Rabu, 24 May 2017

Keluarga Hebat

I Made Andi Arsana (4-Habis) - Dukungan Hebat dari Ayah

14 Mar 2017 12:09:33


I Made Andi Arsana (4-Habis) - Dukungan Hebat dari Ayah

SAHABAT KELUARGA – Pasca lulus S1 dari Universitas Gadjah Mada, I Made Andi Arsana langsung mendapat kesempatan bekerja. Dia diterima bekerja di perusahaan multinasional ternama dengan penempatan di Malang, Jawa Timur.

Gaji yang ditawarkan pun cukup baik. ”Dulu saya dapat kiriman dari bapak ibu sekitar 300 ribu per bulan, setelah kerja dapat jutaan, itu luar biasa,” kenang Andi yang mulai bekerja tahun 2001.

Dari satu perusahaan besar, Andi pindah kerja ke perusahaan ternama di bidang otomotif yang tak kalah besar. Gaji yang ditawarkan pun lebih dari yang pertama.

Meski bergaji besar, ada sesuatu hal yang mengganjal dalam hidupnya. Kebiasaan bercerita, menularkan ilmu dan membuat orang senang mendengarkan suatu hal, tak bisa dia dapatkan dari pekerjaannya itu.

Kebetulan, lowongan menjadi dosen UGM kampus tempatnya mengemban ilmu saat itu terbuka. Andi ingin mewujudkan impiannya menjadi dosen. ”Saya jadi seperti sekarang ini karena pendidikan. Saya ingin berperan terhadap peradaban itu melalui pendidikan dengan menjadi dosen,” katanya.

Sebelum melamar menjadi dosen, Andi terlebih dahulu menghubungi bapaknya di Bali. Seperti pada umumnya orang tua, pertanyaan pertama yang dilontarkan ayahnya ketika itu seputar gaji yang akan diterima saat menjadi dosen.

Saat Andi menyebutkan angka yang nominalnya hanya ratusan ribu rupiah, tak disangka ayahnya justru menangis. ”Saya paham tentang kekhawatiran bapak. Dengan gaji segitu bagaimana nanti anaknya akan hidup,” kata Andi.

Setelah tutup telepon, Andi bertekad mengubur mimpinya menjadi dosen. ”Ternyata dengan saya menjadi dosen hal itu membuat orang tua saya nggak nyaman. Karena saya telah melukai hati orang tua saya, maka saya memutuskan untuk tidak jadi dosen,” katanya.

Tiga hari kemudian ayahnya meminta Andi untuk telepon lagi. Rupanya, telepon dari ayahnya itu untuk menyatakan sikap persetujuan ayahnya terhadap keputusan Andi menjadi dosen. ”Saya diam. Menurut saya itu tiba-tiba sekali. Bapak bilang, setuju jadi dosen. Bukan karena bapak tahu apa itu pekerjaan dosen, tapi bapak menyetujui karena saya telah mengambil keputusan itu dengan baik,” kenangnya.

”Kalau suatu hari nanti terbukti pilihanmu ini baik, bapak adalah orang pertama yang bangga. Tapi kalau keputusan ini tidak baik, bapak adalah orang pertama yang mengakui bahwa ini pilihan bijak dan tidak menyalahkan,” ujar Andi menirukan ucapan bapaknya.

”Dari situ saya merasakan sebuah dukungan hebat dari bapak,” ujar Andi yang mulai mengajar pada tahun 2003.

Setelah menjadi dosen, Andi menambah lagi ilmu akademis dibidang Teknik Geodesi di University of New South Wales, Australia. Dia melanjutkan S2 setelah mendapatkan beasiswa dari Australian Development Scholarship.

Berjauhan dengan orang tuanya membuat Andi kian intensif berkomunikasi. Dia rela menghabiskan waktu untuk menghubungi ibunya untuk menceritakan pengalaman hidupnya di Sydney.

”Saya ceritakan detail kehidupan Sydney dan bagaimana kota itu secara deskripsi ke ibu saya. Saat itulah ibu saya mendeklarasikan bahwa belajar jauh lebih banyak ketika sudah tua melalui anaknya,” beber Andi.

Di Australia Andi juga banyak belajar, termasuk menekuni bidangnya saat ini, yaitu tentang Geodesi. Setelah S2, Andi melanjutkan S3 di University of Wollongong, Australia dengan bidang yang sama dari sebelumnya pada tahun 2013.

Andi melakukan penelitian tentang batas maritim. Jaringan Andi juga kian meluas. Dia kerap diminta menjadi moderator sebuah acara dengan pembicara para pejabat baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Akhir tahun 2016 lalu, Andi dinobatkan sebagai ’The Most Favorite Lecturer’ dari Universitas Gadjah Mada. Penghargaan itu tentu saja mengembalikan ingatannya pada pertama kali mengambil keputusan menjadi dosen serta dukungan penuh dari ayahnya.

”Anugerah ini saya persembahkan untuk Ibu dan Bapak saya yang telah dengan berani mendukung pilihan anaknya. Kedua orang tua saya hanya menginginkan satu hal, dimanapun dan kapanpun tempatnya, beliau ingin dengan bangga mengatakan ke semua orang bahwa yang sedang berdiri di depan itu anak saya,” kata Andi.

”Karena itulah, kenapa saya melibatkan 100 persen rumah ini pada orang tua, agar mereka merasa memiliki bahwa rumah Andi yang saat ini ditempati itu saya yang bikin. Pengakuan seperti itu yang sangat penting bagi orang tua,” pungkas suami dari Ktut Rentyasti Palupi (36) serta ayah dari Putu Ambalita Pitaloka Arsana (12) ini bangga. (Habis - Bunga Kusuma Dewi)