Rabu, 13 December 2017

Keluarga Hebat

H. Nurjani : Hidup Miskin, tapi 8 Anaknya Berprestasi (Bag 3)

30 Oct 2017 12:04:04


H. Nurjani : Hidup Miskin, tapi 8 Anaknya Berprestasi (Bag 3)

SAHABAT KELUARGA- Keluarga almarhum Lahadalia- H.Nurjani sejatinya bukan asli Fak Fak, Papua Barat. Nenek moyangnya berasal dari Sulawesi Tenggara namun merantau ke Kepulauan Banda, Maluku Tengah. Dari delapan anaknya, enam orang lahir di Banda, sedangkan dua anak terakhir lahir di Fak Fak. Kepindahannya ke Fak Fak terjadi saat terjadi erupsi Gunung Banda Api pada April tahun 1988.

Pindah ke Fak Fak, mereka sempat numpang beberapa waktu di salah seorang keluarganya yang sebelumnya sudah menetap di Fak Fak. Namun karena membawa enam orang anak, tak mau merepotkan keluarga yang ditempati, mereka sekeluarga pindah ke sebuah gudang milik otoritas Bandara Torea.

“Sembari ngerjain bangunan, bapaknya anak-anak kan sering cerita soal rumah tangganya dan tempat tinggalnya. Ada pegawai Bandara Torea yang bersimpati akhirnya menawarkan sebuah gudang di pinggir jurang dekat Bandara untuk ditempati, “kata Nurjani saat berbincang-bincang dengan Sahabat Keluarga pertengahan Oktober 2017 lalu di beranda rumahnya.

Sempat beberapa bulan tinggal di gudang itu, dari hasil tabungan sedikit demi sedikit memaksakan diri belum tanah sedikit di daerah puncak Fak Fak. “Di gudang dekat Bandara itu kan jauh dari sekolah anak-anak, kasihan, kami memaksakan diri pindah ke dekat sini, beli tanah sedikit terus dibangun gubuk-gubukan, lumayan lah dekat ke sekolah anak-anak, “kata Nurjani.

Dari rumah itulah Nurjani dan suaminya berjuang menyekolahkan anak-anaknya agar bisa hidup lebih baik. Namun, anak pertamanya, Sadali, sempat ikut saudaranya dalam waktu lama sehingga otomatis Bahlil Lahadalia menjadi anak tertua yang membantu orang tuanya ikut mengawasi adik-adiknya.

“Saya kan pergi pagi, siang pulang sebentar, terus berangkat lagi sampai jam 6 sore. Sehingga di rumah hanya ada anak-anak, yang besar ngawasin yang yang kecil. Tidak boleh ada yang main-main di luar rumah kalau ngga perlu sekali. Anak-anak saya itu bermain hanya saat jam istirahat di sekolah, di jam itulah mereka bisa bermain dan bergaul dengan teman-temannya, “jelasnya.

Soal belajar, dituturkan Nurjani, dilakukan saat setelah Maghrib. Anak-anak yang sudah bersekolah dikumpulkan di ruang tengah. Hanya dengan penerangan lampu pelita (Lampu minyak) karena saat itu listrik belum masuk, Nurjani meminta anak-anaknya membaca dan mempelajari lagi pelajaran yang sudah diajarkan di sekolah sampai jam 9 atau 10 malam. Setelah itu, jam 3 dini hari bangun untuk kembali belajar sampai sebelum sholat Shubuh.

“Itulah cara belajar anak-anak saya yang saya dorong. Dengan pola belajar seperti itu, setiap ulangan, mereka dapat sepuluh karena kalau sebelum tidur kita baca kita pelajari, terus tidur, nah saat bangun kan masih ingat pelajaran yang tadi. Anak-anak saya tidak ada yang ikut kursus atau les ini dan itu. Kondisi ekonomi kan tidak memungkinkan, “jelasnya.

Dengan dorongan seperti itu, ke delapan anak anaknya selalu berprestasi sejak di sekolah dasar sampai SMA dan SMK. Namun yang paling berprestasi dan bersemangat tinggi, menurut Nurjani, adalah Bahlil.

“Bahlil itu selalu berprestasi di sekolah. Ia juga paling semangat untuk maju. Saat SD bantu orang tuanya jualan kue. Sedangkan saat duduk di bangku SMP sampai SMK, jadi kenek angkota di Fak Fak. Sekolahnya kan siang, pagi harinya jadi kenek angkot. Pulang sekolah kembali jadi kenek sampai jam 10 malam, “kata Nurjani bangga.

Dalam hal memberi motivasi untuk maju, Nurjani dan suaminya selalu memberi nasihat dengan lemah lembut, tidak dengan suara keras, apalagi membentak-bentak atau mengancam. Keduanya kerap memberi contoh dan gambaran, bahwa kalau masih muda malas-malasan maka bagaimana akhirnya setelah besar dan berumah tangga.

Keduanya selalu mengingatkan, cukup mereka berdua saja yang menderita karena tidak punya kesempatan untuk sekolah. Sedangkan anak-anak harus sekolah setinggi mungkin karena dengan sekolah akan punya pengalaman dan pengetahuan yang cukup untuk bekal menjalani hidup lebih baik. “Mungkin anak-anak berpikir, itu masuk akal. Alhamdulillah, anak-anak patuh pada apa yag kita kasih nasehat. Hanya itu nasehat kami pada anak-anak, “katanya.

Dari delapan anaknya, hanya dua orang, yakni dua yang terakhir yang setamat SMA langsung kuliah. Sedangkan kakaknya yang enam orang, setamat SMA bekerja dulu sebelum akhirnya melanjutkan kuliah.

Berkali-kali Nurjani menyatakan kebahagiaan dan kebanggaannya pada Bahlil. Menurutnya, Bahlil lah yang memulai mengangkat derajat orang tua dan adik-adik serta kakaknya. Setelah lulus kuliah dan bekerja, Bahlil lah yang membiayai kuliah adik-adiknya, bahkan kakaknya yang awalnya hanya berstatus honor di Dinas Pertanian Fak Fak. “Bahlil bilang pada kakaknya, bahwa kalau hanya tamatan SMA ngga akan jadi apa-apa bahkan ada kemungkinan dikeluarkan, akhirnya kakaknya menurut untuk kuliah dengan dibiayai Bahlil, “ujar nenek dari 18 cucu itu.

Tak sekedar membiayai kuliah adik-adiknya, malahan Bahlil juga membiayai pernikahan adik-adiknya, terutama yang perempuan. Bahlil juga yang lantas membiayai ibunya untuk beribadah ke tanah suci serta membangun rumah yang permanen seperti yang ditempati sampai saat ini.

“Jadi kata Bahlil, kalau nanti suatu saat anak-anak pada berkumpul, rumah ini bisa menampung semuanya, anak, menantu, dan cucu, “katanya. Yanuar Jatnika

Bersambung

 

Berita Terkait:

Bahlil Lahadalia, Jadi Pengusaha Melalui Ajaran Orang Tua (Bag 1)

H. Nurjani: Hidup Miskin Tak Harus Menyerah (Bag.2)

Bahlil Lahadalia: Karakter itu Dibentuk di Keluarga (Bag 4-Selesai)