Sabtu, 24 February 2018

Umum

Dukung dan Dorong Anak-anak Memiliki Mimpi Besar  

31 Jan 2018 00:00:00


Dukung dan Dorong Anak-anak Memiliki Mimpi Besar   

 

SAHABAT KELUARGA – ”Anak-anak, apa cita-citamu?” tanya bu guru di sebuah Taman Kanak-Kanak.

”Aku ingin jadi pilot, Bu Guru,” kata seorang anak.

”Aku ingin jadi dokter,” sahut yang lain.

”Aku mau jadi astronot,” ujar yang lain berebut.

Selain jawaban itu masih banyak jawaban anak-anak lain yang berbeda. Ada yang ingin menjadi guru, jadi perawat, jadi kyai, polisi, tentara, bahkan ada juga yang menyebut ingin jadi presiden. Itu semua terucap atas pikiran mereka yang begitu sederhana sesuai kemampuan berpikir mereka.

Berbeda lagi saat kita menanyakan cita-cita kepada anak-anak yang lebih dewasa. Mereka akan lebih mengerucut pada bidang dan profesi yang lebih spesifik. Ada yang mengaku ingin menjadi arsitek, dosen, peneliti, ahli biologi dan sebagainya sesuai dengan bayangan yang lebih diinginkannya.

Orang sering menyebut cita-cita dengan istilah mimpi. Namun mimpi anak bukanlah omong kosong atau bualan semata. Apa yang mereka ucapkan tentu atas dasar pengalaman dirinya, sesuai yang mereka lihat, pikirkan atau bayangkan.

Maka ketika ada orang tua yang memberikan tanggapan pesimis atau negatif kepada anak-anak yang  bermimpi menjadi presiden, itu adalah hal yang sangat tidak bijak dan keliru besar. Sebab lewat mimpi itulah keberhasilan sesorang dalam hidupnya akan tercapai. Orang tua biasanya baru akan mendukung cita-cita anak ketika mereka sudah menginjak remaja.  Cita-cita anak baru dipercaya saat mereka memasuki remaja. 

Kesuksesan seseorang biasanya berawal dari mimpi yang besar. Hal itu banyak diakui oleh orang-orang sukses. Tanpa mimpi maka anak-anak kita tidak memiliki bayangan untuk dirinya. Maka dari itu membangun mimpi anak-anak menjadi hal yang sangat penting. Karena banyak fungsi mimpi atau cita-cita bagi anak-anak. Setidaknya ada lima fungsi mimpi bagi anak.

Pertama, mimpi atau cita-cita ternyata dapat bermanfaat sebagai titik tujuan hidup anak-anak kita. Dengan mimpi itu mereka akan mengetahui di mana tujuan hidup yang akan dicapainya. Misal, ada anak yang ingin menjadi dokter, maka dia tahu di mana dia harus memburu cita-cita itu dan akan tahu kemana dirinya harus melangkah untuk menuju cita-cita itu.

Kedua, mimpi juga berfungsi sebagai pedoman untuk menentukan langkah hidupnya. Dengan mimpi itu anak-anak akan memiliki jalan untuk melangkah ke tujuan akhir yang dicitakan. Anak-anak yang memiliki mimpi akan mudah mengarahkan langkahnya. Demikian sebaliknya, anak-anak yang tak memiliki mimpi akan tak menentu dalam melangkah. Dia hanyalah berjalan tanpa tujuan yang jelas. Akibatnya mereka sering mengalami keraguan dan bahkan kebuntuan. Beruntung jika mereka tak terjebak. Bayangkan jika arah yang dijalaninya keliru, dia bisa tersesat atau salah jalan yang tak bermanfaat.

Contoh, anak yang tak mempunyai cita-cita menjadi tentara tetapi dia tak sengaja mendaftar menjadi tentara, maka keinginannya itu akan mengambang. Sehingga tingkat ketercapaiannya pun menjadi kecil.

Berbeda dengan anak yang sudah memiliki cita-cita ingin menjadi arsitek, maka dia pun sudah mulai mengarahkan langkahnya ke tujuan  itu. Sejak kecil dia mulai melangkah ke arah itu, akan belajar di sekolah yang berkaitan dengan cita-citanya. Kemudian kuliah di fakultas yang sesuai hingga banyak berlatih dan mencoba membuat rancangan bangunan. Akhirnya dia akan mahir dan jadilah seorang arsitek profesional dan dapat menghidupinya.

Ketiga, mimpi juga menjadi gambaran dirinya ketika dewasa nanti. Lewat mimpi dia memiliki bayangan akan menjadi apakah nanti. Bayangan menjadi pedagang, pengusaha, polisi, pegawai, penyanyi, pemain sepak bola dan profesi lainnya akan terus terlintas sehingga mereka seakan telah mampu melakoni dan merasakannya secara nyata.  

Keempat, ternyata mimpi juga bisa menjadi motivasi. Dengan mimpi-mimpi itu anak-anak akan termotivasi untuk segera meraihnya. Mereka akan berusaha kuat untuk mencapai keinginannya itu. Tentu cara yang positif. Tanpa mimpi mereka tidak akan termotivasi untuk meraihnya. Oleh karena itu mimpi bagi anak-anak sangat penting sekali.

Kelima, mimpi bisa menjadi doa. Kata orang bijak kata-kata adalah doa. Maka kata-kata yang baik adalah doa yang baik pula. Dengan bermimpi, bercita-cita, anak seakan tengah berdoa. Ketika mereka ditanya tentang mimpinya, tentang  cita-citanya, maka apa yang disebutnya sesungguhnya merupakan doa bagi dirinya. Oleh karena itu perlu sekali dalam diri anak-anak dibangun mimpi yang baik dan besar yagng kelak akan diraihnya.

Mengingat banyaknya fungsi mimpi dan cita-cita anak-anak maka sangat perlu kita bangun mimpi-mimpi dalam diri mereka. Jangan pesimis mereka tak mampu mewujudkan mimpi-mimpi besarnya. Sebab jika kita pesimis sesungguhnya orang tua tengah memberi halangan. Maka yakinlah bahwa mereka dapat mewujudkannya. Terus motivasi, memberi solusi dan doa bagi mereka adalah hal yang lebih bijak. (Riyadi, Pendidik di SDN 1 Kediri Kecamatan Karanglewas, Kab. Banyumas, Pegiat literasi di KOMPAK)