Jumat, 20 October 2017

Keluarga Hebat

Orang Tua Herayati, peraih IPK 4.00 dari ITB – Menangis Saat Pertama Mengantar Kuliah (3-Habis)

31 Mar 2017 16:57:16


Orang Tua Herayati, peraih IPK 4.00 dari ITB – Menangis Saat Pertama Mengantar Kuliah (3-Habis)

SAHABAT KELUARGA – Sejak duduk dibangku SMP, Herayati telah memiliki keinginan untuk kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Tentu saja dia mengandalkan beasiswa melalui prestasi yang diraihnya.

Hera sadar, ayahnya yang seorang tukang becak di Cilegon, Banten, tak memiliki banyak biaya untuk melanjutkan pendidikan kuliah. ”Waktu itu Nong masih SMP, dia diberi saran oleh gurunya, setelah lulus SMA nanti, lanjutkan saja ke ITB, soal biaya bisa mengikuti, jangan takut,” ungkap Sawiri, ayah Herayati.

Pesan guru SMP nya itu terus terngiang dalam benak Hera. Hingga saat lulus SMA, dia berjuang untuk mendapatkan beasiswa di ITB Bandung.

Sawiri mengaku sempat mengkhawatirkan biaya yang harus dikeluarkan demi mendukung kuliah anaknya itu. Tapi berkali-kali juga Hera meyakinkan ayahnya jika kuliahnya nanti tidak akan merepotkan.

”Saya bingung, nggak punya uang, tapi katanya mau kuliah. Alhamdulillah ternyata nggak keluar biaya sama sekali. Saya nggak ngerti dia biaya dari mana, tapi anaknya bilang, jangan dipikirin, Insya Allah tidak akan merepotkan. Katanya dia dapat dari kampus,” kata Sawiri.

Hera dinyatakan lolos beasiswa di ITB melalui program Bidikmisi. Sebagai orang tua, Sawiri mengantar langsung anaknya. Melepas anak untuk berjauhan lama diakuinya menjadi momen terberat dia saat itu.

”Nganter pertama kali saya nangis ninggalin Nong di Bandung. Seharunya seminggu nemeninnya, ini malah ikut pulang. Saya nangis, dia juga ikut nangis. Nggak kuat saya. Tapi melihat dia semangat ya sudah hanya doa saja yang bapak bisa kasih,” kenang Sawiri.

Selama Hera kuliah di Bandung, Sawiri hanya berkomunikasi lewat telepon. Saat libur kuliah, Hera menyempatkan untuk pulang.

Jika sedang pulang, Sawiri tak melihat aktivitas berlebihan dari anaknya. ”Di rumah saja, paling teman-temannya yang disuruh datang ke rumah,” katanya.

”Yang pasti, kalau Hera pulang, ibunya yang sibuk masakin tempe dan sambal terasi campur bawang kesukaannya,” tambah Sawiri.  

Sawiri justru terkejut ketika banyak wartawan mencari dirinya ke tempat mangkal atau ke rumah. Dia mengetahui informasi Hera meraih nilai tertinggi justru dari langganan becaknya. ”Katanya ada beritanya di internet. Saya sendiri nggak paham. Nggak lama banyak wartawan ke rumah,” kata kakek dari tiga orang cucu ini malu-malu.

Sawiri berharap aktivitas Hera tak terganggu dengan pemberitaan ini. Dia berharap anaknya bisa serius kuliah dan menyelesaikannya tepat waktu.

Sawiri juga tak akan menghalangi masa depan Hera. Jika memang ada kesempatan melanjutkan pendidikan lagi sampai luar negeri sekalipun, dia akan mendukung.

”Yang penting saya selalu kasih amanat ke Nong, kalau sudah lulus jangan sombong, tetap rajin ibadah, puasa. Orang tua di sini hanya bisa mendoakan dia sukses, bisa bawa diri untuk kehidupannya di masa depan,” doa Sawiri untuk Hera.

Sawiri juga berharap dipanjangkan umurnya agar bisa melihat Hera lulus. ”Bapak akan tetap narik becak, karena bingung mau kerja apalagi. Sekarang itung-itung olahraga dan cari tambahan juga. Alhamdulillah kakaknya Hera sudah kerja dan Hera juga tidak merepotkan,” pungkas ayah dari Sumiyati (40), Heriyawan (27), Irfan Setiawan (25) dan Herayati ini bersyukur. (Habis - Bunga Kusuma Dewi)