Jumat, 28 July 2017

Berita

Guru Juga Perlu Diorientasi

14 Jul 2017 11:11:26


Guru Juga Perlu Diorientasi

SAHABAT KELUARGA- Masa pendafataran siswa baru telah usai. Kini saatnya para siswa mempersiapkan diri memasuki sekolah baru dan mengikuti masa orientasi. Masa orientasi ini penting bagi mereka sebagai tahap pengenalan lingkungan sekolah, civitas akademika, dan budaya sekolah (school culture). Namun, kegiatan masa orientasi tidak seharusnya diperuntukkan bagi siswa baru saja, guru pun perlu terlibat aktif dalam masa orientasi ini untuk mengenali siswanya secara  lebih mendalam.

Lantas apa perlunya guru mengikuti masa orientasi? Sebagai guru, mereka perlu merenungkan: “siswa baru saja diminta mengenali sekolahnya, kenapa guru sebagai tuan di sekolah tersebut tidak mau mengenali tamunya?”. Padahal tamu adalah ibarat raja yang perlu dilayani dengan memberikan suguhan yang istimewa.

Terlepas dari itu,  sesungguhnya ada persoalan penting yang perlu dikenali guru, yaitu konteks. Konteks dalam hal ini adalah segala sesuatu yang melingkupi siswa, yaitu latar belakang sosial, kemampuan akademik, cita-cita dan juga harapan siswa.

Mengetahui konteks sejak awal adalah bekal untuk guru mengatasi kemungkinan permasalahan yang akan muncul dalam proses pembelajaran dan pendidikan dengan beberapa alasan.

Pertama, latar belakang sosial siswa perlu diketahui guru, karena kadang ada anak yang tinggal di lingkungan sosial yang bermasalah. Misal, di lingkungan tersebut ada gang atau kelompok anak muda yang memiliki kebiasaan buruk: merokok, minum-minuman keras, mengonsumsi narkotik, dan terlibat pergaulan bebas. Ketika guru mengetahui sejak awal, maka guru dapat bekerja sama dengan orang tua melakukan langkah preventif agar siswa tidak terpengaruh.

Kedua, latar belakang akademik siswa juga perlu dikenali guru. Penerimaan siswa baru yang mendasarkan pada nilai ujian, akan menempatkan siswa menjadi dua kelompok besar:  kelompok siswa yang bernilai bagus yang masuk ke sekolah negeri atau sekolah swasta favorit, dan mereka yang memiliki nilai rendah yang masuk ke sekolah swasta pinggiran.

Jika dilihat dari masukannya, siswa yang masuk sekolah negeri adalah mereka yang memiliki kemampuan akademik lebih bagus dibanding mereka yang masuk di sekolah swasta pinggiran. Namun demikian, guru yang mengajar di sekolah negeri bukan tanpa tantangan. Mereka malah justru menghadapi tantangan lebih berat, yaitu bagaimana membuat siswa yang memang sudah pandai menjadi lebih pandai, bukan malah sebaliknya, mematikan kepandaian siswa karena tidak bisa mengelolanya dengan baik.

Begitu pula guru di sekolah swasta mempunyai tantangan berat, yaitu bagaimana bisa menjadikan siswa yang memiliki motivasi rendah dalam belajar -- karena mereka terlanjur mendapat stigma negatif bahwa mereka merasa siswa buangan dari sekolah negeri – agar tetap bersemangat untuk belajar dan bisa mengembangkan potensi lainnya.

Maka dari itu, guru juga perlu mengetahui cita-cita dan harapan siswanya, agar guru dapat menjalankan perannya tidak hanya mentransfer pengetahuan, tapi juga dapat mengarahkan, menggali bakat-bakat anak serta membimbing anak supaya cita-cita dan harapannya bisa tercapai.

Kesemuanya itu tidak mudah untuk dilakukan guru, oleh karena itu guru harus menguasai seni dalam mengajar. Dalam buku berjudul the Art of Teaching karya Jay Parini, dijelaskan bahwa profesi guru bukanlah sekadar pekerjaan, tapi  sebuah profesi yang memerlukan seni tingkat tinggi.

Dia mengibaratkan kelas sebagai panggung teater, karena itu guru harus mampu memperagakan berbagai macam peran; kadang guru harus bisa berperan sebagai orang yang bijak, orang yang lugu, kadang menjadi pelawak, kadang menjadi motivator, kadang menjadi penyadar dan lain-lain. Peran-peran itu harus diperankannya secara alami dan luwes kendati dalam pengajaran tidak ada yang alami. Namun, guru perlu belajar mengolah rasa, sehingga mereka mampu menguasai seni dalam mengajar dan akhirnya mampu dengan luwes memerankan peran-perannya itu. Dan memahami konteks siswa adalah bekal guru untuk meningkatkan kemampuan seni mengajar. *

Waliyadin, guru Bahasa Inggris DI Semarang dan penerima beasiswa Luar Negeri Program 5000 Kementerian Agama.