Sabtu, 24 June 2017

Keluarga Hebat

I Made Andi Arsana (3) – Membangun Kedekatan Keluarga dengan Kebiasaan Bercerita

14 Mar 2017 12:05:53


I Made Andi Arsana (3) – Membangun Kedekatan Keluarga dengan Kebiasaan Bercerita

SAHABAT KELUARGA – Kedua orang tuanya setiap hari sibuk bekerja. Ayahnya menggarap sawah, sedangkan Ibunya menjadi buruh batu. Meski begitu, ada satu kebiasaan di keluarga I Made Andi Arsana yang tak pernah hilang hingga saat ini.

Yakni kebiasaan ngobrol atau bercerita. Menurut Andi, hal itu sudah mereka lakukan sejak anak-anak kecil. Mereka saling berbincang dimanapun tempatnya dengan topik pembicaraan apapun.

Andi sosok yang paling senang bercerita dan ibunya merupakan pendengar yang baik. Saat kecil, pria kelahiran Tabanan, 12 Mei 1978 itu sangat suka nonton film MacGyver. Karena tidak punya televisi, Andi menumpang nonton tayangan itu di warung dekat rumahnya setiap Jumat.

Menurut Andi, film itu sangat menarik dan memiliki sensasi sendiri ketika menyaksikannya. Karena itulah, dia merasa harus menceritakan kembali kepada ibunya tentang episode yang dia tonton itu.

Perbedaan waktu jam tayang di Bali membuat film selesai sudah larut malam. Sampai di rumah, Andi langsung membangunkan ibunya. ”Cerita MacGyver saat menjinakkan bom itu seru sekali. Saya ingin menceritakan itu pada ibu. Saya bangunkan beliau dan menceritakan secara detil dari awal cerita, moment ketika menjinkkan bom hingga akhir,” kenangnya.

Ibunya meski sangat terkantuk dengan sabar mendengarkan kisah yang diceritakan Andi hingga selesai. Setelah itu mereka kembali tidur.

Dua puluh tahun berlalu. Saat film MacGyver akhir-akhir ini kembali tayang di televisi, kisah Andi membangunkan ibunya untuk bercerita kembali menjadi obrolan di keluarganya saat ini.

Bahwa, sebenarnya ketika itu ibunya sudah sangat mengantuk, namun, demi mendengarkan Andi bercerita, ibunya menahan rasa kantuk tersebut. ”Tapi ketika itu saya tidak pernah menangkap keengganan, kemalasan atau keberatan ibu untuk mendengarkan cerita saya. Beliau tidak mengeluh atau memarahi saya untuk segera tidur,” katanya.

Hal itu bagi Andi menjadi suatu pendidikan parenting yang sangat bermanfaat baginya. ”Bagaimana orang tua memiliki waktu untuk mendengarkan cerita anaknya meskipun ngantuk seberat apapun. Bagi saya, media bercerita merupakan tempat saya tumbuh dengan baik seperti saat ini. Seandainya saja ibu saya justru marah dan suruh saya tidur segera, saya yakin kemampuan hidup saya akan berbeda,” tuturnya.

Kebiasaan ngobrol di keluarga terus berlanjut hingga saat ini. Saat Andi kuliah di Yogyakarta, kedua orang tuanya rutin menghubungi dia. Sedangkan saat Andi melanjutkan kuliah di luar negeri, gantian dia yang rutin menghubungi orang tuanya.

Mereka saling berdiskusi tentang banyak hal, baik hal ringan maupun sesuatu hal serius. Menurut Andi, dari kebiasaan bercerita itu ibunya yang tak pernah merasakan pendidikan formal bisa mendapatkan banyak pengetahuan tentang apapun, termasuk kehidupan di luar negeri.

Salah satu hal yang pernah ditanyakan ibunya yakni ketika pemilihan presiden tahun 2014. Di telfon tiba-tiba ibunya bertanya, apa artinya quick count, exit poll dan istilah lain yang sering muncul di televisi.

”Bagi orang yang berpendidikan, hal itu mungkin biasa. Tapi bagi seorang ibu berusia 50 tahun dan hanya lulusan SD, kata-kata itu menjadi pertanyaan besar. Saya menjelaskan dengan kalimat sederhana dan mengambil contoh peristiwa yang terjadi di desanya,” terang Andi. Bersambung ke I Made Andi Arsana (4-Habis) - Dukungan Hebat dari Ayah (Bunga Kusuma Dewi)