Jumat, 20 October 2017

Keluarga Hebat

Silas Saa, Ayah Dibalik Kejeniusan George Saa (1)

12 Jun 2017 15:17:20


Silas Saa, Ayah Dibalik Kejeniusan George Saa (1)

SAHABAT KELUARGA-  Tahun 2004 lalu, seorang siswa SMA asal Papua bernama Septinus George Saa mengguncangkan dunia. Melalui temuannya berjudul Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resisto, George memenangkan lomba First Step to Nobel Prize in Physics. Rumus Penghitung Hambatan antara Dua Titik Rangkaian Resistor yang Ditemukannya diberi namanya sendiri yaitu "George Saa Formula".

George mengungguli ratusan paper dari 73 negara yang masuk ke meja juri. Para juri yang terdiri dari 30 jawara fisika dari 25 negara itu hanya membutuhkan waktu tiga hari untuk memutuskan pemuda 17 tahun asal Jayapura ini menggondol emas.

Dalam penelitiannya itu, ia digembleng khusus oleh Bapak Fisika Indonesia, Profesor Yohanes Surya. Awal November 2006 ia harus mempresentasikan hasil risetnya di depan ilmuwan fisika di Polandia. Ia harus membuktikan bahwa risetnya tentang hitungan jaring-jaring resistor itu adalah orisinil gagasannya.

Setelah itu, ia mendapat kesempatan belajar riset di Polish Academy of Science di Polandia selama sebulan di bawah bimbingan fisikawan jempolan.

Atas prestasinya yang sangat mencengangkan itu, George memperoleh beasiswa dari Freedom Insitute milik Aburizal Bakrie untuk melanjutkan studi S1 di jurusan aerospace engineering, Florida Institute of Technology pada tahun 2006.

Hanya membutuhkan waktu sekitar 3,5 tahun bagi pemuda kelahiran Manokwari pada 22 september 1986 ini untuk menuntaskan pendidikan S1 nya. Lulus tahun 2009, George sempat menjalani masa bekerja di sebuah perusahaan pertambangan di Bintuni, Papua Barat. Tahun 2015 lalu, George melanjutkan S2nya di bidang teknik material Universitas Birmingham, Inggris.

Keenceran otak George terpantau Yohanes sejatinya saat tahun 2001, waktu George  menjuarai lomba olimpiade kimia tingkat propinsi Papua. Karena prestasinya itu, melalui beasiswa dari Pemerintah Provinsi Papua, George memperoleh gemblengan di Surya Institute milik Yohanes Surya di Karawaci, Tangerang.

George lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya, Silas Saa, adalah Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat, periode 2003-2008.  Jangan bayangkan hidup Goerge sekeluarga berkecukupan dengan jabatan ayahnya itu. Saat ayahnya menjabat kepala dinas itu, George sudah kelas 2 di SMA Negeri 3 Buper Jayapura dan lantas kuliah di Amerika Serikat, sementara kakak-kakaknya sudah ada yaang selesai kuliah.

Sebelumnya, tepatnya saat George SD sampai SMP, kehidupan George dan kakak-kakaknya sangat memprihatinkan. Ayahnya saat itu hanyalah menjabat kepala seksi dengan pangkat eselon 4 di Jayapura.  Sebagai pegawai negeri, gaji ayahnya tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dengan lima orang anak yang semuanya sekolah dan kuliah.

Nelce Wofam, ibunya George, dalam perbincangan dengan sahabatkeluarga menyebutkan, nyaris setiap hari kekurangan uang untuk ongkos anak-anaknya sekolah. Beruntung, mereka bisa mengelola lahan kosong berstatus tanah ulayat di pinggiran Jayapura. Di lahan itu, pulang dari kantor, Silas bertani sayur-sayuran. Sebagian sayuran dikonsumsi keluarga, sebagian lain dijual ke pedagang pasar. “Dari situlah kami membiayai kehidupan, namun sering juga kami pinjam uang ke kantor Bapak, “kata Nelce saat ditemui di rumahnya, di Komplek Kehutanan Lama ‘Dwikora” Kelurahan Kaibus, Teminabuan, Sorong Selatan.

Dari perbincangan dengan kedua orang tua George, nampak peran kuat Silas dalam membentuk prestasi dan karakter anak-anaknya. Kelima anak Silas sudah meraih gelar sarjana, namun hanya George yang paling unik dan paling menonjol.

Apulena Saa, puteri sulung Silas, mengikuti jejak ayahnya. Ia adalah Sarjana Kehutanan lulusan Universitas Cendrawasih. Franky Albert Saa, putera kedua, lulusan Magister Manajemen pada Universitas Cendrawasih. Yopi Saa, putera ketiga, adalah sarjana kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Jakarta. Agustinus Saa, putera keempat, lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Negeri Papua, Manokwari.

Bagaimanas pola asuh dan pola didik Silas sehingga menghasilkan George yang mengharumkan Indonesia di mata dunia di tengah keterbatasan ekonomi? Ikuti berita selanjutnya!!!  Yanuar Jatnika

Bersambung