Sabtu, 24 February 2018

Berita

Di Jaman Now, Guru Perlu Berubah

08 Feb 2018 00:00:00


Di Jaman Now, Guru Perlu Berubah

SAHABAT KELUARGA- Kasus dianiyanya seorang guru honorer di Sampang, Madura, beberapa hari lalu, yakni Ahmad Budi Cahyono (26) hingga meninggal oleh muridnya di  kelas XI bernama H (17), mengaduk-ngaduk perasaan para guru di seluruh Indonesia.

Seorang murid begitu saja "tidak terima" pada teguran guru. Menjadi guru tiba-tiba menjadi profesi yang serba salah. Tidak menegur murid yang melakukan kesalahan dinilai guru tidak punya wibawa, tapi menegur malah berakibat fatal.

 

Baca juga:

Merespons tragedi itu, sebuah tulisan menarik ditulis oleh Kalis Mardiasih, peneliti di Jaringan Nasional Gusdurian.

Dikutip dari portal beritagar.id. , Kalis menulis, interaksi kelas yang efektif memang mensyaratkan kepatuhan siswa. Siswa harus sepakat kepemimpinan kelas diambil alih oleh guru dan untuk mengikuti metode pengajaran yang diaplikasikan guru.

Namun di era keterbukaan informasi ini,  relasi guru dengan siswa perlu paradigma baru jika ingin melanggengkan tradisi saling menghormati.

Generasi jaman now lebih rajin mengakses Youtube dan Instagram. Ketika generasi tua cukup bertukar kabar lewat Whatsapp, para remaja merasa ketinggalan update jika tidak menyimak headline dari Line Today.

Di jaman now, kesakralan kepercayaan siswa pada guru, yang awalnya dibangun dari penguasaan ilmu pengetahuan dan informasi, sangat mudah gugur dalam pola relasi masa kini. Artinya, perubahan kultur relasi antarmanusia -termasuk guru dengan murid- tak dapat diingkari oleh siapa saja dalam dunia global yang serba terhubung dan bergerak secara dinamis di bawah media daring.

Guru mesti sepenuhnya sadar bahwa siswa di jaman now adalah anak kandung teknologi dengan karakter yang sangat perlu ditanggapi dengan serius. Bagi siswa jaman now, guru sudah bukan sumber informasi primer.

Perkembangan era digital tidak hanya berpengaruh pada instrumen ajar yang harus moderen, tapi juga pemahaman pada psikologi generasi milenial. Guru perlu mencari strategi agar pola interaksi sebagai "orang tua kedua" bagi anak tetap efektif dalam nuansa ruang belajar yang serba egaliter. Yanuar Jatnika