Sabtu, 23 September 2017

Opini

Beginilah Cara Sekolah di Inggris Membiasakan Siswa Membaca

05 Sep 2017 16:31:19


Beginilah Cara Sekolah di Inggris Membiasakan Siswa Membaca

SAHABAT KELUARGA - Survei Programme for International Students Assessment (PISA) di pengujung 2016 menunjukkan kemampuan literasi siswa di Indonesia masih rendah. Dari 72 negara yang disurvei, posisi kita belum memuaskan karena hanya unggul dari delapan negara (Kompas, 7/12).

Kompetensi membaca peserta didik kita belum menunjukkan peningkatan yang signifikan dibanding tahun sebelumnya, atau dengan perolehan poin sebanyak 396 di tahun 2012 menjadi 397 di tahun 2015. Padahal kemampuan ini penting bagi siswa. Selaras dengan ungkapan bahwa buku adalah gudang ilmu. dengan membaca, siswa dapat belajar berbagai hal dan menggali beragam informasi.

Saya ingin berbagi kisah tentang bagaimana sekolah di Inggris mengenalkan buku kepada para siswanya. Meskipun Inggris sejatinya bukan contoh nomor wahid, namun skor siswa mereka masih di atas rerata negara yang disurvei.

United Kingdom, atau Inggris mulai mengenalkan buku sejak dini. Amat mudah menemukan buku-buku bacaan di sekolah kedua anak Saya, Tiverton Academy School, Birmingham, Inggris. Setiap mengantar Aksara, putri Saya yang berusia 3 tahun ke Nursery School (setingkat kelompok bermain), Saya bersua dengan beragam buku di sudut ruang tunggu. Para orang tua dapat memilih berbagai buku bacaan lantas membacanya di sofa yang nyaman.

Buku juga dibiarkan “berserakan” di ruang-ruang kelas. Buku tidak diletakkan di lemari tertutup, namun sengaja dibiarkan di tempat terbuka agar anak-anak mudah meraihnya. Pemandangan ini kerap Saya jumpai saat mengantar Binar, putra Saya berusia 6 tahun, yang bersekolah di jenjang Year 2 (setara kelas 1 SD) pada sekolah yang sama dengan adiknya.

Sekolah berusaha mengenalkan buku melalui beragam cara. Uniknya, sekolah membuat tempat duduk dari semen berbentuk lembaran buku yang sedang dibuka. Sehingga secara visual, anak-anak dekat dengan buku di lingkungan sekolah sejak dini.

Selain menghadirkan buku di sekeliling sekolah, setiap hari, guru membacakan buku untuk seluruh siswa di kelas. Lantas setiap pekan, guru akan membacakan buku di sisi siswa secara bergantian. Mereka akan membaca buku dengan murid satu persatu atau one on one reading, lalu pekan berikutnya membacakan buku secara berkelompok.

Membaca Bersama Orang tua

Setiap dua bulan, sekolah mengundang seluruh orang tua siswa untuk datang ke sekolah dan membaca buku bersama putra-putri mereka. Kegiatan ini baru saja Saya ikuti beberapa waktu lalu. Seru. Setiap orang tua (ayah atau ibu) diberikan pilihan beragam buku, lantas mereka membacakannya disisi putra-putrinya, berdua saja. 

Tak sekadar buku, sekolah juga menyediakan alat peraga sesuai dengan judul buku. Contohnya, Saya mengambil buku yang berkisah tentang Burung Hantu Pemberani. Saya pun diberikan sepaket bahan mendongeng dalam karung kecil. Isinya, boneka burung hantu, beberapa boneka satwa di hutan, dan pohon-pohon kecil buatan. Sehingga anak-anak lebih tertarik, dan orang tua pun dapat lebih mendalami cerita yang mereka bacakan.

Kami membaca/mendongeng di aula sekolah sekira 20 menit. Beberapa saat kemudian, sekolah mempersilakan para orang tua menuju ruang kelas anaknya masing-masing. Saya kira kegiatannya sudah usai. Ternyata, di dalam kelas, guru mempersilakan para orang tua untuk mengambil buku yang berserak di meja-meja kelas. Lagi-lagi, kami diminta membacakan buku berdua bersama anak-anak kami selama 10 menit.

Selain itu, setiap anak diberikan buku harian yang berisi catatan kegiatan membaca yang dilakukan bersama orang tua di rumah. Orang tua dapat mengisi judul buku yang dibaca dan komentar mereka usai membaca untuk anak-anak mereka. Oya, buku-bukunya diberikan secara cuma-cuma dari sekolah. Saban hari, putra Saya membawa buku yang berbeda-beda. Mulai dari buku dongeng, kartun animasi, sampai buku Atlas Junior, yang berisi beragam informasi tentang adat dan budaya anak-anak dari berbagai belahan dunia.

Saat sebagian besar masyarakat Inggris merayakan Natal sebulan silam, seluruh siswa mendapatkan kado dari sekolah, termasuk anak Saya. Apa kadonya? Buku! Si bungsu mendapatkan buku cerita bergambar dinosaurus, sedang si sulung mendapat buku cerita tentang peternak dan hewan-hewan ternaknya.   

Kegiatan membaca juga mendapat cukup dukungan dari industri buku di Inggris. Harga buku untuk anak-anak dibanderol cukup terjangkau. Saya dapat membeli 1 buah buku anak-anak, dengan fitur pelantang suara, dengan harga 2 poundsterling, atau sekira Rp 35 ribu. Beberapa penerbit buku di Inggris juga kerap memberikan potongan harga bagi siswa, sehingga para orang tua mudah merogoh kocek untuk membeli buku bagi putra-putrinya. 

Yohan Rubiyantoro, Pegawai Ditjen PAUD dan Dikmas, sedang melaksanakan tugas belajar di University of Birmingham, Inggris.