Kamis, 29 June 2017

Berita

Ini, Pendidikan Karakter yang Digagas Ki Hajar Dewantara

23 Mar 2017 12:48:54


Ini, Pendidikan Karakter yang Digagas Ki Hajar Dewantara

SAHABAT KELUARGA- Berbicara tentang dunia pendidikan nasional, rasanya tidak etis bila tak bicara tentang pemikiran-pemikiran Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau lebih dikenal Ki Hajar Dewantara.

Pendiri Perguruan Taman Siswa dan pencipta semboyan ‘Tut Wuri Handayani’ ini dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden RI pertama, Sukarno, pada tahun 1959 dan ditetapkan sebagai Bapak Pendidikan Indonesia.

Bagaimana konsep dan pemikiran Ki Hajar tentang pendidikan karakter?  Wakil Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa dan juga Direktur Pascasarjana Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta, Prof. Dr. Ki Supriyoko, M.Pd. mengatakan, bagi Ki Hajar,  karakter atau budi pekerti, merupakan inti dari pendidikan. 

Bagi Ki Hadjar, pendidikan harus mampu menumbuhkan karakter dalam diri peserta didik. “Bagi Ki Hajar, kecerdasan memang diperlukan, tetapi karakter lebih diperlukan. Kecerdasan tanpa diimbangi karakter akan menjerumuskan kehidupan anak didik itu sendiri, “sebut Supriyoko seperti yang dikutip dari Kompas.com.

Apakah pendidikan karakter harus menjadi mata pelajaran? Dalam hal ini, kata Supriyoko,  Ki Hadjar menilai,  pendidikan karakter tidak harus menjadi mata pelajaran tersendiri, tetapi bisa terintegrasi dengan mata pelajaran lain.

Namun, Ki Hajar membedakan model pendidikan karakter menurut jenjang pendidikan. Di jenjang pendidikan taman kanak-kanak, Ki Hajar menyebutkan tingkatan Syari’at. Metodenya dengan membiasakan berperilaku baik menurut ukuran umum, misalnya mengucapkan salam ketika bertemu teman, memberikan hormat ketika bertemu guru, dan mencium tangan ketika berhadapan dengan orangtua.

Di tingkat sekolah dasar, Ki Hajar menyebutnya tingkat hakikat. Polanya, Anak terus dibiasakan berperilaku baik menurut ukuran umum, dan diberi pengertian mengapa harus berbuat demikian. Contohnya, di samping dibiasakan mengucapkan salam sewaktu bertemu teman, mereka juga diberi pengertian tentang pentingnya mengucap salam itu; misalnya dapat menimbulkan ikatan hati dan keakraban lahir-batin antarteman.

Pendidikan karakter berikutnya di tingkat SMP yang disebutnya tingkat tarikat. Selain dibiasakan berperilaku baik, diberi pengertian, juga secara bersamaan disertai aktivitas pendukung yang cocok. Misalnya bagaimana anak-anak berkesenian, berolahraga, dan berbagai aktivitas lainnya sambil berolah budi. Contohnya adalah anak-anak SMP dilatih menari ”halus” sambil dijelaskan makna gerakan yang ada di dalamnya untuk menanamkan karakter.

Sedangkan tingkat makrifat cocok diberikan kepada siswa SMA. Anak disentuh pemahaman dan kesadarannya sehingga berperilaku baik bukan sekadar kebiasaan, melainkan berkesadaran di lubuk hatinya untuk melakukan hal tersebut. Sang anak mengerti maksud berperilaku baik; dan perilakunya tersebut dijalankan berdasarkan kesadaran diri. Yanuar Jatnika