Jumat, 28 July 2017

Keluarga Hebat

Maria Erry Susianti, ibunda Asma Nadia (2) – Mewujudkan Minat Anak-Anak

15 Jul 2017 00:04:08


Maria Erry Susianti, ibunda Asma Nadia (2) – Mewujudkan Minat Anak-Anak

SAHABAT KELUARGA – Tingkat peradaban suatu negara akan tinggi bila semakin banyak orang yang membaca dan menulis di negeri itu. Membaca akan menambah ilmu pengetahuan dan wawasan, menulis membuat kita berbagi pikiran hingga perasaan pada orang lain.

Membaca dan menulis menjadikan kita orang yang lebih berani. Hanya mereka yang berani yang selalu ingin menambah wawasan. Hanya orang-orang hebat yang berani mengungkapkan gagasan, buah pikirnya pada masyarakat.

Membaca dan menulis bukan hanya menambah pengetahuan, tapi mengasah jiwa yang berani berbagi dan peduli.

Dengan banyak alasan tersebut diatas, Maria Erri Susianti merasa sangat perlu untuk menularkan minat baca dan menulis pada tiga anak-anaknya, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia dan Aeron Tomino. Hasilnya cukup menganggumkan, saat ini dua anak perempuannya menjadi novelis dengan karya best seller.

”Saya menanamkan pada anak-anak, apapun profesi mereka kelak, membaca dan menulis harus menjadi keterampilan mereka dalam menghadapi kehidupan ini,” kata Maria.

Maria melihat minat anak-anak untuk membaca dan menulis sudah muncul sejak mereka balita. ”Mungkin karena mereka sering melihat saya tiap hari membaca dan menulis, maka mereka ‘ikut-ikutan’ dan lama-lama jadi kebiasaan. Jadi budaya di rumah,” tambah Maria.

Namun, Maria harus berjuang keras untuk mewujudkan minat anak-anak pada membaca dan menulis. Diceritakan Maria, kehidupan mereka ketika itu sangat sederhana. Kebutuhan ekonomi cukup untuk makan dan biaya sekolah. ”Untuk membeli sebuah buku cerita tipis sekalipun susah sekali,” ujarnya.

Di masa itu belum terlalu banyak juga perpustakaan dan taman bacaan di sekitar rumah. Kalaupun ada tempat penyewaan komik, Maria dan anak-anaknya tak bisa menyewa komik karena tidak punya uang lebih.

”Anak-anak sering diusir dari sana, padahal cuma dengan riang kagum lihat-lihat buku,” kenang Maria sedih.

Untuk mengganti bahan bacaan anak-anak, Maria terpaksa memberikan kertas bekas bungkus cabai atau bawang sepulangnya dari pasar. Menurut Maria, meski koran bekas, anak-anak sangat antusias dan berebutan menyambut kedatangan ibunya dari pasar demi selembar kertas untuk dibaca.

”Saya sedih melihatnya. Tapi setiap kali ke pasar, saya minta bungkus korannya dibanyakin agar anak-anak bisa membaca lebih panjang. Saya juga sering jalan kaki kemana-mana agar bisa menghemat ongkos, dan uangnya bisa sekedar beli sebuah buku yang tipis atau majalah bekas,” kenang Maria.

Selain mengumpulkan kertas bekas, Maria juga mencari cara untuk memenuhi minat baca anaknya. Sambil membawa barang dagangan seprai ke kawan-kawan, biasanya Maria bercerita kalau anaknya suka membaca namun tidak memiliki buku.

Maria memberanikan diri untuk meminjam buku-buku cerita milik anak-anak temannya dan berjanji pada mengembalikan buku dalam keadaan baik dan tidak rusak. Bahkan dia juga berjanji untuk menyampulnya.

”Alhamdulillah setiap hari saya bisa membawa 5-10 buku untuk dibaca anak-anak saya. Wah mereka bahagia bukan kepalang. Tapi saya minta mereka berjanji tidak boleh rusak, bahkan tidak boleh ada bagian halaman yang dilipat, agar orang tidak kapok meminjami buku lagi,” kata Maria.

Begitu juga dalam hal menulis. Saat anak-anak menulis, Maria selalu antusias untuk membacanya. ”Saya tidak pernah menghina, tapi selalu menyemangati dan menunjukkan rasa bangga saya akan kegiatan mereka,” ujar Maria.

Beberapa hal dilakukan Maria untuk menambah kosa kata anak-anaknya yang ketika itu masih duduk dibangku Sekolah Dasar. Antara lain melakukan permainan teka-teki silang, scrabble, permainan Pacasila 5 Dasar, tebak kata, bermain sinonim antonim kata, hingga merekam dongeng yang mereka ceritakan sendiri.

Maria juga memotivasi mereka menulis catatan harian setiap hari meski hanya satu atau bahkan seperempat halaman.

Salah satu cerita pilu yang dialami anak-anak yakni ketika mereka SD ingin sekali menulis untuk majalah dan koran, namun mereka tidak memiliki mesin ketik. Tapi anak-anak tidak putus asa, mereka tetap menulis dengan tulisan tangan dan mengirimkan pada majalah dan koran.

Sayang, tulisan tangan tersebut selalu dikembalikan dan tidak bisa dimuat. Maria akhirnya meminjam sebuah mesin ketik dari tetangganya. Anak-anak menuliskan ulang cerita yang sudah dibuat menggunakan mesin ketik, lalu mengirim kembali ke majalah dan koran. Tak berapa lama cerita tersebut diterima dan dimuat di majalah dan koran.

”Saya bertekad suatu hari nanti bisa membelikan mereka mesin ketik. Tapi kelak mereka bisa membeli mesin tik dari uang hasil mereka menulis saat remaja. Namun saat mereka berhasil membeli mesin ketik, orang-orang sudah memiliki komputer, hehehehe,” kenang Maria tertawa. *Bersambung ke Maria Erry Susianti, ibunda Asma Nadia (3) – Terapkan Pola Diskusi dan Membangun Kenyamanan (Bunga Kusuma Dewi)