Jumat, 28 July 2017

Keluarga Hebat

Fransisca Romana Sumiyati, Penjual Soto dengan 10 Anak Berhasil (2) – Hidup dalam Kesederhanaan

11 Jul 2017 09:09:24


Fransisca Romana Sumiyati, Penjual Soto dengan 10 Anak Berhasil (2) – Hidup dalam Kesederhanaan

SAHABAT KELUARGA – Memiliki 10 anak dengan kehidupan sederhana dari berjualan soto tak menyurutkan niat Fransisca Romana Sumiyati dan almarhum suaminya, Yohanes Kirno Suprapto untuk memberikan pendidikan tinggi untuk anak-anaknya.

Ditengah kesibukan menyiapkan bahan-bahan soto dan berjualan, Fransisca atau akrab disapa Sumiyati tetap membagi waktu untuk mendidik anaknya. Hampir setiap sore, Sumiyati dan suami menemani 10 anaknya belajar di meja belajar.

Selama 3 jam Sumiyati duduk dibelakang anak-anak yang sedang belajar. Suaminya membaca koran, sedangkan Sumiyati membaca doa. Tujuannya untuk sekedar menemani dan menjaga anak-anaknya agar fokus belajar serta tidak terpengaruh oleh televisi atau bermain. 

Mimpinya sederhana, agar anak-anaknya bisa seperti pegawai berseragam rapi yang setiap hari lewat di depan warungnya.

Untuk mewujudkan itu, Sumiyati dan suaminya berkomitment untuk mendukung pendidikan anaknya. Salah satunya dengan mengantarkan anaknya ke sekolah. ”Ibu hanya punya satu sepeda motor yang dipakai untuk mengantar kami kemana-mana. Setiap hari ibu yang antar sendiri naik motor bergantian,” kenang Dra. Veronica Sri Wigiarti, putri pertamanya.

Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, Sumiyati menyempatkan diri untuk menyiapkan sarapan untuk 10 anaknya. Menu yang pasti ada di meja makannya setiap pagi yakni susu segar yang dia beli di pasar.

Sedangkan, menu lainnya untuk sarapan sangat beragam. ”Kalau makan apa saja kami anak-anak menerima. Kadang ibu bikin telur dicampur-campur yang kemudian dibagi menjadi 10 bagian. Anak-anak nggak ada yang neko-neko, menerima apa saja yang disajikan ibu, yang penting kami sarapan,” kata Veronica.

Sumiyati juga kadang menyiapkan bekal untuk anak-anaknya dibantu oleh Monica Herlina Agustia, SP, anak ketujuh yang jago masak. Bekal tersebut yang membuat anak-anak jarang jajan saat di sekolah.

Tidak hanya itu, ke 10 anaknya juga menerima kondisi ayah ibunya yang sederhana. ”Karena keuangan ibu tidak stabil untuk 10 anak, kadang kami memakai baju atau sepatu turunan. Kalau sudah tidak cukup oleh kakak, diturunkan ke adik. Jadi nggak heran kalau diantara kami pernah menggunakan sepatu sudah jebol turunan dari kakak,” kenang Dr. Christina Erma Triawati, ST., MT, putri  kesembilannya.

Sedangkan untuk baju, setiap Hari Raya Natal, anak-anak perempuan Sumiyati selalu mendapatkan baju baru. Bukan dari membeli, tapi menjahit sendiri dengan motif yang sama semua.

Anak-anak juga sangat mengerti dengan kondisi orang tuanya. Karena itulah, setiap hari anak-anak membantu orang tua di warung dan service jam. Rutinitas harian itu diajarkan orang tua mereka sebagai bentuk kepedulian atas kesibukan orang tuanya. Diantara 10 anak tersebut, mereka berbagi tugas untuk membantu ibunya di warung atau membantu bapaknya toko service jam. 

Meski turut membantu kedua orang tuanya, anak-anak tetap mendapatkan kesempatan bermain atau santai. "Biasanya menjelang sore hari kami yang masih usia SD main di lapangan belakang rumah. Ada juga yang memanfaatkan waktu santai dengan membaca. Setelah puas kami main atau santai, selanjutnya kami menyelesaikan tugas rutin di rumah yaitu bersih-bersih rumah, menyapu, ngelap-ngelap dan ada juga yang bantu memasak," jelas Erma. 

Menurut anak-anak, ibunya cukup keras dalam mendidik mereka. Ibunya selalu berada di garis paling depan jika ada teman-teman anaknya yang datang ke rumah. Ibunya bisa bertanya banyak hal pada teman-temannya itu.

”Terutama untuk anak-anak perempuan. Kalau ada teman cowok yang datang, pasti ibu yang menemui dan bertanya banyak hal. Ibu menjadi pengantin saat usia SMP, tapi ibu nggak mengizinkan anak-anaknya menikah muda,” beber Erma.

Berbeda dengan ibunya yang lebih banyak ekspresif dalam menanggapi pendidikan dan kehidupan anak-anak, ayahnya justru lebih pendiam. Dimata anak-anaknya, bapak merupakan sosok yang sangat jujur. 

Kejujuran itu terlihat ketika ada pelanggan yang ingin mengganti aksesoris jam, ayahnya tidak pernah berbohong soal harga dan barang yang digantinya. ”Bapak nggak pernah nipu dengan kasih harga tinggi. Seperti ibu, bapak juga mengajarkan disiplin. Pesan bapak sebelum meninggal harus menjaga kekeluarga kita,” kata Erma yang ditinggalkan ayah tercinta selama-lamanya pada 9 April 2001.

Kedua orang tuanya mengajarkan tentang skala prioritas. Siapa diantara anggota keluarga yang membutuhkan sesuatu, itu yang harus didahulukan. Selain itu, anak-anaknya juga diajarkan untuk menyisihkan uang untuk menabung berapun hasil yang sudah didapatkan. *Bersambung ke Fransisca Romana Sumiyati, Penjual Soto dengan 10 Anak Berhasil (3) - Keberhasilan 10 Anak dan Suka Duka yang Dialami  (Bunga Kusuma)