Jumat, 20 October 2017

Keluarga Hebat

I Made Andi Arsana (Bagian 1) - Anak Seorang Petani yang Sukses Menjadi Dosen

14 Mar 2017 11:37:21


I Made Andi Arsana (Bagian 1) - Anak Seorang Petani yang Sukses Menjadi Dosen

SAHABAT KELUARGA – Suasana sejuk dan tenang begitu terasa saat memasuki area pekarangannya. Berbagai tumbuhan tumbuh rapi dan teratur. Tak hanya tanaman hijau, aneka bunga seperti bunga matahari dan mawar turut menghiasi halaman nan indah.

Itulah kediaman I Made Andi Arsana, dosen Teknik Geodesi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Rumah berpekarangan luas itu terletak di Desa Jangkang Wedomartani, Kabupaten Ngemplak, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.  

Di bagian tengah halaman, sebuah saung diletakan sebagai tempat bersantai. Andi, begitu ia biasa disapa, menerima kedatangan Sahabat Keluarga di tempat itu. Berbincang santai tentang sebuah keluarga sederhana yang melahirkan anak-anak luar biasa, salah satunya Andi, pria asal Tabanan, Bali, yang saat ini berprofesi sebagai dosen, penulis buku, blogger, pembicara, moderator dan masih banyak aktivitas lainnya.

”Taman ini bapak saya yang mengerjakan, menanam dan merawat dari awal. Sekarang saya tinggal melanjutkan untuk merawatnya. Saya ingin ketika bapak dan ibu saya ke sini, merasa bahwa ini rumahnya juga, bukan rumah anaknya,” kata Andi mengawali kisah tentang orang tuanya.

Andi tumbuh dari keluarga sangat sederhana. Masa kecilnya dihabiskan di Desa Tegal Jadi, Tabanan, Bali. Anak kedua dari tiga bersaudara ini tumbuh selayaknya anak kecil di wilayah Tabanan Bali.

Sehari-hari Andi bermain di sawah bersama alam, binatang dan tanaman. Tak ketinggalan permainan tradisional seperti seruling menemani keceriaan Andi di masa kecil.

Ayahnya, I Wayan Karma (66) seorang petani sawah garapan milik Raja di Tabanan. Dari hasil garapan itu, ayahnya mendapat hasil bagian untuk menghidupi keluarga kecilnya. Setiap hari Andi ikut ayahnya membajak sawah.

”Saya duduk dibelakang bajak itu. Seperti buku bacaan SD dari Depdikbud tentang anak-anak main di sawah, meniup seruling dan naik kerbau, saya tidak mempelajarinya dari buku, tapi saya mengalami itu. Itu bukan permainan, tapi sebuah pekerjaan,” kenang Andi.

Seperti masyarakat pada umumnya di Tabanan, ayah Andi tidak terdidik secara formal. Dia tidak lulus SD dan kehidupan perekonomiannya sangat sederhana. Meski tidak mengecap pendidikan formal, menurut Andi, ayahnya itu sangat kreatif.

Saat tetangga lainnya belum memikirkan untuk menanam tanaman lain selain padi, ayah Andi mulai menanam kencur, bawang atau tanaman lainnya. ”Bapak bisa menyambung antara tanaman satu dengan tanaman lain, semua dilakukan tanpa pendidikan formal,” kata Andi yang mengaku mendapat banyak ilmu secara tidak langsung dari proses kreatif bapaknya.

Sedangkan ibunya, Ni Nyoman Mariani (63) seorang yang sangat pintar namun hanya lulusan SD. Kepintaran ibunya diketahui Andi saat dia duduk di bangku SD Negeri 1 Tegal Jadi. Salah seorang guru yang pernah mengajar ibunya ternyata juga mengajar Andi di masa SD.

Menurut guru tersebut, ibunya selalu meraih ranking 1 di kelas. Saat Andi sekolah ditempat itu, gurunya sempat bertanya tentang siapa orang tua Andi. ”Saat saya sebut nama ibu saya, ternyata bapak guru itu masih ingat jelas. Dia langsung bilang, ’Aku nggak heran kalau kamu pintar’. Kalimat itu tidak saya tambahkan,” kata Andi menirukan ucapan Ketut Sukarta, guru SD-nya.  

Di mata Andi, meski pendidikan ibunya tidak tinggi, namun sangat tekun, pintar dan mampu mengerjakan hal detail dalam waktu yang lama. Dari ibunya itu juga dia mempelajari ketekunan.

”Kedua orang tua saya jadi kombinasi yang baik. Ibu saya tidak diragukan kepintarannya, logikanya sangat baik dan pekerja yang sangat tekun. Beliau itu pembelajar sepanjang hayat,” tuturnya.

Untuk membantu perekonomian keluarga, ibunya bekerja sebagai penambang batu padas, bahan batu untuk membuat batako. Seperti ayahnya, ibunya juga menambang di lahan milik orang yang kemudian mendapatkan hasil bagian dari tambang tersebut. Bagaimana Andi tumbuh ditengah keterbatasan? Bersambung ke I Made Andi Arsana (2) - Selalu Juara Ditengah Keterbatasan (Bunga Kusuma Dewi)