Sabtu, 23 September 2017

Opini

Surat Cinta dari Abi

13 Sep 2017 12:05:39

Bu Muazzah,

Terima kasih karena telah mengajarkanku

Hanya kertas tak berharga ini yang dapat kuberikan untukmu

Sebagai ucapan terima kasihku

Bait di atas adalah penggalan surat yang ditulis Habiburrahman, siswa kelas 3 Aceh Besar, SDS Sukma Bangsa Pidie yang ditujukan khusus untuk saya. Tak hanya itu, Abi sapaan kecilnya, juga menulis beberapa surat untuk guru SD lainnya. Dengan gaya bahasa khas dan pemilihan diksi yang cukup menarik.

Jika dibandingkan dengan anak seusianya, Abi tergolong sangat piawai dalam memainkan kata-kata. Tak banyak yang tahu sebelumnya jika Abi punya rasa lebih dalam merangkai kalimat. Bahkan hal ini akan menjadi angin lalu jika kelebihannya tidak diasah dengan pendampingan guru dan orang tua.

Memahami dunia anak memang tiada habisnya. Ada saja tingkah polah mereka yang membuat kita para orang dewasa kehabisan kata-kata. Dunia penuh imajinatif yang tak bisa kita jangkau adalah hidup mereka, tanpa beban dan hanya dimengerti oleh mereka. Namun, oleh banyak orang dewasa, dengan bangga dan berdalih demi kebaikan anak-anak, sering sekali merampas kebebasan imajinasi anak-anak.

Alangkah eloknya jika kita mau membuka diri untuk lebih memahami dunia fantasi anak-anak. Tidak harus melulu menuruti kemauan kita sebagai orang dewasa atau sebaliknya membebaskan mereka tanpa batas. Adanya batasan yang jelas antara kebutuhan anak-anak dan pengawasan orang tua di rumah dan guru di sekolah akan sangat membantu anak-anak menemukan jati diri mereka yang sebenarnya.

Menurut teori parenting yang dikemukakan Baumrind, komposisi yang tepat antara kasih sayang dan tuntutan dari orang tua dan guru akan memberikan efek besar pada perkembangan anak. Kasih sayang yang berlebih tanpa adanya tuntutan dari orang dewasa (permissive parenting/teaching) akan menyebabkan anak akan terlalu manja.

Kasih sayang yang tidak terpenuhi dan terlalu banyaknya tuntutan dari orang tua dan guru (authoritarian parenting/teaching) justru akan membuat anak sangat tertekan. Begitu juga jika orang tua dan guru tidak memberikan kasih sayang dan tuntutan kepada anak (neglectful parenting/teaching), hal ini akan membuat anak terlalu bebas dan tanpa aturan.

Kasih sayang yang besar dan diikuti tuntutan yang proporsional dari orang tua dan guru (authoritative parenting/teaching) akan memberikan kepercayaan diri yang besar pada anak untuk mencapai semua target-target yang telah disepaki bersama orang tua dan guru.

Namun, kita sering salah memberikan kasih sayang dan menuntut anak-anak secara tak berimbang. Memberikan kelonggaran yang terlalu besar atau menekan mereka untuk menjadi apa yang kita inginkan. Menjadikan anak kehilangan kesempatan untuk menemukan potensi berharga yang ada dalam dirinya. Orang tua dan guru sering secara tidak sadar memperlakukan anak ibarat gelas kosong yang butuh diisi oleh berbagai hal yang kita anggap penting dan berguna bagi anak-anak.

Padahal, anak-anak telah memiliki pengetahuan sejak mereka membuka mata pertama kali. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Dan dengan begitu, mereka akan punya kecondongan pada apa yang mampu menyajikan kemenarikan dan kenyamanan bagi mereka.

Setiap anak telah diberkati dengan keunikan masing-masing. Maka sudah seharusnya setiap orang tua dan guru mampu melihat dan mengembangkan keunikan mereka.

Bukik Setiawan dalam bukunya Bakat Bukan Takdir, menjelaskan bahwa setiap anak punya bakat yang luar biasa, tinggal bagaimana orang dewasa mampu melihat dan mengembangkannya. Jika kita salah membaca bakat anak, maka bakat tersebut akan terkubur seiring berjalannya waktu. Namun jika kita mampu membacanya dan membantunya untuk terus diasah oleh anak, maka ia akan menjadi kekuatan yang luar biasa dan melahirkan maha karya.

Membiarkan anak menyatu dengan masanya adalah bagian penting dalam pedampingan tumbuh kembangnya. Anak-anak kita sekarang, generasi Z, dengan kecanggihan dan digitalisasi dalam segala aspek, sangat tidak cocok lagi diasuh dengan pola didik kita zaman dulu.

Orang tua dan guru bukan lagi satu-satunya sumber pengatahuan bagi mereka. Rasa penasaran anak-anak akan dengan sangat mudah terjawab melalui media daring yang bisa diakses kapanpun dan dimanapun. Sehingga orang tua dan guru harus menjadi bagian dari zaman mereka. Tidak boleh gaptek (gagap teknologi), apalagi menutup akses mereka terhadap kecanggihan tersebut.

Lebih tepat jika orang dewasa menjadi partner anak-anak dalam meretas dunia maya, sehingga mereka punya benteng yang kuat terhadap kejahatan dunia maya. Terhindar dari pornografi dan kejahatan lainnya yang dengan mudah tersebar melalui internet.

Abi hanya satu anak dari banyak anak yang keunikannya tak disadari oleh orang dewasa di sekitarnya. Ada banyak anak lain yang bernasib sama dengan Abi atau bahkan lebih buruk. Yang kelebihannya tak dianggap membanggakan untuk orang tuanya atau sekolah. Hal ini menjadi PR kita para orang dewasa untuk lebih peduli dan tidak memaksakan kehendak kita secara otoriter kepada anak-anak.

Selain itu, menyediakan berbagai aktivitas yang bervariasi juga dapat membantu orang tua dalam menggali dan mengenali bakat yang dimiliki oleh si anak. Begitu juga dengan perspektif orang dewasa terhadap kecerdasan majemuk juga sangat membantu pemetaan bakat yang dimiliki oleh anak. Sehingga orang tua tidak lagi mengatakan anaknya ’bodoh’ jika tak mahir matematika. Tak ada lagi sekolah yang melebel anak malas jika hanya senang menggambar dan berimajinasi.

Akhirnya, mari terus belajar untuk menjadi orang tua hebat utuk anak-anak kita. Dampingi mereka dengan bekal ilmu yang cukup dan arahkan mereka pada bakat yang mereka punya. Karena anak-anak hebat lahir dari keluarga yang hebat pula! (Muazzah - Guru Sukma Bangsa Pidie, Aceh)