Rabu, 24 May 2017

Sekolah Keren

Lewat Anak, Cara SMPN 1 Karawang Barat Ajak Orang Tua Terlibat (Bag 3)

28 Apr 2017 14:41:10


Lewat Anak, Cara SMPN 1 Karawang Barat Ajak Orang Tua Terlibat (Bag 3)

SAHABAT KELUARGA-Salah satu kendala bagi satuan pendidikan dalam pelaksanaan pendidikan keluarga adalah mengajak atau mengundang orang tua untuk datang ke sekolah dan terlibat dalam proses pembelajaran serta kemajuan sekolah.

Hal itu disadari Rukmana, Kepala sekolah SMP Negeri 1 Karawang Barat. Karena itu, ia mencoba menggunakan pendekatan melalui anaknya. “Sekolah nggak mungkin atau sulitlah meminta langsung ke orang tua, tapi kalau anaknya yang minta, saya pastikan mereka siap menyanggupinya,” kata Rukmana beberapa waktu lalu.

Jadi, katanya, strateginya adalah memanfaatkan hubungan anak dan orang tuanya.Menurutnya, yang namanya pejabat atau tokoh masyarakat, kalau diminta atau diperintah masyarakat mungkin menolak, tapi kalau yang meminta itu anaknya, dipastikan sulit menolaknya.

Ia mencontohkan saat digelar program Lomba Kelas Anyanang atau kelas aman, nyaman, dan menyenangkan.

“Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Cianjur, malam-malam datang ke sini, dalam kondisi hujan, pakai kantong kresek membuat taman sendiri, bersama dengan anggota komite sekolah dan juga hadir protokoler pemerintah Kabupaten Karawang turun tangan. Kalau sudah barengan dengan anaknya, mereka lupa jabatan, lupa pekerjaan, itu yang kami manfaatkan, “jelasnya.

Contoh lain, saat SMPN ingin agar siswa-siswanya mengembangkan potensi-potensinya, di luar akademik, seperti seni, olah raga, keterampilan, dan sebagainya. Sebetulnya, di sekolah sudah ada sebanyak 26 kegiatan ekstra kurikuler. Masalahnya, karena mengetahui ada dana BOS atau bantuan operasional sekolah, orang tua cenderung meremehkan dan tidak berinisiatif membantu pendanaan. “Memang ada dana BOS, tapi besarannya tak seberapa dibanding jumlah ekskul yang kita punya, “ujar Rukmana.

Karena itu, dirancang strategi lain, yakni membentuk Clubbing, yakni sarana bagi siswa mengembangkan potensinya tapi dengan manajemen di luar sekolah.

“Ini bukan ekstra kurikuler. Manajemen, keuangan, dan sebagainya dikelola sendiri, termasuk tempatnya juga di luar sekolah dengan pelatih dari luar sekolah dan juga ada guru di sini. Tapi saat mau ada lomba, clubing membawa nama sekolah dan sekolah membantu dari sisi pendanaan untuk lomba itu. Mereka, para orang tua, rela membayar Rp25 ribu sampai Rp35 ribu sebulan, “jelasnya.

Diakuinya, saat ini baru ada dua ekskul yang diclubbing kan. Targetnya, kecuali Paskibra, PMR dan Pramuka, semua ekskul akan diclubingkan.

Apa yang telah dan akan diselenggarakan itu, yakni bagaimana orang tua terlibat di sekolah, dikatakan Rukmana sangat potensial untuk membantu pendanaan sekolah.

“Kalau ingin anak berhasil, tidak bisa sekolah saja yang berapan. Banyak orang tua yang membebankan pada sekolah. Kami ingin mengetuk kembali, bahwa pendidikan pertama itu dari keluarga, 2/3 hari di keluarga dari pada 1/3 di sekolah. Alhamdulillah, saat ini sudah terbentuk 45 paguyuban kelas, “katanya.

Rukmana juga berbicara soal Peraturan Menteri Pendidikan dan kebudayaan Nomor 75 tahun 2016 Tentang Komite sekolah. Melalui Permendikbud tersebut, komite sekolah dibentuk oleh paguyuban kelas “Jadi kita balik, kita bentuk dulu paguyuban kelas, lantas dari situ dibentuk komite sekolah yang anggotanya terdiri dari anggota paguyuban kelas yang potensial ditambah tokoh masyarakat di sekitar sekolah, “jelasnya.

SMPN 1 Juga, dikatakan Rukmana, sudah menggelar dua kali kelas inspirasi. Yang pertama, adalah menghadirkan Amid Mulyana, Kepala Bidang PNFI Dinas Pendidikan kabupaten Karawang. Sedangkan yang kedua menampilkan Kepala Polisi Lalu-Lintas Polres Kabupaten Karawang. “Mereka berbicara tentang pengalamannya saat sekolah dulu, bagaimana cara belajar, bagaimana meniti karir, dan bagaimana sukses di kehidupan. Mereka memotivasi siswa untuk mempunyai cita-cita dan upaya mencapainya. Kita sih rencananya setiap bulan ada orang tua yang tampil, “katanya.

Upaya menarik yang dilakukan SMPN 1 Karawang Timur dalam melibatkan orang tua adalah terkait bank sampah. Salah seorang orang tua siswa, Endang, berprofesi sebagai pengumpul sampah sekaligus pengelola sampah.

Rukmana lantas melibatkan Endang dalam mengelola sampah di lingkungan sekolah. Polanya, sampah-sampah di sekolah dikumpulan OSIS melalui kantong besar, lantas dibawa ke lokasi penampungan sampah milik sekolah di halaman belakang sekolah. Seminggu sekali ditimbang. Sampah-sampah plastik dan kertas jadi uang.

Intinya, kata Rukmana, pihak sekolah sangat terbuka dalam bekerjasama dengan para orang tua siswa. Menurutnya, bantuan yang diberikan orang tua itu bisa bermacam-macam, mulai dari dana, barang bekas, barang baru, atau cukup tenaga dam pikiran.

Namun, diakui Rukmana, segala upaya yang sudah dilakukan itu relatif berhasil karena 80 persen orang tua siswa tergolong berhasil dari sisi ekonomi. Bahkan 10 persennya bisa tergolong sangat berhasil. Mereka umumnya berasal dari keluarga pejabat di Karawang, politisi di DPRD, dan sebagainya. “Hanya sekitar 20 persen yang kurang beruntung, “katanya. Yanuar Jatnika

Berita Terkait:

Lomba Kelas Anyanang: Cara SMPN1 Karawang Barat Ajak Orang Tua

Paguyuban Kelas SMPN 1 Karawang Barat Sangat Aktif