Jumat, 20 October 2017

Sekolah Keren

Wiwitan, Tanamkan Kearifan Lokal ke Siswa

28 Sep 2017 15:42:23


Wiwitan, Tanamkan Kearifan Lokal ke Siswa

SAHABAT KELUARGA – Wiwit atau wiwitan adalah sebuah tradisi yang hidup dalam akar budaya masyarakat Jawa. Di Jogjakarta, setiap kali akan melakukan panen pertama dilakukan tradisi wiwitan. Ritual masyarakat sebagai ungkapan rasa syukur pada Sang Pencipta atas panen yang telah tiba.

Upacara ini menggunakan uba rampe yang terdiri dari berbagai jenis tumbuhan dan jajanan pasar yang kesemuanya merupakan simbol-simbol dengan arti dan filosofi tersendiri.

Sebagai kearifan lokal, tradisi ini patut untuk dilestarikan dan dikenalkan ke generasi muda. Itu pula yang dilakukan oleh sekolah Sanggar Anak Alam (SALAM) di Nitiprayan, Bantul, Jogjakarta.

Perlu diketahui, sekolah ini berada di tengah-tengah di areal persawahan. Untuk menuju ke sekolah pun siswa dari SD hingga SMA harus melewati pematang sawah atau saluran irigasi. Tentu, beriringan dan bertemu dengan bapak dan ibu tani merupakan hal yang biasa.

Berangkat dari situ, SALAM sebagai bagian dari warga Nitiprayan, bersama kelompok tani Suka Tani Dusun VII Jomegatan, Nitiprayan serta didukung pula oleh Dinas Kebudayaan Bantul mengadakan acara Wiwitan atau Pesta Panen Raya pada 20 September 2017 lalu.

Dalam penyelenggaraannya, guru, siswa, orang tua siswa, dan petani di sekitar sekolah turut aktif sebagai peserta. Prosesi dimulai dari arak-arakan kirab gunungan dari rumah kepala dukuh setempat menuju sekolah. Di ujung saluran irigasi di dekat sekolah, simbolisasi Dewi Sri, yang diperankan oleh siswa, menunggu gunungan datang. Kemudian arak-arakan berlanjut menuju areal persawahan.

”Melibatkan siswa dan orang tua serta masyarakat sekitar sekolah dalam tradisi wiwitan ini. Upaya mengenalkan dan melestarikan tradisi serta kearifan lokal,” ujar Ketua Panitia Wiwitan dan Panen Raya Budi Widanarko, yang juga salah satu orang tua siswa.

Acara juga diisi dengan kesenian tradisional Gejug Lesung, Wayang Serangga dengan dalang Sih Agung. Kemudian ditutup dengan kembul bujana sego wiwit.

Tema yang diangkat adalah Eling Dewi Sri. Tema ini sebagai pengingat bahwa budaya warisan nenek moyang kita ini diciptakan bukan tanpa alasan. Namun supaya manusia terus mengingat untuk menjaga keseimbangan alam, tidak mengeksploitasi kekayaannya. Bahwa bumi dan isinya harus dipelihara, agar dapat diwariskan ke anak cucu nantinya.

Pendiri Sanggar Anak Alam Sri Wahyaningsih menambahkan, tradisi ini merupakan sarana nenek moyang dalam memberikan pembelajaran, yang tidak dapat ditangkap hanya dengan ketrampilan membaca teks tak bermakna saja. Tetapi memerlukan keterampilan membaca suasana, membaca situasi, dan membaca arti. ”Anak-anak pun dapat belajar dari acara tradisi ini,” ujarnya. (Reren Indranila)