Sabtu, 18 November 2017

Usia SMA/SMK

Ajarkan Demokratis, Ajak Anak Berdiskusi

07 Sep 2017 12:51:41


Ajarkan Demokratis, Ajak Anak Berdiskusi

SAHABAT KELUARGA- Tahukah para orang tua? Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang dilontarkan pada anak untuk mengambil keputusan sangatlah bermakna. Saat anak dilibatkan dalam diskusi, hal itu sangat berarti bagi anak. Mengajak anak berdiskusi dan berpartisipasi dalam mengambil keputusan dapat membantu perkembangan jiwa mereka. Anak merasa dihargai, dicintai, dan disayangi.

Itu sebagian tulisan dari Latifah Maurinta Wigati di kompasiana yang ditayangkan pada 6 September 2017 lalu. Latifah adalah seorang remaja tunanetra, namun sukses menjadi penulis beberapa novel terbitan Mizan. Dara kelahiran 9 September 1997 ini juga produktif menulis esai dan cerita pendek, baik di media cetak maupun blog. Pada Hari Pers Nasional Tahun 2014 lalu, saat masih duduk di bangku SMA Negeri 6 Bandung, Latifah meraih juara pertama lomba penulisan artikel tentang energi alternatif. Kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Latifah juga aktif di paduan suara dan vocal grup mahasiswa.

Di bagian lain tulisannya itu, Latifah mengatakan:

.......Meski solusi dari si anak tidak sesuai ekspektasi orang tua, tetap libatkan mereka dalam diskusi. Jangan sampai mereka hanya menerima keputusan sepihak begitu saja.

Melibatkan anak dalam diskusi membuat mereka lebih aktif. Di samping itu, anak dapat belajar berkomunikasi dan mengemukakan pendapat. Kreativitas si anak dapat terpacu saat mereka diajak diskusi. Lewat diskusi, anak diajarkan untuk berpikir kreatif.

Terkadang orang tua merasa tak perlu melibatkan anak dalam diskusi. Alasannya macam-macam. Merasa anak masih terlalu kecil. Nalar dan logika anak belum terbentuk sempurna. Orang tua merasa punya hak dan otoriter penuh untuk memutuskan segala sesuatu. Orang tua yang lahir lebih dulu dari anak, merasakan bahwa anak tak perlu diajak diskusi dalam proses pengambilan keputusan.

Buat para orang tua, cobalah untuk melibatkan anak dalam diskusi. Tak ada ruginya meminta pendapat anak. Saat melibatkan anak dalam diskusi, lakukan hal-hal ini :

 

Ciptakan suasana nyaman

Diskusi lebih efektif dilakukan dalam suasana nyaman, hangat, dan penuh kekeluargaan. Buat anak merasa nyaman sebelum mengajak mereka berdiskusi. Setelah memastikan si anak merasa nyaman, perlahan-lahan ajaklah mereka pada diskusi dan proses pengambilan keputusan. Bila anak tak mengerti permasalahannya, jelaskan dengan sabar sampai mereka benar-benar paham. Jangan lelah untuk menjelaskan sesuatu pada anak. Biarkan jiwa dan pikiran mereka berkembang.

 

Dengarkan pendapat anak

Setelah anak mengerti, tanyakan pendapatnya. Dengarkan apa pendapat anak. Jangan memotong perkataan mereka. Beri mereka kesempatan untuk mengutarakan pendapat. Jangan buat mereka ragu dan takut. Sekali pun pendapat mereka kurang tepat, sebaiknya tidak boleh menghakimi atau langsung menyalahkan. Koreksi pelan-pelan, jangan memaksakan pembenaran pada anak. Hargailah pendapat mereka, meski tak sejalan dengan pemikiran kita.

 

Jangan pilih kasih

Bagi orang tua yang mempunyai anak lebih dari satu, janganlah pilih kasih dalam mengajak berdiskusi. Hanya karena satu anak jauh lebih rupawan, pintar, dan sukses dibandingkan anak lainnya, jangan sampai anak lain yang kualitasnya berada di bawah anak satu itu tak punya kesempatan untuk berdiskusi.

 

Hargailah pendapat tiap anak.

Dengarkan mereka, dan jangan banding-bandingkan mereka selama proses pengambilan keputusan. Setiap anak berhak mengeluarkan pendapat, bagaimana pun keadaan dan kemampuan mereka. Berikan hak yang sama pada setiap anak. Jangan menyabotase hak berpendapat yang mereka miliki. Buatlah mereka merasa nyaman, dihargai, dan dianggap bagian penting dalam keluarga. Jangan membangkitkan persepsi bahwa mereka tidak dianggap dan tidak diinginkan. Yanuar Jatnika