Sabtu, 18 November 2017

Keluarga Hebat

Fransisca Romana Sumiyati, Penjual Soto dengan 10 Anak Berhasil (1) - Terapkan Jam Belajar Disiplin

11 Jul 2017 09:04:41


Fransisca Romana Sumiyati, Penjual Soto dengan 10 Anak Berhasil (1) - Terapkan Jam Belajar Disiplin

SAHABAT KELUARGA – Setiap hari Raya Natal menjadi moment spesial bagi keluarga pasangan Yohanes Kirno Suprapto (almarhum) dan Fransisca Romana Sumiyati di Klaten, Jawa Tengah. Saat itulah seluruh anak-anaknya berkumpul untuk merayakan Natal.

Ada yang spesial, seluruh anak perempuan menggunakan baju cantik dengan motif seragam. Bukan karena beli di toko yang sama, tapi sang bunda, Fransisca atau akrab disapa Sumiyati, membuatkan sendiri baju-baju cantik untuk empat anak perempuannya.

Di hari Natal itu, seluruh keluarga berkumpul untuk berdoa bersama kemudian menyantap hidangan sederhana. Kebiasaan puluhan tahun lalu terus terjaga hingga saat ini. Meski ayahnya telah tiada, 10 anak Sumiyati masih menjaga ritual hari raya dengan berkumpul bersama.

Bedanya, momen kumpul semakin lengkap dengan cucu-cucu yang menampilkan pertunjukan untuk menghibur anggota keluarga. Kenangan tentang momen Natal di masa kecil itu tak pernah dilupakan oleh 10 anak Sumiyati hingga saat ini.

Masa lalu yang sederhana membuat mereka selalu bersyukur dengan pencapaian kesuksesan 10 anak yang dilahirkan Sumiyati hingga saat ini.

Memiliki anak banyak tentu bukan hal mudah bagi Sumiyati dalam memenuhi seluruh kebutuhan keluarganya. Apalagi ketika itu dia hanya mengandalkan penjualan soto ayam yang dibuka di pelataran rumahnya dekat alun-alun Klaten. Sementara suaminya membuka kios kecil reparasi jam persis di sebelah tokonya.

Pendidikan Sumiyati hanya sampai SMP dan tidak sempat lulus, namun dia memiliki keahlian berhitung yang sangat baik. Karena itulah, selain meracik bumbu soto, dia juga berperan sebagai kasir. Tak butuh mesin penghitung dalam menentukan jumlah harga yang dikonsumsi pelanggannya. Sumiyati akan menghitung cepat hanya dengan tulisan tangan.

Suaminya pun demikian. Pria yang tak pernah lulus SD ini memiliki keahlian memperbaiki jam. Keahlian tersebut dia peroleh dari tetangganya seorang warga negara Belanda.  

Hampir setiap hari Sumiyati membuka warung Soto. Setiap hari juga dia melihat puluhan pegawai berseragam rapi makan atau melintas di depan rumahnya. Terbersitlah dari dalam hati Sumiyati menginginkan agar anak-anaknya kelak dapat menjadi pegawai berseragam rapi tersebut.

”Saya nggak sekolah tinggi, kalau lihat pegawai lewat, kok kayaknya cakep-cakep. Saya ingin anak-anak saya seperti mereka. Kalau ingin jadi seperti itu kan ya anak-anak harus sekolah dengan baik dan pendidikan tinggi,” kenang Sumiyati ditemui di kediaamannya di Desa Nginas Baru, Barenglor, Klaten Utara.

Berlandaskan mimpi itu, Sumiyati lantas menerapkan jam belajar disiplin untuk 10 anaknya. Ditengah kesibukannya berjualan dan mempersiapakan bahan-bahan jualan, Sumiyati dan suaminya berkomitment untuk mendidik anaknya dengan baik.

Hasilnya, tanpa dikomando orang tua, setiap jam 6 sore, semua anak-anaknya sudah mengerti untuk belajar. ”Ibu nggak pernah teriak-teriak untuk belajar. Hanya dengan mengacungkan jari, semua langsung mengerti dan langsung pulang ke rumah. Kami pasti siap di tempat belajar jam 6 sore,” kata Dra. Veronica Sri Wigiarti, putri pertama Sumiyati.

Jam belajar ini menurut Sumiyati menjadi komitment kuat antara dia dan suaminya dalam mendidik 10 anak. Menurutnya, dengan menerapkan jam belajar, anak-anaknya dapat mengerti bahwa dalam belajar harus fokus dan tidak boleh terpengaruh apapun.

Tempat belajar untuk anak-anak pun disediakan dengan baik. Sebuah meja panjang menempel ke dinding disediakan untuk 10 anak. Saat jam belajar, semua anak duduk memenuhi meja tersebut. ”Bapak ibu tidak mengajari kami, tapi hanya menemani kami. Bapak membaca koran, sedangkan Ibu selalu membaca buku doa, mendoakan anak-anaknya. Bapak Ibu juga tidak menyalakan televisi karena takut konsentrasi anak-anak belajar terganggu. Jadi mereka hanya duduk menemani,” kata Veronica.

Rutinitas malam diawali dengan makan malam bersama, kemudian belajar dari pukul 18.00 hingga pukul 21.00. Selanjutnya diisi dengan menonton bersama Dunia Dalam Berita di TVRI. "Bapak Ibu selalu menyarankan kami melihat berita supaya wawasannya luas," tambah Veronica.

Selain kebiasaan menonton berita, kedua orang tuanya juga sangat mendukung kebiasaan membaca untuk 10 anaknya. Apapun bacaannya, yang terpenting kebiasaan membaca terbangun di keluarga mereka. Bahkan, kedua orang tuanya memberi uang jajan ekstra kepada anak-anaknya untuk menyewa buku di Taman Bacaan.

"Karena kalau membeli harganya mahal. Membaca selain membuka wawasan juga untuk hiburan positif. Bacaan favorit kami cerita detektif. Terkadang kami juga punya kesempatan pinjam buku bacaan tetangga kami yang mampu membeli," kata Dr. Christina Erma Triawati, ST., MT, putri kesembilannya yang pada Februari 2015 lalu menerima gelar Doktor dari Universitas Gunadarma, Depok, Jawa Barat.

Sumiyati agak keras dengan jam belajar anak-anak. Saat jam belajar tiba, Sumiyati tak segan-segan meminta teman anak-anaknya itu untuk kembali ke rumahnya masing-masing. ”Saat jam belajar itu, tidak boleh ada anak yang main ke tempat kami. Kami juga sudah tahu diri untuk tidak bermain-main lagi. Nilai positifnya, saat belajar harus fokus dan tidak boleh main,” tambahnya.

Karena tingkat pendidikannya yang rendah, Sumiyati dan suaminya juga tidak bisa mengajari anaknya tentang pelajaran sekolah. ”Saya yang mengalami kesulitan belajar, terutama matematika, karena tidak ada yang bisa saya tanyakan dan tidak ada yang mengajari saya. Ya akhirnya memang nilai saya selalu cukup terus,” kenang Veronica. *Bersambung ke Fransisca Romana Sumiyati, Penjual Soto dengan 10 Anak Berhasil (2) – Hidup dalam Kesederhanaan  (Bunga Kusuma)