Senin, 25 September 2017

Sekolah Keren

Saat Keluarga Lebih Dulu Belajar

16 Jul 2017 23:59:57


Saat Keluarga Lebih Dulu Belajar

SAHABAT KELUARGA – Akhir pekan biasanya digunakan keluarga untuk berlibur atau bersantai di rumah, tapi tidak dengan keluarga yang anaknya bersekolah di School of Human, Cibubur, Jawa Barat. Pada Sabtu (15/7/2017) kemarin, orang tua/wali siswa baru berbondong-bondong menghadiri pertemuan orang tua sebelum dimulainya tahun ajaran baru.

Pertemuan itu menjadi salah satu komitmen awal yang dilakukan oleh orang tua/wali dengan pihak sekolah. Dalam pertemuan awal tersebut, orang tua/wali diminta untuk mengikuti ‘Kelasnya Orang Tua’ selama dua hari penuh yakni Sabtu dan Minggu (16/5/207).

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga sangat menyambut baik sekolah dengan jenjang pendidikan SMP dan SMA ini melakukan pertemuan dengan orang tua di awal sekolah.

”Yang paling berkepentingan dalam keberhasilan anak di sekolah tentu adalah keluarga, sekolah sebenarnya adalah membantu. Tentunya kolaborasi ini perlu dibangun agar peran keluarga sebagai pendidik pertama dan utama bisa berjalan dengan baik dan tidak tergeserkan. Tentunya dibutuhkan komunikasi intensif antara sekolah dan keluarga. Sekolah ini ternyata sudah melakukan dengan sangat baik,” kata Dr. Sukiman, M.Pd, Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga yang turut hadir dalam pertemuan tersebut.

Dalam kesempatan itu, Dr. Sukiman, M.Pd juga menyampaikan pesan pemerintah tentang keterlibatan langsung keluarga di sekolah. Ada 4 cara yang bisa dilakukan keluarga dan sekolah dalam mengkolaborasikan pendidikan keluarga.

Pertama, terbentuknya paguyuban orang tua dalam level kelas. Hal ini perlu dilakukan agar terjalin komunikasi intensif antara keluarga dan sekolah sehingga setiap permasalahan anak bisa dikomunikasikan bersama.

Yang kedua, terlaksananya kelas orang tua. Yakni mengumpulkan orang tua/wali untuk hadir bersama-sama di sekolah membahas satu topik yang sudah disepakati orang tua, misalnya isu-isu yang membahayakan anak seperti narkoba atau bullying. Dari pertemuan itu, terbentuk solusi baik yang bisa melindungi anak untuk tidak terjebak pada kasus negatif.

Ketiga, kelas inspirasi. Yakni kegiatan yang dilakukan oleh orang tua/wali siswa untuk menceritakan tentang profesinya kepada siswa dan diharapkan siswa mendapatkan inspirasi dari cerita tersebut. ”Pihak sekolah perlu mendata latar belakang orang tua/wali siswa tentang profesinya, kemudian diundang untuk menceritakan hal tersebut di depan anak-anak. Tak perlu waktu khusus, bisa dilakukan saat upacara bendera pagi hari selama 15 menit,” urai Dr. Sukiman, M.Pd.

Dan yang terakhir, pentas akhir tahun sebagai bentuk perayaan untuk anak setelah melakukan proses belajar selama satu tahun. Pelaksanaan pentas akhir tahun dilakukan oleh komite sekolah yang berkoordinasi dengan kepala sekolah.

”Di akhir tahun mungkin guru-guru sibuk dengan nilai dan raport, karena itulah perlu keterlibatan orang tua dalam mensukseskan pentas akhir tahun. Biarkan anak-anak tampil sesuai kemampuannya dan orang tua bersama-sama menyaksikan penampilan anak-anak itu. Moment inilah saatnya memberikan apresiasi pada anak khususnya pada prestasi non akademik,” tegas Dr. Sukiman.

Sudah Melaksanakan

Keterlibatan keluarga yang diharapkan pemerintah ternyata 80 persen sudah dilaksanakan oleh School of Human (SOH). Di sekolah yang digagas oleh praktisi pendidikan Munif Chatib ini, keterlibatan keluarga sudah harus dilakukan sejak awal mendaftar.

Saat anaknya diterima di sekolah itu, orang tua harus berkomitment untuk mengikuti program ‘Kelasnya Orang Tua’. ”Kami sampaikan ke orang tua, setelah anaknya diterima, yuk orang tua, dua hari ikuti program kami, inilah komitmen bersama. Semua yang dilakukan untuk kepentingan anak,” kata Andi Budimanjaya, Kepala Sekolah SOH.

Bagi sekolah yang baru berdiri pada tahun 2015 ini, kunci pertama keberhasilan pendidikan adalah adanya sinkronisasi antara rumah dan sekolah. Kelas Orang Tua bertujuan untuk membangun kesamaan paradigma dan pola didik. Setiap masalah pada anak akan membutuhkan kerja sama untuk menemukan solusi terbaik.

Kelas orang tua dilakukan setiap dua bulan sekali. Materi yang disampaikan pun beragam. Seperti saat awal pertemuan kemarin yang dibagi menjadi dua sesi, materi pertama bertema ‘Menjadi Orang Tua Inspiratif dengan Multiple Intelligences’ yang disampaikan oleh Andi. Sedangkan, sesi kedua yang berlangsung hari Minggu, mengambil tema tentang remaja dan permasalahannya yang disampaikan oleh Munif Chatib.

Menurut Andi, setiap materi yang disampaikan diambil sesuai dengan kebutuhan orang tua. ”Orang tua kita kasih angket, apa saja yang jadi kendala terkait putra putri kita, hasil dari angket itu akan dijadikan tema. Nara sumbernya bisa dari dalam internal sendiri atau kita datangkan ahlinya dari luar,” jelas Andi.

Setelah kelas orang tua, keterlibatan orang tua lainnya dengan dibentuknya pengurusan komite sekolah. ”Jajaran kepengurusannya sampai level kelas. Jadi setiap kelas ada perwakilan komite sekolah. Sifatnya membantu program sekolah. Komite juga memiliki program sendiri dan sekolah akan mendukung,” jelas Andi.

Tidak hanya secara umum dalam lingkup sekolah atau kelas, hubungan baik antara sekolah dan keluarga juga terjadi secara intensif lewat mentor. Sedikitnya 10 mentor siap menemani siswa jenjang kelas SMP dan SMA. Setiap mentor mengampu lebih dari 3 keluarga.

Dijelaskan Andi, mentor berbeda dengan wali kelas. Mentor lebih menangani masalah non akademis, sementara wali kelas bersifat administratif dan akademis. ”Mentor berfungsi menjadi satu satuan keluarga, sehingga keluarga tidak hanya di rumah, tapi juga di sekolah. Hal ini sangat efektif untuk menghindari bullying. Keluarga atau siswa boleh menceritakan apapun masalah yang terjadi antara di rumah atau sekolah,” urai Andi.

Pelibatan keluarga lainnya yang dijalankan SOH yakni melaksanakan rutin program kelas inspirasi selama dua bulan sekali. Kelas inspirasi disampaikan oleh orang tua siswa kepada murid-murid. Tujuannya memberikan inspirasi pada siswa untuk menentukan tujuan pendidikan dan cita-cita yang ingin dikembangkan dan diraihnya.

”SOH adalah sekolah yang memanusiakan manusia. Ketika siswa hadir di sekolah, mereka tahu bakat, potensi dan minatnya. Mereka sudah tahu apa yang akan dikerjakannya, tujuannnya serta cita-citanya. Ketika mereka masuk ke jenjang lebih tinggi, mereka tahu apa potensinya dan bagaimana melesatkannya,” urai Andi.

Sesuai visinya, School of Human merupakan sekolah yang menghargai setiap potensi manusia sebagai ciptaan Tuhan YME yang terbaik dengan membantu peserta didiknya menemukan profesi yang profesional sesuai minat dan bakat, minat dan pandangan dunianya sehingga siap menghadapi era globalisasi dengan menjunjung tinggi akhlakul karimah. (Bunga Kusuma Dewi)