ayah tetap bekerja agar dapat memenuhi  kewajiban menafkahi keluarga.

 

Bagaimana dengan peran ibu?

Mamak saya mengajarkan mandiri, telaten dan kreatif. Saya ini tak pernah berhenti berterima kasih kepada kedua orang tuanya. Walaupun tidak memberikan nafkah berkecukupan semasa kecil, tapi nilai-nilai yang ditanamkan kepada diri saya agar selalu bersikap jujur, mandiri dan kreatif menjadi modal utama bagi saya membangun bisnis. Bagi saya, orang tua adalah segala-galanya, melebihi bisnis yang saya tekuni.

 

Pendidikan orang tua sendiri?

Ayah saya itu tak tamat SD, dulu namanya sekolah rakyat, sedangkan ibu saya tak tamat SMP. Walau begitu, keduanya lancar membaca dan menulis dan pintar mengaji. Ibu saya malah lumayan pintar dalam hal matematika.

 

Mana yang paling berperan dalam mendidik anak-anak, ayah atau ibu?

Dua-duanya. Saya itu sejak kelas empat SD sudah mencari uang sendiri dengan berjualan kue. Itu keterpaksaan, kalau ngga gitu ngga bisa sekolah. Itu semua juga berlaku untuk adik-adik saya. Jadi kata ibu saya “Kalu mau sekolah ya harus cari duit”. Jadi opsi-opsi itu diberikan.

 

Bagaimana dengan lingkungan pergaulan?

Lingkungan saya sendiri adalah lingkungan kacau. Sejak SMP saya sudah hidup di terminal sebagai kenek angkot dan lantas jadi supir, pernah berkelahi, dan ngalamin minum alkohol. Lingkungan saya lingkungan keras, tapi saya ingin mengatakan, bahwa keberhasilan seseorang itu tak tergantung dari sekolah yang dia jalani dan bagaimana lingkungan pergaulannya, tapi tapi tergantung dari dia sendiri dan pndidikan di rumah oleh orang tua. Bagi saya, anggapan bahwa untuk berhasil itu harus bersekolah di sekolah tertentu yang mahal itu tidak bisa begitu, ngga bisa menejamin kualiatas orang itu. Yang bisa menjamin itu dirinya sendiri dan lingkungan keluarganya. Pembentukan karakter itu bukan di sekolah, tapi di rumah oleh orang tua. Yanuar Jatnika

 

Selesai

 

Berita Terkait:

Bahlil Lahadalia, Jadi Pengusaha Melalui Ajaran Orang Tua (Bag 1)

H. Nurjani: Hidup Miskin Tak Harus Menyerah (Bag.2)

H. Nurjani : Hidup Miskin, tapi 8 Anaknya Berprestasi (Bag 3)