Jumat, 28 July 2017

Keluarga Hebat

Maria Erry Susianti, ibunda Asma Nadia (1) – Tularkan Minat Baca, Mendongeng dan Menulis

15 Jul 2017 00:02:07


Maria Erry Susianti, ibunda Asma Nadia (1) – Tularkan Minat Baca, Mendongeng dan Menulis

SAHABAT KELUARGA – Tumbuh dari ibu yang suka menulis dan membaca, membuat Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia besar dengan hobby yang sama. Ratusan karya telah tercipta dari kakak beradik itu. Yang popular, beberapa karya novel Helvy dan Asma mencapai penjualan terbaik, bahkan dari beberapa itu juga telah diangkat dalam film layar lebar dan menembus box office.

Kesuksesan Helvy dan Asma tentu tak lepas dari peran ibunya, Maria Erry Susianti. Ditengah keterbatasan hidup di tepi rel kereta api di wilayah Gunung Sahari, Jakarta Pusat, ibunya memuaskan minat baca anak-anaknya dengan mengumpulkan kerta-kertas bekas bungkus cabai sebagai bahan bacaan anaknya.

Saat anak-anak kecil, Maria tinggal di tak jauh dari tepi rel kereta api di Gunung Sahari. Tak lama pindah ke Kebon Kosong Kemayoran Gang 8, Jakarta Pusat. Di gang sempit dan tak dapat dilalui mobil itu, Maria membantu perekonomian suaminya, Amin Usman, dengan cara berjualan keliling dagangan seprai milik kakaknya.

”Meski kehidupan kami sederhana, tapi kami selalu riang gembira dan bahagia. Tak pernah ada kata menyerah dalam hidup. Yang terpenting, anak-anak tetap bisa sekolah,” kata Maria kepada Sahabat Keluarga.

Disela-sela menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga, Maria juga masih sempat meluangan waktu untuk membaca. Buku apapun yang ditemuinya akan dia baca. Aktivitas tersebut terekam dengan baik oleh tiga anaknya, Helvy, Asma dan si bungsu Aeron Tomino.

Ketiga anaknya sering memperhatikan ibunya membaca dan sering bertanya-tanya kenapa ibunya suka membaca dan apa pentingnya membaca. Pertanyaan polos dari anak-anak tersebut selalu dijawab Maria dengan sangat antusias.

”Saya bilang pada mereka, bahwa saya selalu mengintip dunia dari dalam buku. Mereka tertawa-tawa dan jadi ingin juga ‘mengintip’ dan pergi ke dunia yang yang ada dalam buku. Karena saya menjalaninya dengan riang, anak-anak berpikir bahwa saya bertambah bahagia setiap membaca sebuah buku. Saya juga yakinkan bahwa buku bisa membuat pembacanya bertambah pintar,” jelas Maria

Selain membaca, Maria juga rutin membacakan dongeng untuk tiga anaknya. Menurutnya, membacakan dongeng di depan anaknya berarti dia telah membuka kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan anak-anak.

Selain itu, dengan mendongeng, Maria bisa memberi arahan, mengajarkan keteladanan dan hikmah yang terkandung dalam sebuah cerita, tanpa mereka merasa digurui.

Maria selalu merasa antusias ketika mendongeng, karena anak-anak selalu senang diceritakan tentang kisah apapun. Selesai mendongeng, Maria akan mengajak berdiskusi dengan anak-anaknya mengenai jalan cerita dongeng tersebut, termasuk menceritakan hal baik dan buruk yang bisa dipelajari dari cerita tersebut.

”Saya suka lihat binar mata anak-anak kalau saya dongeng. Apalagi kalau saya peragakan juga. Saking seringnya saya mendongeng, anak-anak terbiasa dan belajar juga untuk mendongeng. Jadi biasanya sesudah saya mendongeng, anak-anak rebutan juga ingin mendongeng,” kenang Maria.

Lucunya, menurut Maria, dongeng yang anak-anak ceritakan sering spontan dan tak terduga. Apalagi saat itu mereka belum bisa membaca. ”Disitulah selain melatih anak-anak untuk belajar menyimak, sebenarnya tanpa saya sadari, saya telah melatih mereka kecakapan berbicara,” tambah Maria.

Selain membaca dan mendongeng, Maria juga menunjukkan keseruan menulis. Hampir setiap hari Maria menulis buku harian miliknya. Aktivitas itu sering kali dilihat anak-anaknya. Kadang Maria menulis sambil tersenyum atau kadang sedih. Hal itu membuat penasaran anak-anak dan bertanya-tanya tentang aktivitas ibunya.

”Saya tak pernah menyuruh mereka. Saya hanya melakukan, mencontohkan mereka. Saat mereka penasaran dan bertanya, baru saya ceritakan bahwa nanti kalau saya sudah tidak ada, saya ingin apa yang saya alami mereka ketahui dari buku catatan harian itu,” kata Maria.

Maria juga menjelaskan kepada anak-anaknya bahwa menulis bisa membuat jejak manusia di dunia jadi abadi. ”Lagi pula asik karena kita bisa menulis apa saja, suka suka kita di catatan harian kita sendiri. Semua kebahagiaan, kesedihan, kemarahan, keindahan bisa kita tuliskan. Akhirnya anak-anak merasakan juga asyiknya dan jadi terbiasa menulis catatan harian,” tambah Maria. *Bersambung ke Maria Erry Susianti, ibunda Asma Nadia (2) – Mewujudkan Minat Anak-Anak (Bunga Kusuma Dewi)