Rabu, 29 March 2017

Berita

Stop Pedofilia, Orang Tua Tingkatkan Pengawasan pada Anak

19 Mar 2017 16:12:21


Stop Pedofilia, Orang Tua Tingkatkan Pengawasan pada Anak

SAHABAT KELUARGA – Terungkapnya kasus jaringan pedofilia di media social beberapa waktu lalu meresahkan banyak pihak, khususnya para orang tua. Temuan Polda Metro Jaya terkait jaringan pedofilia ini memang membuat banyak orang tua terkejut.

Dalam akun media social tersebut, pelaku pedofilia mengunggah sejumlah video dan foto yang berkaitan dengan anak-anak. Percakapan yang terjadi dalam akun tersebut pun sangat tak layak. Seperti misalnya salah satu akun yang mengaku berusia 20 tahun dan memiliki pacar anak usia SD.

Akun lain bahkan ada yang mengakui telah memperdaya korban yang masih berusia dibawah lima tahun. Dia berhasil memperdaya anak tersebut karena ibunya sedang bekerja.

Melihat bahayanya peristiwa ini terhadap masa depan anak, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga mengingatkan agar orang tua meningkatkan pengawasannya terhadap anak-anak.

Apa sebenarnya pedofilia? Pedofilia merupakan perilaku menyimpang pada orang dewasa atau remaja berupa hasrat seksual terhadap anak-anak berusia dibawah 13 tahun. Orang yang mengidap pedofilia disebut pedofil.

”Pedofila merupakan kejahatan luar biasa dengan ancaman 18 tahun penjara. Korban pedofilia yakni anak-anak baik laki-laki dan perempuan. Kasus ini banyak terjadi di berbagai daerah dengan banyak korban. Karena itulah peran orang tua sangat penting dalam pengawasan anak-anaknya, termasuk juga lingkungan yang turut peduli dengan masalah ini,” jelas Dr. Sukiman, Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga, Kemdikbud.

Berdasarkan diagnose medis, pedofilia termasuk salah satu gangguan kejiwaan yang terbagi menjadi tiga jenis. Pertama, immature pedophiles, yakni pedofilia yang cenderung melakukan pendekatan pada target dengan memberikan iming-iming pada korban.

Kedua, regressed pedopholes, pelaku pedofilia ini beraksi dengan langsung memaksa korban tanpa memberikan iming-iming tertentu. Dan yang  ketiga, aggressive pedophiles yakni pedofilia yang paling parah dimana pelaku pedofilia memiliki keinginan untuk menyerang korban, bahkan berpotensi membunuh korban setelah dinikmati.

Dalam beberapa kasus, pelaku pedofilia dapat terjadi oleh orang-orang yang dipercaya atau dekat dengan orang tua, seperti supir, asistan rumah tangga, pelatih, tetangga, pengajar atau bahkan saudara.

”Biasanya pelaku sangat senang bermain  dengan anak-anak. Ada yang menyamar sebagai pelatih permainan kesukaan anak seperti sepak bola. Pelaku mempengaruhi anak dengan pura-pura bersikap baik seperti membelikan bakso atau jajanan,” tambah Dr. Sukiman.

Untuk mencegah hal itu terjadi, peran orang tua sangat penting dalam melakukan pengawasan anak. Apa saja yang bisa dilakukan orang tua?

1. Kenali teman sepermainan anak-anak. Kenali juga orang tuanya agar dapat saling berkomunikasi tentang pergaulan anak.

2. Beritahu anak tentang bagian tubuh yang tidak boleh dipegang oleh orang lain, seperti mulut, dada, serta area sekitar celana.

3. Ajari anak untuk berteriak ‘jangan’ lalu berlari minta tolong kepada orang yang dipercaya jika merasa tidak nyaman atau terancam dengan orang asing.

4. Pastikan anak-anak dibawah usia 8 tahun dalam pengawasan saat bermain.

5. Tingkatkan komunikasi positif dengan anak sehingga ia terbuka untuk menceritakan semua pengalamannya.

6. Amati bagian tubuh dan perilaku anak, seperti gangguan kesehatan seperti rasa nyeri pada lubang dubur atau alat kelamin, gangguan kejiwaan seperti ketakutan atau kecemasan yang berlebihan, atau prestasi sekolah menurun.

7. Jika terburuknya anak telah menjadi korban, (1) peluk dan dengarkan keluhannya dengan sabar (tanpa menyalahkan); (2) jika ada gangguan kesehatan/kejiwaan, segera bawa ke dokter/psikolog; dan (3) laporkan kejahatan tersebut ke kantor polisi agar pelakunya segera ditindak. (Bunga Kusuma Dewi)