Jumat, 28 July 2017

Keluarga Hebat

Maria Erry Susianti, ibunda Asma Nadia (3) – Terapkan Pola Diskusi dan Membangun Kenyamanan

15 Jul 2017 00:05:11


Maria Erry Susianti, ibunda Asma Nadia (3) – Terapkan Pola Diskusi dan Membangun Kenyamanan

SAHABAT KELUARGA – Mesin ketik menjadi barang sangat berharga untuk menyalurkan minat menulis anak-anak Maria Erry Susianti. Melihat pentingnya mesin ketik, Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia bertekad untuk mencari uang sendiri untuk membeli mesin ketik.

Tanpa sepengetahuan ibunya, mereka mengamen puisi di bus. ”Mereka tidak memberitahu saya, mungkin karena tidak mau saya sedih. Tapi akhirnya saya tahu juga. Saya tidak marah, tapi menasehati mereka untuk rajin menabung dan terus menulis,” kata Maria.

Maria berpesan kepada anak-anaknya agar tidak lagi mengamen di bis kota karena masih kecil dan khawatir jatuh atau dijahati orang di jalan raya. Maria lantas mengarahkan anak-anak untuk ikut lomba menulis, puisi dan bercerita.

”Nah mereka mulai memenangkan lomba-lomba ini dan akhirnya bisa membeli buku dan perlengkapan sekolah, serta menabung,” kenang Maria.

Buku-buku cerita yang dibeli anak-anak tidak hanya memuaskan minat baca anak-anaknya tapi juga dimanfaatkan dengan baik oleh mereka. Diceritakan Maria, dari hasil tabungannya, anak-anak sudah bisa membeli buku, namun hanya 10 buku saja.

Namun, dari 10 buku itu, Helvy yang ketika itu duduk dibangku kelas 3 SD dan Asma yang duduk dibangku kelas 1 SD sudah berani menggelar 10 buku tersebut di atas meja kayu di depan rumah kontrakan.

Buku-buku tersebut digelar untuk disewakan pada teman-temannya. ”Kalau mereka melihat ada anak kecil yang hanya memandang dan tidak punya uang seperti mereka, maka anak itu dipinjamkan gratis asal menjadi sahabat mereka,” kenang Maria.

Maria juga membangun perpustakaan mini di rumahnya. Tapi jangan membayangkan perpustakaan dalam arti sebenarnya. Karena, tidak ada ruangan khusus untuk meletakan buku. Anak-anak menaruh rak buku di kamar mereka dan menyebutnya perpustakaan.

”Padahal isinya hanya beberapa buku, kebanyakan buku bekas, tapi anak-anak bangga dan menyebutnya perpustakaan. Saat itu saya hanya bisa mendoakan kelak semua rumah anak saya ada perpustakaan,” kenang Maria.

Doa ibu terkabul, bukan hanya perpustakaan di rumah, tapi Helvy dan Asma bisa membuat perpustakaan umum. Helvy dengan Forum Lingkar Pena membangun Rumah Cahaya (Rumah baca dan Hasilkan Karya) di berbagai daerah di Indonesia, sedangkan Asma membangun lebih dari 300 rumah baca di seluruh Indonesia.

Lalu bagaimana pola pendidikan yang diterapkan Maria pada anak-anaknya? Dijelaskan Maria, prioritas utama dalam mendidik anak adalah menjadikan mereka cerdas dan berahlak mulia.

”Meski tidak paham teori waktu itu, saya yakin kecerdasan anak bermacam-macam. Tidak semua harus jago matematika, misalnya. Saya juga ingin menjadikan anak-anak saya orang yang selalu punya empati tinggi terhadap orang lain,” kata Maria.

”Mungkin kami susah, tapi banyak orang lain lebih susah. ‘Apa yang bisa kita bantu, ayo kita bantu!’ itu yang saya ajarkan pada anak-anak. Saya juga selalu menanamkan rasa syukur pada anak-anak. Rasa syukur itu harus menuntun kita menjadi hamba Allah yang baik,” tambah Maria.

Karena itulah Maria tidak pernah memaksakan ketiga anaknya untuk belajar akademik secara keras. Menurutnya, proses belajar seseorang tidak hanya dari guru di depan kelas tapi dari semua orang dan alam semesta. ”Belajar adalah hidup itu sendiri. Setiap gerak kita adalah proses belajar,” ujarnya.

Dengan pola seperti itu, Maria melihat anak-anaknya lebih nyaman belajar dengan cara diskusi. Baik antar kakak adik maupun dengan orang tua. ”Kami tidak pernah mengharuskan belajar 2 jam sehari, tapi anak-anak dengan kesadaran sendiri mengulang dan membaca kembali pelajaran sekolah di rumah dan saya coba sampaikan pada mereka apa relevansinya bagi kehidupan ini. Itulah yang membuat anak-anak suka diskusi,” jelas Maria.

Maria bersama suami juga tidak pernah memaksa anak-anaknya harus menjadi juara kelas, meskipun kenyataannya ketiganya merupakan juara kelas. Maria juga tidak pernah memaksa menentukan jurusan pendidikan anak.

Maria misalnya, ingin agar Helvy menjadi dokter karena kemampuannya cukup baik untuk kuliah kedokteran. Tapi, Helvy memilih masuk fakultas sastra. Maria mendukung keputusan Helvy karena dia tahu sejak kecil anak sulungnya itu memiliki minat besar pada sastra.

”Kebersamaan yang berkualitas bersama anak-anak membuat kita tahu apa yang mereka inginkan, apa yang mereka sukai dan kuasai. Saya dan suami mencermati dan mendorong mereka ke arah itu,” tegas Maria. *Bersambung ke Maria Erry Susianti, ibunda Asma Nadia (4-Habis) – Peran Ayah dan Lahirnya Keluarga Penulis (Bunga Kusuma Dewi)