Minggu, 17 December 2017

Keluarga Hebat

Nelce, Ibu George Saa yang Jungkir Balik Atur Keuangan Keluarga (4)

15 Jun 2017 15:13:49


Nelce, Ibu George Saa yang Jungkir Balik Atur Keuangan Keluarga (4)

SAHABAT KELUARGA- Pembagian peran antara ayah dan ibu dalam mengelola rumah tangga memang sangat penting dalam menjamin keberlangsungan kehidupan sebuah keluarga.

Contohnya adalah keluarga Silas Saa dan Istrinya, Nelce Wofam. Mereka memiliki lima anak. Apulena Dominant Trees Saa, puteri sulung Silas, mengikuti jejak ayahnya. Ia adalah Sarjana Kehutanan lulusan Universitas Cendrawasih. Franky Albert Saa, putera kedua, saat ini tengah menempuh Program Magister Manajemen pada Universitas Cendrawasih. Yopi Mesak Sapilih Saa, putera ketiga, adalah mahasiswa kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Jakarta. Agustinus Saa, putera keempat, mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Negeri Papua, Manokwari.

Yang bungsu, Septinus George Saa, saat ini sedang melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Birmingham, Inggris. Sebelumnya, George menamatkan S1 nya di jurusan aerospace engineering di Florida Institute of Technology, Florida, Amerika Serikat.

Silas Saa merupakan pensiunan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Sorong Selatan periode 2003-2008. Sebelumnya, Silas sempat berpindah-pindah penugasan di Sorong, Biak, Merauke, Manokwari, dan Jayapura.

Saat ditemui di rumahnya di Kompleks Kehutanan Lama ‘Dwikora” Distrik Teminabuan, Sorong Selatan, Nelce sempat menuturkan pengalaman hidupnya mengelola keuangan rumah tangga selama anak-anaknya bersekolah sejak SD sampai kuliah.

Meskipun sempat menjadi kepala dinas kehutanan Kabupaten Sorong Selatan, Kehidupan ekonomi keluarga Silas Saa bisa dikatakan gali lubang tutup lubang.

George malah lebih senang menyebut ayahnya petani ketimbang pegawai. Sebab, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ayah dan ibunya dan dibantu kelima anak mereka, harus mengolah ladang, menanam umbi-umbian untuk menambah penghasilan keluarga.

Kakaknya George atau anak keempat Silas, Agustinus, menuturkan, ayahnya hanya berperan mencari nafkah dan memutuskan hal-hal yang besar dalam urusan keluarga. “ Untuk urusan pengelolaan keseharian, Mama paling berperan. Saya tidak bisa bayangkan. Bagaimana keberlangsungan pendidikan kami bila tidak ada Mama, “kata Agustinus.

Dikatakannya, gaji ayahnya hanya cukup untuk biaya pendidikan dan biaya hidup kira-kira setengah bulan. “Baru sejak jadi kepala Dinas, ada tunjangan ini dan itu, serta fasilitas lainnya. Sebelumnya, sebagai eselon 4 kemudian 3, hanya mengandalkan gaji saja, “katanya.

Dalam kesempatan itu, Nelce menceritakan suka dukanya mengelola keuangan keluarga dan melakukan gali lobang tutup lobang. “Oleh orang sekitar kami, saya sering disebut ibu seribu rupiah. Mengapa? Karena dulu, waktu anak-anak masih sekolah di SD sampai SMA di Jayapura, mereka masing-masing hanya diberi uang Rp 1000 untuk ongkos taksi (Angkot) pulang pergi, sekitar tahun 1990-an, “kenangnya.

Uang itu, diperoleh Nelce dengan berbagai cara, salah satunya meminjam uang ke bagian bendahara kantor suaminya, Silas Saa. “Saya sering ke kantor suami untuk meminjam uang yang dibayarnya dengan memotong uang perjalanan Bapak, “katanya.

Cara lain, mereka punya sedikit lahan di Jayapura, yakni lahan milik masyarakat adat yang bisa dikelola bersama. Keluarga Silas menanam berbagai macam sayuran, sebagian dikonsumsi, sisanya dijual ke pedagang.

“Setiap saya dapat uang, entah pinjam atau dari hasil jual sayur, harus dibagi-bagi secara ketat kepada kelima anak selain untuk beli buat makan, “katanya.

Nelce mengenang, setelah lewat tanggal 15 setiap bulan, anak-anaknya diingatkan untuk siap-sipa hanya makan tahu, tempe atau sayur, dan menunda dulu keinginan untuk makan ikan apalagi daging.

Beruntung, Silas Saa punya kegemaran berburu ikan di sungai dan laut, sehingga sering membawa pulang ikan untuk dimakan. “ Mungkin itu, secara tidak sadar, mengonsumsi ikan itulah yang mungkin membuat anak-anak pintar, padahal kesehariannya, sama saja makanan di rumah, “kata Silas. Yanuar Jatnika