Jumat, 20 October 2017

Berita

Smart Schools Online Dorong Anak Menjadi Nitizen Unggul

27 Sep 2017 16:10:06


Smart Schools Online Dorong Anak Menjadi Nitizen Unggul

SAHABAT KELUARGA – Dunia telah berubah, dimana dunia digital telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, baik secara ekonomi, sosial, budaya maupun politik.

Anak anak sekarang kita kenal sebagai “digital-native”, dimana sejak kelahiran, mereka telah terpapar oleh gencarnya perkembangan dunia digital ini, sehingga mereka sangat fasih belajar tentang perkembangan internet, animasi, komputer, dan segala yang terkait teknologi.

Tak dapat dipungkiri, dunia digital telah memberi begitu banyak manfaat serta kemudahan-kemudahan dalam kehidupan kita. Dari data APJII tahun 2016, pengguna internet di Indonesia saat ini berjumlah 132,7 juta, dimana 80% pengguna adalah anak-anak muda dari kategori 10 hingga 29 tahun.

Di tahun 2014, penelitian UNICEF melaporkan bahwa terdapat 30 juta anak anak Indonesia sebagai pengguna internet, dimana saat ini kemungkinan angka tersebut telah meningkat.

Walau masih ada kesenjangan digital antara anak/remaja di kota dengan mereka di pedesaan, perlu ada usaha keras untuk perlindungan anak di dunia internet. Hal tersebut mengingat banyaknya konten negatif yang ada di internet, yang memungkinkan anak-anak kita terpapar isu-isu anak/remaja, seperti cyberbullying, adiksi pornografi, adiksi online games, cybercrime, serta isu-isu lain yang terus menerus berkembang sebagai dampak dari berkembangnya dunia digital ini.

Salah satu peristiwa besar saat dikejutkan dengan ditemukannya “Lolly Candy Group” di Facebook beberapa waktu lalu. Grup yang merupakan kumpulan orang orang yang memanfaatkan foto-foto dan video-video anak untuk kepentingan yang negatif, dengan jumlah sekitar 7000 anggota, telah menjadikan anak sebagai objek eksploitasi mereka.

Menyadari kondisi anak yang rentan terhadap isu-isu online, maka SEJIWA, ICT Watch dan Ecpat Indonesia, sebagai anggota dari ID-COP (Indonesia Child Online Protection), melakukan kolaborasi untuk mengadakan  program pengembangan kapasitas literasi digital Smart Schools  Online (SSO).

Program yang akan dimulai di awal tahun 2018 ini akan hadir di sekolah-sekolah di beberapa kota dengan sasaran para guru, orang tua siswa serta peserta didik. Tujuannya agar mereka mampu mendampingi dan melindungi anak anak di era digital.

Dalam proyek percobaan ini, Google turut memberikan kontribusinya dalam mendukung pelaksanaan program ini. Program SSO mengusung slogan, ‘Aku Nitizen Unggul’, dimana anak anak yang menjadi target utama program ini diharapkan menjadi pengguna internet yang mampu menggunakannya untuk hal-hal yang positif.

Kegiatan ini sekaligus menjadi salah satu program dari “Siberkreasi”, yaitu gerakan nasional literasi digital, yang merupakan program multi-stakeholders untuk mempromosikan kondisi ideal masyarakat digital Indonesia dalam penggunaan internet dengan bijak.

Salah satu dukungan besar terkait program ini disampaikan oleh Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dr Sukiman, MPd. Menurutnya, literasi digital saat ini sangat mendesak untuk dilakukan di sekolah-sekolah.

“Saya menyambut baik SSO untuk menguatkan Literasi Digital di sekolah-sekolah. Usaha untuk melibatkan anak-anak dalam mengisi dunia maya dengan konten-konten positif, contohnya dengan mendorong anak mengkampanyekan isu-isu yang mereka alami atau amati lewat internet, bisa menjadi salah satu bahasan yang layak disampaikan kepada anak-anak. Rekomendasi anak juga layak kita dengar karena mereka ini lahir di era digital dan punya banyak ide bagaimana pemerintah dan para pendidik bisa lebih melindungi mereka dari dampak negatif di internet,” jelas Sukiman.

Sementara itu, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Semuel Abrijani Pangerapan, menyatakan, internet bermanfaat jika penggunanya dapat turut berpartisipasi dalam menjaga internet agar tetap positif.

Hal itulah yang kemudian mendorong Keminfo membentuk Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi. “Agar dapat mendorong seluruh warganet berkreasi untuk menciptakan konten-konten positif di internet, sehingga bersama dapat meminimalisir dampak negatif di internet. Program Smart Schools Online ini menjadi salah satu bentuk inisiasi yang tepat dalam jejaring Siberkreasi, karena akan mendorong salah satu elemen penting di masyarakat, yaitu sekolah, untuk pemanfaatan internet yang lebih baik,” jelasnya. 

Sedangkan Jasa Putra, Komisioner KPAI bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak mengapresiasi Smart Schools Online ”Sebagai upaya menghadirkan Perlindungan Anak di dunia maya, sehingga partisipasi, kreatifitas dan tempat curhat anak dalam menemukan jati dirinya bisa berlangsung aman dari predator anak” tegasnya.

Dukungan yang sama diberikan dari Valentina Ginting, Asdep Perlindungan Anak dari Situasi Pornografi dan Kedaruratan Bencana, KPPPA, “Kita tidak dapat menghindari era digital, dan yang harus dilakukan adalah menyiapkan “digital natives” untuk lebih cerdas dalam menggunakan internet,” katanya.

Acara ‘Smart Schools Online Kick Off’ ini dilaksanakan pada 23-24 September 2017 dengan 2 agenda, pertama, ‘Mendengar Suara Anak’, dimana seluruh acara diisi anak-anak, dan mereka memberikan rekomendasi kepada pemangku kebijakan tentang bagaimana dunia internet di seputar anak dapat aman dan sehat.

Tema kedua, ‘Aku Netizen Unggul’, yang diikuti oleh anak-anak, para penggiat digital dalam Siberkreasi, ID-COP, Parfi, serta Pemerintah.

Tujuan dari 2 acara “Smart School Online Kick Off” ini selain untuk mengawali rentetan kegiatan “Smart Schools Online” di sekolah-sekolah, juga sebagai bagian dari “Peta Jalan Perlindungan Anak Indonesia di Internet”, yang disusun oleh Kemenkominfo melalui konsultasi dengan berbagai pihak, termasuk anak anak.

Selain itu, dalam event ini, anak-anak mendapat kesempatan berbicara di hadapan publik untuk menyampaikan pendapat serta rekomendasi mereka kepada para pemangku kebijakan, tentang perlindungan anak di dunia internet.

Awalan SSO ini diharapkan membangkitkan antusiasme para pelajar dan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam gerakan literasi digital, menjadikan mereka sebagai “Netizen Unggul”. (Diena Haryana)