Jumat, 28 July 2017

Keluarga Hebat

Fransisca Romana Sumiyati, Penjual Soto dengan 10 Anak Berhasil (3-Habis) - Keberhasilan 10 Anak dan Suka Duka yang Dialami

11 Jul 2017 09:14:34


Fransisca Romana Sumiyati, Penjual Soto dengan 10 Anak Berhasil (3-Habis) - Keberhasilan 10 Anak dan Suka Duka yang Dialami

SAHABAT KELUARGA – Disela-sela berjualan soto dan membuka service jam kecil-kecilan di Klaten pasangan Fransisca Romana Sumiyati dan Yohanes Kirno Surapto tak pernah absen dalam mendukung pendidikan 10 anaknya.

Hasilnya pun berbuah manis. Ke 10 anaknya mencapai keberhasilan dengan bidang masing-masing. Cerita pertama diawali dari anak pertamanya, Dra. Veronica Sri Wigiarti. Selepas SMA, Veronica mendapat kesempatan untuk kuliah di Universitas Negeri Surakarta (UNS). Demi pendidikan anak pertama itu, ibunya terpaksa menjual mesin jahit satu-satunya untuk biaya masuk UNS.

Veronica menempuh pendidikan S1 Ekonomi Administrasi. Tahun 1980 dengan gelar BA, Veronica mulai mengajar sebagai guru tidak tetap sambil kuliah lanjut S1. Kemudian dia berhasil merampungkan gelar sarjana pada tahun 1984 dan menjadi Pegawai Negeri Sipil dengan menjadi guru tetap di sebuah SMK Negeri Jogonala di Klaten. Saat ini, ibu dua anak dan satu cucu itu sudah purnakarya sejak Oktober 2016.

Putra keduanya, Drs. Andreas Joko Witono, menempuh pendidikan Bahasa Inggris di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Andreas sempat mengalami masa kesulitan biaya kuliah dan terpaksa cuti kuliah selama 1,5 tahun.

”Saya berusaha mencari rezeki dengan mencari beasiswa. Kebetulan ada penawaran ikatan dinas dan sekolah yang biayai. Saya ambil kesempatan itu, belajar satu tahun, dan saya ditempatkan di SMP Karanganyar. Setelah itu minta izin untuk melanjutkan kuliah kembali,” kata pria yang saat ini menjadi guru PNS di SMP Negeri di Klaten sejak tahun 1981.

Putra ketiganya, Ir. Samuel Totok Sularto, menempuh pendidikan S1 Teknik Kimia di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Pria dua anak ini bekerja dibidang industry pulp dan kertas.

Anak keempatnya, Drs. Andreas A. Lilik Marwata, menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Keguruan Sastra dan Seni, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta.

Perjalanan karir Andreas diawali dengan menjadi guru disebuah sekolah swasta di Jakarta hingga tahun 2002, selanjutnya menjadi Kepala Biro Umum dan Kepala Sekretariat di Yayasan Bunda Hati Kudus.

Anak kelimanya, Ir. Agus Wardoyo, MT, saat ini bekerja dan tinggal di Bangkok, Thailand. Menurut cerita Erma, anak kesembilan, kakaknya ini merupakan anak yang sangat kreatif. Melalui dia juga Erma dapat merasakan meja belajar berwarna pink yang menarik untuk adik-adik perempuannya.

Agus memiliki ketertarikan menjadi arsitek. Namun sayang, karena biaya kuliah arsitek mahal, termasuk peralatan yang dibutuhkan untuk mendukung arsitek itu, terpaksa Agus mengandaskan mimpinya. Dia lantas mengambil jurusan S1 Elektronika Instruentasi di UGM Yogyakarta dan menerukan S2 di Magister Applied Geophysics di Institut Teknologi Bandung.

Saat ini Agus bekerja di bidang exploration geophysics pada sebuah perusahaan minyak Perancis dan telah bertugas di sejumlah negara antara lain Australia, Malaysia dan Thailand. ”Saya masih ingat betul saat mas Agus ini menggabung-gabungkan papan dan menjadikan papan itu meja belajar warna pink. Saya seneng banget dapat meja baru dari mas Agus,” kenang Erma.

Anak keenamnya, Ir. Heribertus Joko Edi Pramana, MM, sejak kecil merupakan anak yang pintar dan kreatif. Saat kecil, Heribertus berteman dengan anak-anak satu tingkat di usianya. Melihat temannya sudah sekolah, Heribertus tertarik untuk sekolah juga. Dia lantas menemui guru temannya itu dan menyatakan niatnya untuk bersekolah.

Melihat minat yang tinggi untuk sekolah, Heribertus pun akhirnya didaftarkan oleh guru yang ditemuinya. Dia menghadap kedua orang tuanya dan bercerita jika sudah mendaftar sekolah. ”Saya pulang langsung bilang ke bapak ibu kalau sudah daftar sekolah. Ya sudah lanjut seterusnya,” kenang Heribertus.

Meski punya keinginan untuk sekolah, Heribertus seperti anak-anak lainnya yang masih ingin bermain. Hingga kelas 3 SD nilainya dibawah rata-rata. ”Tapi saat kelas 4 saya ketemu guru yang member motivasi tentang sekolah, baru dari situ saya sekolah benar, mengurangi main dan jadi senang belajar,” tambahnya.

Kesenangan itu berlanjut hingga Heribertus SMP dan SMA. Dia semakin senang belajar dan selau meraih rangking 1. Heribertus juga menjadi salah satu diantara 15 anak yang diterima di UGM tanpa tes untuk jurusan Teknik Elektro.

Meski meraih beasiswa, Heribertus merasakan beratnya menjalani kuliah, terutama dalam hal memenuhi kebutuhan hidupnya selama kost di dekat kampus UGM.

”Masa kuliah jadi momen berat. Seharusnya baru balik ke rumah hari Jumat, tapi seringkali Rabu saya balik ke Klaten karena nggak ada uang. Ketika itu jualan soto ibu sedang menurun karena ada pembangunan jembatan,” kenang Heribertus.

Agar kuliah tetap berjalan dengan baik, kebutuhan Heribertus akhirnya dibantu oleh kakak-kakaknya yang sudah mulai bekerja. Dia juga mencari tambahan uang dengan menjadi assistant dosen di kampus.

Untuk meringankan beban pendidikan, Heribertus mengejar beasiswa penuh dengan memenuhi nilai sempurna disetiap mata kuliah. Dia kemudian merintis karir di sebuah perusahaan swasta selama 14 tahun dengan jabatan terakhir sebagai Senior Sales Manager dan Business Development Manager. Dia kemudian pindah ke perusahaan swasta lain selama 5 tahun dengan jabatan terakhir Sales Director for Enterprise Market.

Selanjutnya Heribertus membangun perusahaan sendiri dibidang usaha jasa konsultasi dan implementasi software aplikasi.

Anak ketujuh, Monica Herlina Agustia, SP, melanjutkan pendidikan sarjana Pertanian di Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Wanita dua anak yang senang masak untuk anggota keluarganya ini sekarang bekerja sebagai Supply Chain Division Head di perusahaan multinasional yang bergerak di bidang manufacturing chemical di Tangerang, Banten.

Anak kedelapan, Leonardo Dimas Endriyanto, ST, menempuh pendidikan D3 di Teknik Mesin UGM Yogyakarta. Dia kemudian melanjutkan sarjana Teknik Mesin di Universitas Krisnadwipayana Jakarta. Leonardo memulai karir dari Engineering lalu di Production, Supply Chain, Information Technology dan terakhir di Human Capital Development di sebuah perusahaan suku cadang otomotif.

Anak kesembilan, Dr. Christina Erma Triawati, ST., MT, menempuh pendidikan D3 di Teknik Elektro UGM Yogyakarta. Wanita yang akrab disapa Erma ini kemudian melanjutkan S1 dan S2 Teknik Elektro Universitas Gunadarma di Jakarta.

Pada Februari 2015, Erma merampungkan S3 Teknologi Informasi di Universitas Gunadarma dan dinyatakan sebagai Doktor perempuan pertama khusus bidang Teknologi Informasi untuk penelitian bidang Teknik Elektro di Universitas Gunadarma. 

”Saat wisuda S3, saya teringat dengan almarhum bapak. Bapak nggak bisa melanjutkan pendidikan tinggi karena harus kerja diusia muda. Bapak harus menanggung adik-adiknya setelah mbah putri meninggal. Makanya ketika saya ditawari untuk sekolah lagi S3, saya teringat bapak. Bapak yang menginspirasi saya untuk sekolah terus,” kenang Erma berkisah sambil tak kuat menahan air matanya.

Dia juga berterima kasih pada kakak-kakaknya yang turut mendukung pendidikannya. ”Saya ingat, saat saya SD, kakak saya sudah kuliah. Masa sulit saya terjadi masa remaja. Dulu saya pengen banget punya buku harian yang wangi dan warna warni, tapi saya nggak punya uang untuk beli. Akhirnya kakak-kakak saya yang membantu mendapatkan keinginan saya,” kata Erma yang saat ini mengabdikan dirinya sebagai dosen di kampus tempatnya menimba ilmu.

Anak kesepuluh alias bungsu, Agnes Yuli Sulistyani, S.Pd, menempuh kuliah S1 jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Swasta di Yogyakarta. Kehidupan Agnes sudah lebih baik, selain dari orang tuanya, Agnes juga dibantu oleh kakak-kakaknya.

Agnes menikah dengan pria berkewarganegaraan Australia dan saat ini tinggal bersama suami dan 2 anaknya di Australia. Agnes juga bekerja di sekolah Nairne Primary School di Australia Selatan sebagai guru budaya dan bahasa Indonesia serta memandu murid-murid Asia yang belajar di Australia.

Dengan 10 anak yang sudah sukses dengan bidangnya masing-masing, di masa tuanya Fransisca atau akrab disapa Sumiyati ini tinggal menikmati hidup sangat baik dikelilingi 24 cucu dan 1 cicit. Baginya yang terpenting adalah 10 anak beserta pasangan dan anak-anaknya selalu bisa kumpul merayakan Hari Raya Natal seperti yang dulu selalu mereka lakukan. (Habis – Bunga Kusuma)

10 Anaknya telah bergelar sarjana

10 Anaknya juga telah menikah

Wisuda anak ke-2

Wisuda anak ke-3

Wisuda anak ke-4

Wisuda anak ke-5

Wisuda anak ke - 6

Wisuda anak ke - 7

Wisuda anak ke 8

Wisuda anak ke-9

Wisuda anak ke-10