Sabtu, 19 August 2017

Usia SMA/SMK

Tidak Semua Remaja Alami Krisis Identitas

20 Mar 2017 16:45:26


Tidak Semua Remaja Alami Krisis Identitas

SAHABAT KELUARGA- Kerap diberitakan, bahwa masa remaja adalah masa krisis identitas, seiring masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Krisis identitas itu mencipatakn remaja dengan perilaku yang aneh-aneh, menyerempet bahaya dan cenderung mengabaikan aturan.

Apakah memang selalu demikian, bahwa masa remaja  merupakan masa keguncangan  dimana mereka mengalami krisis identitas? Setujukah Anda, bahwa di tengah-tengah kita memang ada remaja yang mengalami krisis identitas, tetapi ada pula yang tidak mengalami krisis identitas. Mereka memasuki masa remaja dengan identitas yang sangat kokoh. Inilah yang disebut sebagai identity foreclo­sure atau identitas paripurna, yakni remaja yang sudah memiliki identitas diri yang jelas dan kepribadian yang mantap.

Pertanyaannya, apa yang menyebabkan mereka mampu memasuki masa remaja dengan identitas diri yang jelas dan kepribadian yang mantap? Anak-anak yang tidak mengalami krisis identitas itu adalah mereka yang sebelum memasuki masa remaja telah me­miliki orientasi hidup yang benar, tujuan hidup yang jelas dan nilai-nilai yang kuat.

Bagaimana caranya agar orang tua mempunyai anak remaja dengan identitas paripurna itu?

Caranya adalah bagaimana mereka dibesarkan, baik oleh orang tua di rumah maupun guru di sekolah, apa yang paling sering mereka perhatikan, terpaan media yang paling sering mereka terima serta nilai-nilai utama yang sering mereka terima dari buku-buku, guru-guru, orangtua dan lingkungan. Jika hal itu berkembang dengan baik sehingga pertanyaan-pertanyaan mendasarnya tentang agama memperoleh jawaban yang memuaskan, mereka akan tumbuh menjadi manusia idealis.

Contohnya, jika sekolah secara teren­cana memiliki penghargaan yang sangat tinggi terhadap usaha yang gigih, maka remaja akan cenderung lebih mengembangkan kompetensi, kreativitas serta kapasitas mereka untuk mandiri. Jika sekolah mampu memba­ngun budaya belajar yang kuat, mereka akan tumbuh sebagai manusia yang kaya gagasan, penuh inovasi dan memiliki keberanian tinggi untuk berusaha dan siap menghadapi kegagalan. Ini merupakan bekal ber­harga untuk menjadi manusia tangguh dan sukses.

Sebaliknya jika ling­kungan sekolah justru merupakan tempat pertaruhan gengsi dimana anak merasa tersisih jika tidak punya HP, maka krisis identitas mudah terjadi dan ketertarikan terhadap lawan jenis beserta turunannya berkem­bang lebih pesat daripada aspek-aspek lainnya.

Itu sebabnya, sekolah perlu mempertimbangkan kembali izin membawa HP ke sekolah bagi para siswa, sekalipun untuk jenjang SLTA.

Adapun dorongan terhadap lawan jenis, jika memperoleh pembinaan yang tepat, akan berkembang menjadi kesiapan berumah-tangga, orientasi untuk berkeluarga, penghormatan terhadap orang tua dan rasa tanggung-jawab terhadap yang usianya lebih mudah.

Dorong­an untuk menyukai lawan jenis bisa berkembang “ke kiri” sehingga remaja menyibukkan diri dengan urusan syahwat, bisa berkembang “ke kanan” sehingga remaja mengembangkan cinta yang tulus, minat terhadap masalah rumah-tangga, kasih-sayang kepada sesama dan rasa tanggung-jawab terhadap keluarga. Yang disebut terakhir ini sekaligus berperan penting menguatkan aspek kedua, yakni dorongan untuk mandiri. Yanuar Jatnika