Jumat, 20 October 2017

Sekolah Keren

Di HSTB, Suasana Sekolah Seperti di Rumah (Bag 3)

07 Mar 2017 16:35:02


Di HSTB, Suasana Sekolah Seperti di Rumah (Bag 3)

SAHABAT KELUARGA-Sekolah model homeschooling selama ini diartikan siswa sekolah di rumah yang dipandu pengelola, baik secara manual maupun online. Selain itu, biasanya ada kegiatan tutorial antara 1 sampai 2 hari dalam seminggu.

Lain halnya dengan di Home School Tunas Bangsa (HSTB). Di home schooling yang berlokasi di Jalan Pondok Serut III, No.69, Pondok Kacang Barat Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan itu, walaupun namanya homeschooling, proses pembelajarannya di HSTB tidak seperti itu. Di HSTB, siswa bersekolah seperti biasa, dari hari Senin sampai Jumat, mulai pukul 07.30-14.00 WIB. Siswa bahkan memakai seragam.

Bedanya, suasana di HSTB dibentuk seperti suasana di rumah. Menurut Melati Pertiwi, Walikelas 5, melalui suasana yang dibentuk seperti itu, siswa diingatkan bahwa dalam menuntut ilmu, sekolah dan rumah tidak ada bedanya. Di sekolah itu, proses pembelajaran dilakukan di ruang terbuka, kecuali untuk siswa playgrup.

Siswa mengelilingi sebuah meja. Tak jauh dari mereka belajar, nampak terlihat jelas suasana dapur berserta perlengkapan dan kegiatannya.

Setiap hari sejumlah orang dibantu beberapa sukarelawan orang tua memasak untuk kebutuhan makan siang siswa dan guru. Jadi jangan heran, di tengah suasana pembelajaran, terdengar kegiatan goreng-menggoreng, orang nyuci piring, dan kegiatan dapur lainnya. Saat istirahat, ada jadwal piket bagi siswa untuk membantu di dapur mempersiapkan makan siang.

“Melalui suasana tersebut, siswa dibiasakan melihat ibu bekerja di rumah dan dibiasakan selalu membantunya,” kata Melati.

Hal lain, di HSTB, guru laki-laki dibiasakan dipanggil ayah dan guru wanita dipanggil bunda. Hal itu untuk menanamkan pemikiranbahwa belajar itu tidak semata-mata di sekolah tapi sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dengan orang tua di rumah dan di lingkungan.

Ditambahkan Melati, siswa diharapkan memahami, belajar yang sebenarnya ketika menghadapi dan menjalani kehidupan itu sendiri dan sekolah hanya memberikan sebatas teori. ”Misalnya, ketika pulang sekolah, menyimpan sepatu di tempatnya, menyimpan tas di tempatnya, mengerjakan PR, dan seterusnya sampai mereka tidur malam dan bangun tidur esoknya untuk siap-siap pergi ke sekolah. Semuanya kita kondisikan sebagai proses belajar,” jelas Melati.

Berada di bawah Yayasan Tunas Bangsa, saat ini, jumlah siswanya sekitar 60 orang dari mulai jenjang pendidikan playgrup sampai SMA. Kurikulum yang diterapkan merupakan gabungan antara KSTP 2006, Kurikulum 2013 dan metode sendiri yang dikembangkan HSTB, yakni metode model perguruan tinggi. Jadi 20 menit pertama guru memberikan presentasi, berikutnya, siswa dibebaskan mencari bahan di internet atau perpustakaan. Selanjutnya mereka membuat paper untuk kemudian dipresentasikan.

Selain mata pelajaran wajib, ada juga mata pelajaran pilihan yang disesuaikan dengan minat dan bakat siswa. Di mata pelajaran pilihan yang disebut forum, ada kegiatan membuat keramik, membatik, angklung, melukis, musik, fotografi dan komputer atau teknologi informasi. Yanuar Jatnika