Sabtu, 23 September 2017

Usia SD

Bisa Ditiru, Cara Jerman Tumbuhkan Budaya Toleran

08 Sep 2017 13:56:56


Bisa Ditiru, Cara Jerman Tumbuhkan Budaya Toleran

SAHABAT KELUARGA- Intoleransi kini menjadi salah satu masalah kebangsaan di Indonesia yang perlu dicarikan solusinya. Berbagai kasus kekerasan dan bahkan tindak kriminil yang disebabkan perbedaan keyakinan, perbedaan etnis, dan budaya menunjukkan kian tipisnya budaya toleransi di Indonesia.

Tanpa perlu saling menyalahkan, berkembangnya sikap intoleransi perlu segera dihentikan dan dicari upaya agar generasi Indonesia mendatang kembali pada budaya toleransi, yakni menghargai perbedaan pendapat, keyakinan,m adat, budaya, dan ras.

Menumbuhkan kembali sikap toleran memang melalui proses yang panjang dan tak terbentuk secara instan. Dalam hal ini, untuk menumbuhkan sikapm toleran tersebut, orang tua perlu sadar, bahwa kecakapan sosial ini hanya bisa dikuasai lewat serangkaian proses panjang. Semakin dini toleransi diajarkan, semakin baik hasilnya.

Tanpa bermaksud meniru negara lain dan meremehkan upaya bangsa sendiri, rasanya tak salah kalau kita sedikit mencontoh upaya yang dilakukan bangsa Jerman untuk menumbuhkan sikap toleran ini.

Di negara ini, beberapa inisiatif dan program yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai toleransi kepada anak-anak telah dijalankan. Salah satunya seperti yang dilakukan pusat penitipan anak Wackelzahn. Lembaga yang berada di kota Dusseldorf ini menanamkan nilai-nilai toleransi kepada anak-anaknya dengan membawa mereka mengunjungi rumah-rumah ibadah beragam keyakinan.

Jika tidak sedang melakukan kunjungan ke masjid atau sinagoga, anak-anak Wackelzahn--yang berasal dari setidaknya 15 bangsa berbeda, saling bercerita mengenai adat budayanya masing-masing, sejauh yang mereka tahu saja. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan bagian dari satu rangkaian panjang yang berlangsung selama berbulan-bulan. Rangkaian tersebut ditutup dengan acara makan bersama. Setiap anak, dengan bantuan orang tuanya, memasak sendiri dan menyajikan makanan khas bangsanya masing-masing. “Prasangka yang berasal dari ketidakpedulian dapat dilawan sangat dini dengan tindakan semacam ini,” ujar Gulten Kunt, pimpinan pusat penitipan anak Wackelzahn.

Menurutnya, penting bagi anak-anak untuk belajar mengenai beragam budaya berbeda dan mendapati kesamaan, serta bersikap terbuka terhadap orang-orang dari budaya yang berbeda. Yanuar Jatnika