Rabu, 13 December 2017

Sekolah Keren

SDN 101903 Lubuk Pakam Raih Prestasi Melalui Paguyuban Orang Tua

02 Oct 2017 12:06:55


SDN 101903 Lubuk Pakam Raih Prestasi Melalui Paguyuban Orang Tua

SAHABAT KELUARGA- Tahun 2014 menjadi titik awal bagi SD Negeri 101903 Bakaran Batu, Kecamatan Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, untuk menjadi sekolah yang diperebutkan para orang tua sebagai sekolah tempat anak-anaknya menuntut ilmu.

Bermula dari niat menyukseskan program Sekolah Adiwiyata yang digagas Kementerian Lingkungan Hidup pada 2014, sekolah dasar yang berlokasi di jalan Cempaka Desa Bakaran Batu, Kecamatan Lubuk Pakam, itu, lantas menggerakan para guru, komite sekolah, masyarakarat, dan orang tua siswa.

Sekolah Adiwiyata adalah salah satu program Kementerian Lingkungan Hidup dalam upaya rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dahulu dalam upaya pelestarian lingkungan hidup.

Berbagai pihak tersebut bersama-sama dengan penuh keikhlasan menciptakan sekolah yang bersahabat dengan lingkungan, seperti menanam berbagai pohon, dan bunga di kompleks sekolah, membuat lubang biopori, membersihkan sampah, dan sebagainya. Mereka juga menciptakan budaya sadar lingkungan untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Hasilnya, tahun 2014 itu, SD yang berlokasi tak jauh dari Bandara internasional Kualanamu itu menjadi salah satu penerima penghargaan Adiwiyata tingkat Kabupaten. Penelusuran Sahabat Keluarga, pada tahun 2014 itu, sebanyak 111 sekolah di kabupaten Deli Serdang tercatat sebagai penerima penghargaan sebagai Sekolah Adiwiyata dengan rincian 70 sekolah Adiwiyata Kabupaten, 28 Sekolah Adiwiyata Provinsi dan 13 sekolah penerima Adiwiyata Nasional.

Tak puas dengan meraih Adiwiyata tingkat kabupaten, pada tahun berikutnya, tahun 2015, prestasi sekolah tersebut meningkat menjadi penerima Adiwiyata tingkat propinsi.

Pada tahun yang sama, SD 101903 menjadi salah satu sekolah percontohan pendidikan keluarga yang diselenggarakan Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sekolah tersebut bahkan ditetapkan sebagai sekolah inti pendidikan keluarga. Sebagai sekolah inti, SD yang saat ini dipimpin Ibu Sumarti Ningsih M. Pd. berkewajiban menularkan pendidikan keluarga pada sekolah-skeolah dasar di wilayahnya.

Terakhir, tahun 2016, SD 101903 juga ditetapkan sebagai sekolah ramah anak (SRA) yang digelar Kementerian Perempuan dan Perlindungan Anak.

Sumarti Ningsih yang kerap dipanggil Nining mengakui, dirinya mulai tergugah dan pikirannya terbuka untuk melibatkan orang tua siswa secara aktif sejak ditetapkan sebagai sasaran pembinaan pendidikan keluarga.

"Saya dorong orang tua siswa untuk bekerjasama dengan sekolah meningkatkan prestasi siswa dan membina karakter mereka. Salah satunya, kita buat buku penghubung dan menerapkan 7 S, yakni senyum, sapa, salam, sopan, santun, sigap, dan semangat, "kata Nining.

Sekolah tersebut juga sudah membentuk paguyuban orang tua, membuat ruangan perpustakaan yang juga merangkap ruang berkumpul para orang tua. " Di sini para orang tua bisa berdiskusi, membaca, atau menonton televisi, "katanya.

Diakuinya, saat pertama kali mengundang orang tua, pihaknya mengalami sedikit kesulitan, antara lain sedikitnya orang tua yang hadir, bahkan ada anggapan, bahwa undangan itu terkait soal sumbangan atau biaya pendidikan.

Namun, seiring dengan intensifnya komunikasi yang dilancarkan guru, dan lantas ditularkan dari orang tua satu ke orang tua yang lain, sedikit demi sedikit, para orang tua menyadari pentingnya dibentuk paguyuban orang tua. "Kuncinya adalah komunikasi. Kesadaran orang tua timbul bila kita rajin berkomunikasi dengan orang tua, "paparnya.

Sampai saat ini, paguyuban orang tua di SD 101903 semakin aktif berkomunikasi. Setidaknya sebulan sekali digelar senam pagi bersama, dan diselenggarakan outbond. Selain itu digelar kelas inspirasi yang menghadirkan narasumber dari salah seorang orang tua siswa. "Ketua paguyuban orang tua di sini adalah Pak Jufriadi, seorang pedagang jamu keliling. Ia sudah beberapa kali menjadi pembina upacara. Selain memberi motivasi, ia juga mengenalkan khasiat jamu bagi kesehatan dan mengajak para siswa dan guru untuk mencintai produk lokal, "papar Nining.

Menurut Nining, saat ini, semua kegiatan yang sifatnya non akademik selalu dikelola oleh paguyuban orang tua berkerjasama dengan komite sekolah. Contohnya, saat peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI lalu, para orang tua sepakat bekerjasama mengikuti lomba permainan tradisional antar sekolah dalam rangka outdoor classroom day atau hari belajar di luar kelas pada tanggal 7 September lalu.

"40 siswa ikut lomba itu, para orang tua bergotong royong melatih siswa, menyiapkan seragam dan mengumpulkan biaya untuk transportasi, akomodasi, dan sebagainya, "ujarnya.

Sebagai sekolah inti pendidikan keluarga, Nining kerap menjadi narasumber bagi sekolah-sekolah di sekitarnya untuk menyosialisasikan pentingnya keterlibatan keluarga di sekolah. Yanuar Jatnika

 

Berita terkait:

Zufriadi, Penjual Jamu Jadi Ketua Paguyuban Orang Tua