Selasa, 21 November 2017

Keluarga Hebat

Maria Erry Susianti, ibunda Asma Nadia (4-Habis) – Peran Ayah dan Lahirnya Keluarga Penulis

15 Jul 2017 00:06:19


Maria Erry Susianti, ibunda Asma Nadia (4-Habis) – Peran Ayah dan Lahirnya Keluarga Penulis

SAHABAT KELUARGA – Kesuksesan Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia menjadi penulis novel terkenal tak hanya berasal dari ibunya, Maria Erry Susianti. Ada peran besar juga dari ayahnya, Amin Usman, dalam mendukung kedua anaknya tersebut.

Diceritakan Maria, sebagai musisi yang melahirkan banyak karya, suaminya termasuk sosok yang sibuk. Namun, ayah dari tiga anaknya itu tidak pernah absen untuk memantau perkembangan anak-anak.

Mereka saling berdiskusi mengenai pendidikan anak-anak. Ayahnya juga suka bercerita dan berdiskusi dengan anak-anak terkait apapun.

”Di rumah, semua dilatih untuk terbiasa mengemukakan pendapat, Kebenaran tidak selalu datang dari satu arah yaitu orang tua. Kami belajar menjadi orang tua yang bahagia mendengar ragam kisah, pengetahuan, bahkan mungkin kritik dari anak-anak kami,” beber Maria.

Ayahnya juga kerap melibatkan anak-anak dalam hal pekerjaannya. Dikisahkan Maria, begitu mengetahui anak-anak suka menulis dan bercerita, suaminya lantas melibatkan anak-anak dan berdiskusi dengan mereka saat menciptakan lagu.

”Suami saya akan bertanya ke anak-anak, ‘Bagaimana syair lagu ini menurut kalian?’ Atau, “Papa punya nada lagu baru nih, coba kita semua bikin syairnya yuk!;,” kenang Maria.

Kolaborasi baik antara ayah dan ibu dalam mendidik anak-anak yang diterapkan Maria dan Usman nyatanya telah melahirkan dua sosok hebat di bidang literasi. Semuanya tentu tidak instan dan proses yang dilalui pun tidak mudah.

Helvy kini penulis 55 buku, dosen sastra dan penulisan kreatif, juga produser film. Lewat Forum Lingkar Pena yang ada di 150 kota, ia dan kawan-kawannya berkomitmen membidani kelahiran banyak penulis baru di Indonesia dan mancanegara.

Asma telah menulis 80 buku, membangun lebih dari 300 rumah baca di seluruh Indonesia, dan kerap diundang ke lebih dari 60 negara.

Karya-karya Helvy dan Asma juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman, India, Perancis, Arab, Swedia, dan Korea serta diangkat menjadi film layar lebar dan dibuat dalam versi sinetron.

Jutaan orang telah mengikuti berbagai workshop menulis yang sering mereka adakan di berbagai Indonesia. Keduanya juga sering mendapat penghargaan baik nasional dan international. Mereka juga tercatat sebagai 1 dari 500 tokoh muslim paling berpengaruuh di dunia versi RISCC, sebuah lembaga riset di Jordan.

Sedangkan si bungsu, Aeron Tomino, meskipun namanya belum terkenal seperti kakaknya, tapi juga menggeluti bidang membaca dan menulis. Aeron membantu usaha sang kakak di bidang penerbitan.

Tak hanya tiga anaknya, kebiasaan membaca dan menulis juga turun pada cucu-cucunya. ”Faiz dan Salsa merupakan salah satu pelopor seri KKPK Mizan. Mereka masing-masing menulis lebih dari 10 buku. Ada cucu saya, Adam, pemain bola di Spanyol, tapi ia juga penulis. Ia bahkan menulis buku antologi cerpen bersama saat ia baru berusia 5 tahun,” beber Maria.

”Salsa membentangkan makalahnya sampai ke Lonton tentang persoalan hukum. Nadya yang baru berumur 10 tahun bilang pada saya, ‘Oma, membaca dan menulis bagiku adalah kebutuhan, seperti aku butuh makan, minum dan bernapas.’ Saya kaget tapi sangat bahagia,” lanjut nenek dengan 6 cucu ini.

Maria mengungkapkan kebanggaan bahwa anak-anaknya berhasil bukan karena prestasi pribadi mereka, tapi karena dengan prestasi itu mereka telah peduli dan berbagi inspirasi dengan banyak orang. *Habis (Bunga Kusuma Dewi)

“Pada akhirnya mereka tak lagi menganggap kegiatan membaca dan menulis sebagai kewajiban, melainkan kebutuhan. Membaca dan menulis yang diawali dari kebiasaan akhirnya menjadi budaya,”