Rabu, 24 May 2017

Umum

Menghindarkan Anak dari Aksi Penculikan

16 Mar 2017 14:41:25


Menghindarkan Anak dari Aksi Penculikan

SAHABAT KELUARGA – Kasus penculikan anak makin marak. Di berbagai media, baik televisi, media cetak, elektronik maupun media sosial, kasus penculikan anak terjadi di berbagai daerah. Kabar yang beredar, anak-anak korban penculikan dijadikan pengemis, diperdagangkan hingga organ tubuhnya dijual.

Modus penculikan pun makin beragam. Trik yang digunakan juga bermacam-macam. Mulai dari pelaku menyamar sebagai orang gila, ibu hamil, pedagang asongan hingga pencari rumah kontrakan.

Kejahatan ini begitu meresahkan, terutama bagi orang tua yang memiliki putra-putri yang masih kanak-kanak. Terutama jika anak-anaknya masih duduk di bangku PAUD dan Taman Kanak-kanak yang masih menjadi sasaran para penculik.

Untuk menghindari dan melindungi anak dari aksi penculikan, orang tua harus melakukan upaya pencegahan sedini mungkin. Setidaknya ada enam langkah pencegahan yang harus orang tua tanamkan kepada anak.

Pertama, mengajarkan kepada anak untuk waspada kepada orang yang baru dikenal. Orang tua juga harus mengajarkan untuk tidak langsung percaya pada orang yang baru dikenal, meskipun orang tersebut memberikan sesuatu, misalnya makanan atau mainan. Ajarkan anak untuk menolak pemberian dari orang asing, terutama ketika tidak ada ayah atau ibu di sampingnya.

Kedua, literasi tentang aksi penculikan. Orang tua hendaknya membacakan buku atau artikel yang berhubungan dengan aksi penculikan kepada anak. Orang tua harus menjelaskan apa itu aksi penculikan dengan bahasa yang sederhana, ciri-ciri penculik, hal-hal apa saja yang harus dilakukan apabila ada penculik dan apa saja yang harus anak lakukan untuk menghindari penculik. Diskusikan hal-hal ini pada anak, agar anak sudah memahami apa yang harus mereka lakukan untuk menghindari aksi penculikan sejak dini.

Ketiga, selalu mengingatkan anak untuk berada di samping orang tua jika bepergian di tempat keramaian. Ajarkan kepada anak apa yang harus dilakukan bila tersesat atau terpisah dari orang tua. Apabila anak ingin pergi ke suatu tempat tanpa orang tua, harus ada orang dewasa yang mendampingi, misalnya kakak atau orang yang bisa dipercaya.

Keempat, ajarkan kepada anak cara membela diri. Apabila ada orang asing yang ingin memaksanya pergi, anak sudah tahu yang harus dilakukan. Misalnya dengan menggigit, menendang atau berteriak agar anak bisa melepaskan diri dari si penculik.

Kelima, ajarkan kepada anak untuk tidak menyendiri. Anak harus dibiasakan untuk bermain dengan teman-temannya. Terutama bila sedang di luar jangkauan orang tua. Apabila jam pulang sekolah sudah tiba, ajarkan anak untuk menunggu penjemput sambil bermain dengan teman-temannya.

Keenam, membiasakan anak untuk selalu bercerita tentang apapun yang mereka alami. Sebagai orang tua kita harus selalu memiliki waktu dan perhatian untuk mendengarkan apa saja yang anak alami hari ini. Dengan begitu anak terbiasa bercerita, terbuka dan orang tua tahu kondisi di sekitar lingkungan anak. Tak lupa jalin komunikasi dengan pihak sekolah dan masyarakat agar bisa saling bekerjasama untuk menjaga anak-anak dari bahaya penculikan. (Feny Nida Fitriyani Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)