Rabu, 13 December 2017

Keluarga Hebat

Silas Saa Lakukan Evaluasi Tahunan Kinerja Anak-anak (2)

14 Jun 2017 13:23:11


Silas Saa Lakukan Evaluasi Tahunan Kinerja Anak-anak (2)

SAHABAT KELUARGA- Memberi kesadaran bukan intervensi apalagi memaksa. Itulah konsep atau pola asuh yang diterapkan Silas Saa, seorang pensiunan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Sorong Selatan, terhadap lima orang anaknya.

Hasilnya, Apulena Saa, puteri sulung Silas, mengikuti jejak ayahnya. Ia adalah Sarjana Kehutanan lulusan Universitas Cendrawasih. Franky Albert Saa, putera kedua, lulusan Magister Manajemen pada Universitas Cendrawasih. Yopi Saa, putera ketiga, adalah sarjana kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Jakarta. Agustinus Saa, putera keempat, lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Negeri Papua, Manokwari.

Nah, yang paling moncer, tak hanya jadi kebanggaan Silas, atau keluarganya, tapi juga kebanggaan rakyat Papua, bahkan Indonesia adalah si bungsu, Septinus George Saa. Pemuda kelahiran Manokwari pada 22 September 1986 itu , pada tahun 2004 lalu, memenangkan lomba First Step to Nobel Prize in Physics.

George mengungguli ratusan paper dari 73 negara yang masuk ke meja juri. Para juri yang terdiri dari 30 jawara fisika dari 25 negara itu hanya membutuhkan waktu tiga hari untuk memutuskan pemuda 17 tahun asal Jayapura ini menggondol emas.

Atas prestasinya yang sangat mencengangkan itu, George memperoleh beasiswa dari Freedom Insitute milik Aburizal Bakrie untuk melanjutkan studi S1 di jurusan aerospace engineering, Florida Institute of Technology pada tahun 2006.

Lulus tahun 2009, George sempat menjalani masa bekerja di sebuah perusahaan pertambangan di Bintuni, Papua Barat. Tahun 2015 lalu, George melanjutkan S2nya di bidang teknik material Universitas Birmingham, Inggris.

“Saya memberi pengarahan atau kesadaran  ke lima anak saya,  bahwa kalau kita punya biji, kita semaikan, akan menghasilkan seperti apa. Saya tidak memaksa. Kalau kamu sekolah baik, akan kamu nikmati seperti ini dan itu, “kata Silass saat ditemui Sahabat Keluarga di rumahnya di Kompleks Kehutanan Lama ‘Dwikora’, Teminabuan, Sorong Selatan, Papua Barat, beberapa waktu lalu. .

Namun, diakui Silas, ada pola kedinasan yang ia terapkan dalam hal mengasuh dan mendidik anak. Pola itu, berupa dibuatnya matrik atau semacam lembar perencanaan dan evaluasi tahunan terhadap kelima anaknya.

“Setiap bulan Desember, semua anak saya kumpulkan, saya evaluasi apa yang sudah dilakukan selama setahun, rencana apa yang sudah dipenuhi dan apa yang belum. Selanjutnya, saya buat rencana untuk tahun berikutnya. Semuanya saya cetak, dan masing-masing memegang perencanaan selama setahun kedepan untuk dievaluasi pada Desember tahun depan, “jelasnya.

Lembaran yang berisi rencana masing-masing anak selama setahun itu dibawa kemanapun mereka pergi sebagai pedoman.

Agustinus Saa, anak keempat Silas, menambahkan, perencanaan itu dibuat oleh ayahnya sebagai bentuk pengharapan terhadap anak-anaknya selama setahun. “Semacam nasehat, misalkan saya,  selama setahun, harus selesaikan studi, jaga keselamatan, tidak boleh ini dan itu, itu saja, tergantung Bapak. Saya bawa, saya simpan, saya baca dan saya ingatkan selama setahun, Desember tahun berikutnya dievaluasi, mana yang sudah terlaksana dan mana yang masih kurang, dan mana yang belum, “kata Agus.

Ditegaskan Silass, arahan atau pemberian kesadaran itu diberikan pada anak-anaknya dengan mengambil hikmah atas pengalaman hidupnya, berpindah-pindah kantor karena penugasan, sejak dari Sorong, Biak, Merouke, Jayapura dan terakhir di Sorong Selatan.

Ditegaskan Silas, dari pengalaman hidup keluarganya, dijadikan motto “ Lama hidup, manis pahit dirasakan, jauh berjalan banyak melihat”.  Dari motto itu, Silas lantas menegaskan visi dan misinya dalam  pendidikan anak, yakni membangun SDM dulu baru membangun fisik.

“Maksud saya, orang tua  itu membangun jiwa dan kesadaran anak-anak lebih dahulu. Kalau itu sudah dilakukan, hasilnya, nanti anak  bisa membangun rumah sendiri,  mobil, atau apapun, “tegasnya.

Dalam hal pergaulan anak, Silas cenderung membebaskan tapi tetap terkontrol. Metodenya, di rumah dipasang whiteboard. Di situ, setiap anak menulis kegiatan harian, seperti pergi jam berapa, keperluan apa, dengan siapa, dan pulang jam berapa. “Ditulis masing-masing dan diparaf. Dari catatan itu, saya bisa tahu apa yang sudah dilakukan selama sehari itu, “ujarnya.

Ia juga menegaskan pada anak-anaknya untuk tidak meminum minuman keras dan merokok, boleh bermain dengan siapa saja. “Saya tekankan, bahwa semuanya itu untuk masa depan anak-anak sendiri, bukan untuk orang tua, “katanya.

Ia juga menekankan agar anak-anaknya meraih gelas minimal sarjana. “ Saya ini kan sarjana muda. Saya bisa dikatakan orang tua berhasil bila anak-anak saya meraih gelar minimal sarjana penuh. Jangan sama apalagi di bawah, tapi harus lebih tinggi dari orang tusanya. Itu saya tanamkan,  Katanya. Yanuar Jatnika