Jumat, 20 October 2017

Sekolah Keren

Paguyuban Kelas di SMPN 1 Karawang Barat Sangat Aktif ( Bag 2 )

25 Apr 2017 17:50:01


Paguyuban Kelas di SMPN 1 Karawang Barat Sangat Aktif  ( Bag 2 )

SAHABAT KELUARGA-Keterlibatan orang tua dalam Lomba Kelas Anyanang atau Kelas Aman, Nyaman, dan Menyenangkan di SMPN I Karawang Barat hanyalah salah satu bentuk kegiatan paguyuban kelas.

Sebelumnya, di SMP yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani, Karawang Barat itu, sudah dilaksanakan keterlibatan orang tua dalam proses pembelajaran di sekolah.

Salah satunya, seperti dikatakan Neni Sumarni, seorang wali murid di kelas 8 a. Semester lalu, dr Ade, salah seorang dokter anak di Karawang yang juga salah seorang wali murid, memberikan motivasi pada siswa dan siswi dalam kelas inspirasi. “Beliau menceritakan proses belajarnya hingga berhasil meraih gelar dokter anak, “kata Neni.

Semester ini, kata Neni, paguyuban kelasnya berencana menggelar kegiatan sharing pengalaman sebagai ibu dengan semua orang tua. “Kita akan menggelar kegiatan sharing bagaimana mendidik anak-anaknya. Setiap anak kan beda-beda karakter dan kemampuannya sehingga orang tua pun berbeda perlakuannya. Nah, kita akan tukar pengalaman dan pengetahuan, “jelasnya.

Pertemuan antara guru dan orang tua sendiri, kata Neni, selama ini sudah dilaksanakan sekitar dua kali dalam setiap semesternya.  Yakni saat bagi raport atau insidentil saat ada masalah atau kegiatan yang melibatkan orang tua. “Pihak sekolah juga selalu mengundang orang tua bila ada anaknya yang bermasalah atau ada yang perlu didiskusikan, “katanya.

Menurutnya, hampir 70 persen orang tua, terutama di kelas anaknya aktif. Meskipun ada orang tua yang keduanya bekerja, tapi setiap ada waktu luang, misalnya  pulang kerja, menyempatkan diri mampir ke sekolah.

Sedangkan Sita, Ketua Paguyuban Kelas 7 B, mengapresiasi kegiatan Lomba Kelas Anyanang itu, terutama karena terjalinnya kekompakan antara para ibu dan bapak.

“Beberapa, termasuk saya, bahkan sampai malam, dan ada yang sampai menginep karena pulang agak jauh, saya senang, tidak ada keterpaksaan, ada rezeki yang dibagikan untuk membuat kelas yang aman, nyaman dan menyenangkan. Kan semua juga hasilnya untuk anak-anak kita sendiri agar nyaman dan senang belajar dan akhirnya prestasinya Insha Allah bisa meningkat, “jelasnya.

Wali murid dari kelas 8 c, Sri, menambahkan, semua kelas sudah punya paguyuban orang tua. Menurutnya, sebenarnya keberadaan paguyuban kelas sudah ada sejak dulu, semasa kepala sekolah SMPN 1 dijabat Cucu Sumaryani, namun waktu itu belum begitu aktif dan hanya beberapa kelas yang sudah punya paguyuban orang tua itu.

“Saat ini, semua kelas sudah punya paguyuban orang tua. Dengan paguyuban itu, kita ngga perlu door to door ke rumah orang, cukup lewat grup WhatsApp saja, orang tua pada mengerti. Semua kelas sudah punya grup WA untuk saling berkomunikasi. Soal pengawasan anak juga bisa dilakukan lewat WA, “katanya.

Keberadaan orang tua itu, katanya, juga direspons positif bahkan didorong oleh guru. Pasalnya, melalui paguyuban itu, ada komunikasi dua arah antara guru dengan orang tua. Manfaatnya, bila ada masalah dengan anak, sekolah bisa dengan mudah menyampaikan pada orang tuanya. “Kita kan ngga mau anak kita sepenuhnya diserahkan ke sekolah. Orang tua tetap harus membantu. Makanya, kerjasama orang tua dengan sekolah sangat bagus, “ujarnya.

Pendapat para wali murid itu diperkuat oleh Teti Tresnawati, Koordinator Bimbingan dan Konseling SMPN 1 Karawang Barat.

Ia menuturkan, dirintis oleh kepala sekolah SMPN 1 sebelumnya, yakni Cucu Sumaryani, saat ini sudah ada buku penghubung atau yang disebut Buku Tata Krama yang  dibuat bersama antara orang tua dengan guru dan siswa.

Dalam Buku Tata Krama itu, ada berbagai indikator pelanggaran dan sanksi yang diberikan. Beberapa pelanggaran itu antara lain ketahuan merokok, terlambat masuk sekolah, tidak masuk kelas, berpakaian tidak sesuai aturan dan tidak pantas, dan sebagainya.

Selain itu, juga ada indikator perilaku baik dan penghargaan yang diberikan. Seperti, menjaga kebersihan, ikut membantu ketertiban sekolah, saling membantu sesama teman, dan sebagainya.

Kedua hal itu diamati oleh guru, dan staf tata usaha serta dinilai. Bila seorang anak melakukan pelanggaran, ada point minus 1 sampai minus 100. Sebaliknya, bila melakukan perilaku baik, ada point mulai 1 plus sampai 100 plus . “Kalau point pelanggaran sudah mencapai  minus 100 dan tidak ada upaya menyeimbangkan dengan perilaku baik, anak disarankan mencari sekolah lain, “jelas Teti.

Dikatakan Teti, bila siswa ketahuan melakukan pelanggaran, maka yang bersangkutan bisa memperbaikinya dengan melakukan perilaku baik. “Pelanggaran tetap terjadi dan tetap diberi point minus, tidak dihilangkan, tapi dengan melakukan perilaku baik dan dapat point plus, diseimbangkan sehingga pihak sekolah akan mempertimbangkan dalam pemberian sanksi, “jelasnya.

Dengan Buku Tata Krama itu, selain komunikasi melalui WA, orang tua bisa mengetahui perkembangan anaknya di sekolah dan secepatnya mengantisipasi bila ada hal-hal yang tidak diinginkan. “Bila pelanggaran mencapai minus 50 misalnya, orang tua kita undang untuk mencari solusinya,”tutur Teti.

Perkataan Teti itu diakui oleh Sri, salah seorang wali murid. Anaknya sempat memperoleh minus 50. Namun, melalui kerjasama dengan pihak sekolah, terutama guru, pihaknya turun tangan membantu memperbaiki perilaku anaknya itu. “Dulu, anak saya paksa untuk mandiri dengan nyuci dan nyetrika baju sendiri, hasilnya pakaiannya kerap kusut. Sekarang saya turun tangan ikut membantu mencuci dan menyetrika. Akhirnya saya bisa lebih dekat dengan anak, “katanya tersenyum. Yanuar Jatnika

Berita Terkait:

Lewat Anak, cara SMPN 1 Karawang Barat Ajak Orang Tua

Lomba Anyanang: cara Orang Tua Terlibat di SMPN 1 Karawang Barat