Jumat, 20 October 2017

Sekolah Keren

"Motekar", Paguyuban Orang Tua di SLB Negeri B Garut (2)

15 Jun 2017 09:18:38


SAHABAT KELUARGA-Kemitraan antara orang tua siswa dengan pihak sekolah sudah terjalin di SLB Negeri B Kabupaten Garut. Setiap harinya, beberapa orang tua siswa menunggu anak-anaknya. Memanfaatkan keberadaan para orang tua itu, pihak sekolah lantas mengajak para orang tua berdiskusi tentang hal ihwal pengasuhan anak.

“Kami juga sudah lama menerbitkan semacam buku panduan mendidik dan mengasuh anak berkebutuhan khusus yang akan jadi pegangan orang tua di rumah, sehingga ada kesamaan dengan sekolah dalam mendidik dna mengasuh anak, “kata Tati Narwati, salah seorang guru senior di SLB Negeir B kabupaten Garut, saat dikunjungi Sahabat Keluarga beberapa waktu lalu.

Diakui Tati, bantuan penyelenggaraan pendidikan keluarga dari Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga kian mempertegas kemitraan itu. Menurutnya, sekolahnya sudah menerima dua  jenis bantuan, yakni penyelenggaraan pendidikan keluarga dan penguatan. Salah satu hasilnya yaitu sebuah ruangan seukuran sekitar 3 x 3 meter di halaman depan sekolah disulap menjadi ruang paguyuban orang tua. Di ruangan itu, nampak buku-buku parenting, foto-foto dokumentasi, dan berbagai produk kerajinan buatan siswa.

“Paguyuban orang tua itu kami beri nama ‘Motekar’ yang diambil dari bahasa Sunda yang maknanya kira-kira kreatif, gigih, berusaha memperbaiki nasib, “ujarnya.

Ada banyak manfaat dengan keberadaan paguyuban orang tua itu. Contohnya, seperti dikatakan Tati, guru bisa minta bantuan orang tua dalam menghadapi siswa-siswa. Bila diperlukan, beberapa orang tua juga diminta bantuannya untuk membantu para siswa dalam peningkatan keterampilan yang sudah jadi program sekolah, yakni tata boga, tata busana, dan tata rias. “Sering sekali orang tua yang memiliki kemahiran dalam tata boga, tata busana atau tata rias, menjadi instruktur atau tutor bagi siswa, “kata.

Hasilnya, SLBN B Garut beberapa kali memperoleh prestasi, antara lain Juara 1 Perlombaan kerajinan Tingkat Kabupaten Garut, pembuatan barang-barang bekas menjadi produk-produk yang bermanfaat bagi masyarakat, pembuatan mahar pernikahan dari uang kertas buatan, pembuatan batik, dan lomba tata busana. Selain itu, salah seorang alumnus SLB N B Garut yang kini menjadi sukarelawan di sekolah tersebut, yakni Sari Ratna Saadah, berhasil memperoleh medali pada Pekan Paralympic Nasional XV tahun 2016 di Jawa Barat pada Oktober 2016 lalu.

Selain itu, untuk penyediaan seragam, baik seragam sekolah, seragam upacara atau seragam kegiatan lainnya, pihak sekolah tak pernah lagi memesan ke pihak lain, sebab para siswa dibantu orang tua sudah bisa membuat sendiri secara bersama-sama. Dalam keterampilan tata boga, siswa SLB dibantu para orang tua berhasil membuat dan memasarkan penganan khas Garut, yakni Burayot.

Paguyuban orang tua juga beberapa waktu lalu menggelar deklarasi Sekolah Ramah Anak, lomba gigi sehat bekerjasama dengan Puskesmas setempat, dan menggelar pemberdayaan orang tua bersama komunitas Kerlip.

Banjir yang melanda Kota Garut pada September 2016 lalu juga menjadi indikasi unjuk gigi paguyuban ‘Motekar’.  Saat itu, kompleks persekolahan yang lokasinya tepat disamping Kali Cimanuk termasuk yang paling parah diterjang air bah dengan ketinggian air mencapai antara 1 meter sampai 2 meter. Tak ayal, ratusan buku pelajaran, furniture, perlengkapan sekolah lainnya kini menjadi bangkai yang siap dibuang.

Usai banjir melanda, semua orang tua siswa dibantu para guru dengan dukungan beberapa komunitas bisnis setempat bahu membahu membersihkan dan merenovasi gedung sekolah. Atas   kerjasama tersebut,  SLBN B Garut memperoleh penghargaan sebagai A School Champion in Southeast Asia kategori sekolah pada 2nd ASEAN Regional Conference on School Safety  di Bangkok pada Februari 2017 lalu.

Tak salah kiranya, dengan model kerjasama antara sekolah dengan orang tua itu membuat SLB Negeri B  Kabupaten Garut menjadi Resource Center sekaligus Pimpinan Gugus 21 SLB-SLB di wilayah Garut dan sekitarnya.Yanuar  Jatnika