Kamis, 29 June 2017

Keluarga Hebat

Orang Tua Herayati, peraih IPK 4.00 dari ITB – Mengajarkan Matematika Sederhana (1)

31 Mar 2017 16:46:43


Orang Tua Herayati, peraih IPK 4.00 dari ITB – Mengajarkan Matematika Sederhana (1)

SAHABAT KELUARGA – Hari sudah beranjak siang. Di depan RS Krakatau Medika, Cilegon, belasan becak berderet rapi. Ada yang diduduki pemiliknya, ada juga yang ditinggalkan begitu saja. Salah satu becak yang ditinggalkan adalah milik Sawiri. Becak yang menemaninya bekerja selama 20 tahun.

Sawiri sedang pulang untuk beristirahat. Kebetulan jarak antara rumah ke tempat mangkal hanya sekitar 2 kilometer.

Rekan-rekan sesama pembecak sangat mengenalnya karena pria berusia 64 tahun ini sudah lama mangkal di sana. Semakin terkenal lagi ketika anak bungsunya, Herayati, jadi pembicaraan publik. Dia dinobatkan sebagai peraih nilai terbaik dari kampus Institut Teknologi Bandung. Dia meraih IPK 4,00, sebuah nilai sempurna.

Saat Sahabat Keluarga mendatangi kediamannya di Linkungan Masigit RT 003/001 Kelurahan Kotasari, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon, Banten, Sawiri sedang bersantai. ”Saya sudah tidak terlalu ngotot lagi nge-becak. Kalau capek, ya istirahat,” katanya.

Sejak pemberitaan putrinya meluas, akhir-akhir ini hampir setiap minggu rumah Sawiri didatangi wartawan. Karena itulah dia lebih banyak di rumah dibandingkan di tempat mangkal.

Sawiri sangat membuka diri bagi wartawan yang datang, namun tidak mengizinkan untuk mengganggu anaknya yang sedang kuliah semester 5 di Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam (FMIPA). ”Biar di sini saja tanya ke bapak, jangan ke Nong (panggilan Herayati di rumah, red). Biar Nong di sana fokus kuliah,” terang pria yang akrab disapa Mang Sawiri ini.

Sawiri mengaku bangga pada putrinya yang sejak kelas 1 SD selalu meraih rangking 1 ini. Bukan kali ini saja Herayati dikenal publik.

Dulu, saat berhasil masuk ke ITB, Herayati mendapat perhatian Pemerintah Kota Cilegon. Media lokal juga sempat mengangkat kisah Herayati, anak tukang becak yang lulus beasiswa ke ITB.

”Alhamdulillah Nong bisa menjadi anak yang membanggakan orang tua. Walaupun bapak hanya jadi tukang becak, ibunya berkebun, tapi anaknya bisa kuliah dan berprestasi,” ujar Sawiri bangga.

Di mata Sawiri, Herayati yang di kalangan temannya disapa Hera ini merupakan anak yang sangat istimewa. Sejak kecil, putrinya itu sudah belajar mandiri dan selalu menyenangkan hati orang tuanya. ”Nong nggak pernah merepotkan. Nggak pernah minta ini itu, senangnya baca buku,” urainya.

Di pergaulan, Hera terbilang anak yang pendiam. Tapi jika di rumah, dia termasuk anak yang periang. Kedua orang tuanya jarang melihat Hera bermain lama di luar rumah. Dia lebih senang mengajak teman-temannya main ke rumah.

Sejak kecil, Hera juga sangat rajin belajar. Dia lebih sering belajar sendiri. Maklum saja, ayahnya hanya lulusan SD, sedangkan ibunya sama sekali tak pernah mengecap bangku sekolah. Meski begitu, bukan berarti Sawiri tak mempedulikan pendidikan anaknya.

Saat Hera kesulitan belajar terutama matematika, Sawiri berusaha mengajarinya dengan ilmu sederhana. ”Dia pernah tanya, bagaimana caranya belajar matematika. Saya jelasin sederhana saja, kalau tambahan kan gampang, pengurangan juga gampang. Kalau pembagian, modal sama hasil tinggal ditarik saja, kan?” kata Sawiri.

”Yang paling saya tegaskan kalau mau pintar belajar matematika ya harus hafal perkalian sampai seratus. Kalau itu sudah hafal, gampang semuanya. Dari situ Hera selalu berusaha menghapal perkalian,” tambah Sawiri lagi sambil tersenyum. Bersambung – Orang Tua Herayati, peraih IPK 4.00 dari ITB – Getol Mencari Uang (2)  (Bunga Kusuma Dewi)