Rabu, 13 December 2017

Keluarga Hebat

H. Nurjani: Hidup Miskin Tak Harus Menyerah (Bag.2)

30 Oct 2017 12:00:28


H. Nurjani: Hidup Miskin Tak Harus Menyerah (Bag.2)

SAHABAT KELUARGA- Bercerita di beranda rumahnya yang sedang sibuk mempersiapkan pernikahan anaknya yang ke enam, H. Nurjani (63) menceritakan jejak langkahnya mendidik delapan anaknya yang penuh perjuangan dan pengorbanan. Betapa tidak, suaminya, almarhum Lahadalia hanyalah seorang tukang bangunan dengan upah harian yang tak selalu mendapatkan pekerjaan. Sementara H. Nurjani sendiri, membantu mencari nafkah hanya sebagai tukang cuci gosok di sekitar 8 rumah di sekitar Fak Fak.

“Pagi sekali saya berangkat. Siang pulang dulu ke rumah terus berangkat lagi ke rumah berikutnya sampai pukul 6 sore, “kata Nurjani yang walaupun hanya lulusan SD namun terlihat sebagai wanita tangguh, sedikit punya wawasan, dan punya semangat tinggi.

Perjuangan Nurjani kian berat sejak tahun 1999, sejak suaminya, Lahadalia, mulai sering sakit-sakitan yang akibatnya sering tidak bekerja yang artinya secara otomatis biaya sehari-hari harus dicari oleh Nurjani.

“Suami saya itu kan kuli bangunan, setiap hari mengaduk semen dan pasir. Karena sering mengisap serbuk semen dan debu, paru-parunya kena. Sembuh satu hari, 4 hari sakit, begitulah sampai meninggal tahun 2010 lalu, “ kenang wanita kelahiran Banda ini.

Padahal, lanjutnya, saat ayahnya sudah sakit-sakitan, Bahlil masih kuliah dan baru lulus tahun 2002, sedangkan adik-adiknya masih ada yang SMA, SMP, dan SD. “Kakak Bahlil, yakni anak tertua, setelah lulus SMK, jadi tenaga honor dulu di Dinas Pertanian Fak Fak, sebelum akhirnya kuliah dibiayai Bahlil, “katanya.

Walau begitu, di tengah himpitan kesulitan ekonomi, Nurjani tetap semangat dan berkomitmen untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai tamat SMA. Sedangkan untuk melanjutkan kuliah, Nurjani menegaskan pada anak-anaknya untuk mencari biaya sendiri.

“Saya sekolahkan anak-anak sampai SMA. Saya minta kalau mau kuliah nyari uang sendiri, mama hanya bisa mendoakan, “ujarnya.

Baginya, menyekolahkan anak-anaknya sampai tamat SMA itu suatu keharusan, bahkan ia mengaku keras sama anak-anaknya. Ia dan suaminya tak ingin anak-anaknya hidup menderita seperti orang tuanya.

Untuk membiayai pendidikan anak-anaknya, Nurjani banting tulang melakoni profesi sebagai tukang cuci gosok di rumah-rumah yang membutuhkannya. Dari upahnya sebagai tukang cuci gosok, ia membagi-bagi untuk keperluan sekolah anak-anaknya. “Dulu kan sekolah tidak gratis seperti sekarang. Jadi upah cuci gosok di sekitar 8 rumah, saya bagi habis untuk biaya sekolah, “kenangnya.

Sedangkan untuk kebutuhan sehari-hari, Nurjani membuat aneka kue dan jajanan pasar. Ada sekitar 6 jenis kue dan jajanan pasar yang ia buat setiap malamnya. Sedangkan anak-anaknya ia minta membantu membawanya untuk disimpan di warung sekolah dan warung-warung di pemukiman serta pasar. “Semua anak-anak saya kerahkan membawa kue itu sembari pergi sekolah, sorenya diambil. Dari situlah kami bisa hidup sehari-hari, “katanya.

Nurjani ingat, selama membuat kue-kue itu, dalam sehari hanya bisa tidur sekitar 1 jam dalam sehari. Sedangkan anak-anak mulai bangun sekitar jam 3 dini hari. Setelah belajar sebentar, mereka membantu ibunya mengemasi kue-kuenya dan dibagi-bagi untuk dibawa ke sekolah. “Untungnya, mereka tak pernah mengeluh, bahkan rebutan kue-kue untuk dibawa, “katanya.

Nurjani mengaku beruntung memiliki anak-anak yang tidak banyak menuntut, baik itu makan maupun pakaian. Sehari-harinya, tak jarang mereka hanya makan nasi dengan garam dan sedikit sayuran. Begitu pula dengan pakaian. Karena jarak umur anak-anak Nurjani tidak terlalu berjauhan sehingga satu pakaian bisa dipakai gantian.

“Baju pramuka misalnya, kan tidak semua anak memakai baju pramuka bersamaan, jadi hari ini dipakai Bahlil, besok dipakai kakak atau adiknya, jadi gantian. Begitu pula dengan pakaian di rumah, ya..gantian, “katanya.

Ada cerita tentang sepatu sekolah. Anak-anaknya kerap mengeluh karena sepatu bagian bawahnya sudah robek-robek sehingga ada istilah mereka pergi ke sekolah dengan menginjak aspal. Menanggapi keluhan anak-anaknya itu, Nurjani hanya bisa menasehati, bahwa untuk sepatu, yang penting bagian atasnya masih terlihat bagus. “Anak-anak saya sering bilang, mah, sepatunya sudah robek, saya bilang, ngga apa-apa, kan atasnya masih bagus, bawahnya kan ngga kelihatan, “ kenangnya.

Satu hal yang ia ingatkan pada anak-anaknya, dengan kondisi apapun, pantang untuk meminta bantuan pada saudara-saudara atau tetangganya, termasuk melarang anak-anaknya makan di rumah orang lain.

“Saya pikir, menerima bantuan orang lain itu, meskipun saudara, mungkin saat bantu ia ikhlas, tapi sehabis itu, ngomong kiri kanan. Karena itu, sekalipun kita miskin, kita harus bisa makan dan hidup dengan keringat kita sendiri, tidak minta bantuan orang lain. Itu prinsip saya dan bapaknya anak-anak,” tegasnya. Yanuar Jatnika

Bersambung

 

Berita Terkait:

Bahlil Lahadalia, Jadi Pengusaha Melalui Ajaran Orang Tua (Bag 1)

H. Nurjani : Hidup Miskin, tapi 8 Anaknya Berprestasi (Bag 3)

Bahlil Lahadalia: Karakter itu Dibentuk di Keluarga (Bag 4-Selesai)