Rabu, 29 March 2017

Keluarga Hebat

I Made Andi Arsana (2) – Selalu Juara Ditengah Keterbatasan

14 Mar 2017 11:45:45


I Made Andi Arsana (2) – Selalu Juara Ditengah Keterbatasan

SAHABAT KELUARGA – Meski hidup dalam kesederhanaan I Made Andi Arsana tak pernah merasakan kesulitan dalam meraih pendidikan. Kedua orang tuanya, I Wayan Karma (66) dan Ni Nyoman Mariani (63) sangat mendukung pendidikan ketiga anaknya, Ni Putu Erinawati (42), I Made Andi Arsana (39) dan I Komang Andika Permana (28).

Andi berhasil lulus SD dengan hasil sangat memuaskan. Sepanjang belajar hingga kelas 6 SD, Andi tak pernah sekalipun juara 2, dia selalu meraih juara 1.

Bagaimana cara Andi belajar? Menurutnya, selama masa sekolah, Andi merasakan kebebasan belajar. Dia bahkan tidak pernah dibantu untuk dibuatkan PR atau prakarya.

Kedua orang tuanya membebaskan Andi untuk belajar, bahkan ketika Andi mengajak teman-temannya belajar di rumah. ”Saya merasa diberi kebebasan dalam belajar, tidak ada intervensi apapun. Orang tua saya terbuka dengan teman-teman saya,” kenang Andi.

Namun Andi memiliki panutan membuatnya semangat belajar. Yaitu kakak pertamanya, Ni Putu Erinawati (42) yang juga selalu menjadi juara kelas. Secara tidak langsung Andi meniru perilaku kakaknya yang menurutnya mewarisi ketekunan dan kepintaran ibunya.

Kesadaran lain yang memacu Andi untuk giat belajar yakni keinginan untuk memiliki Lembar Kerja Siswa (LKS) yang hanya dimiliki pelajar di wilayah kota. ”Guru pernah cerita, di kota ada LKS, kami di desa merasa dengan punya LKS akan terlihat keren. Karena itulah kami termotivasi untuk belajar karena ada sesuatu yang dikejar,” katanya.

Di rumah, Andi juga belajar tentang kemandirian dan perilaku. Selain belajar, dia bersama kakaknya juga bertugas dalam urusan rumah tangga. Kakaknya bertugas memasak nasi, sementara Andi bertugas untuk cuci piring dan menyiram tanaman.

Menurut Andi, hal itu bukan merupakan nasihat dari orang tua, tapi suatu hal yang wajib dikerjakan sesuai dengan perintah ibunya. ”Ibu saya sangat keras. Tugas yang diberikan ke kami wajib dikerjakan. Saya wajib mencuci piring, itu saya kerjakan setiap jam 12 siang,” kenangnya.

Ada cerita seru dari pekerjaan cuci piring itu. Setiap jam 12 siang, Andi rutin mendengarkan sandiwara radio Saur Sepuh yang saat itu sedang hits selama 1 jam. Setelah sandiwara itu selesai, Andi buru-buru lari ke sungai membawa satu wadah piring kotor.

”Saya harus cepat melakukan itu karena jam 13.30 sudah mulai lagi sandiwara Gunung Merapi. Hiburan kami ketika itu ya hanya sandiwara radio, karena itulah saya harus buru-buru agar tidak telat,” kenang Andi sambil tertawa.

Perjalanan pendidikan Andi berjalan sangat mulus. Setelah lulus SD, dia berhasil masuk ke SMP 2 di Kecamatan. Prestasinya lagi-lagi membanggakan, selalu meraih juara 1.

Selepas SMP, Andi sekeluarga pindah ke kota Denpasar. Ibunya merintis usaha baru di wilayah Sanur. Dia sendiri melanjutkan pendidikan di SMAN 3 Denpasar, salah satu SMA favorit.

Masa Remaja

Di Denpasar, Andi mengenal kota lebih besar lagi. Kehidupan yang berbeda, keragaman agama serta perekonomian yang berbeda. Dia mengaku sangat kaget ketika beberapa teman SMA-nya sudah punya mobil dan mengendarai sendiri mobilnya.

Dia merasakan perbedaan ekonomi yang sangat signifikan dengan keluarganya saat itu. Andi minder dengan teman-temannya. Maklum saja, di kota Denpasar, Andi justru tinggal di sebuah rumah gubuk yang tidak teraliri listrik.

Sebenarnya tanah yang disewa orang tuanya sangat luas, namun tanah itu digunakan untuk menyimpan pasir dan bahan bangunan lainnya sebagai tempat usaha. Ayahnya membangun gubuk kecil untuk keluarganya tinggal.

Kondisi tersebut menimbulkan masalah pada masa remajanya. ”Saya tidak nyaman jika harus mengajak teman ke rumah. Masa remaja ego saya sangat tinggi. Saya nggak nyaman. Rumah gubuk kami hanya satu kamar, kadang tidur bareng ibu, kadang di lantai,” kenang Andi.

Secara finansial, kehidupan ekonomi keluarga Andi tertata. Namun, karena bangunan rumah yang kurang mendukung dengan baik, konflik masa remaja itu kian berkembang. Apalagi ketika itu Andi terpilih sebagai ketua OSIS.

Di sekolah dia menjadi siswa terkenal tapi disisi lain Andi harus menyembunyikan hal-hal tentang keluarganya. ”Saya sangat menghindari orang-orang yang ingin berkunjung ke rumah. Saya pernah sakit dan teman-teman datang ke rumah. Saya terpukul dengan kedatangan mereka. Tapi ibu saya yang menguatkan saya tentang kondisi ini,” kata  pria kelahiran Tabanan, Bali, 12 Mei 1978 ini.

Permasalahan remaja Andi semakin menjadi ketika untuk pertama kalinya selama dia sekolah Andi meraih ranking 2. ”Sejak kelas 1 SD sampai 3 SMP saya selalu ranking 1. Karena itulah saat dapat ranking 2 menjadi momen penting apakah saya jatuh atau tidak. Tapi disitu saya belajar mengakui bahwa ada orang yang jauh lebih baik dari saya,” katanya.

Atas prestasi dan keaktifan di organisasi, lulus SMA Andi mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan ke universitas negeri lewat jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan). Tahun 1996 dia berhasil lolos seleksi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Di Kota Pelajar itu, Andi merasakan lebih banyak lagi tentang makna toleransi. Apalagi dengan latar belakang agama yang dianut, dia berada di lingkungan minoritas.

Meski begitu, hal tersebut tak menyurutkan semangat Andi untuk terus berkarya. Diakuinya, secara akademik dia tidak terlalu istimewa. Tapi dia cukup aktif di luar kampus.

Ilmu kreatif dari ayahnya dia terapkan sejak kuliah. Salah satunya yakni melamar kerja sebelum selesai kuliah. Andi berhasil mendapatkan kerja setelah dinyatakan lulus namun belum menjalankan wisuda. Bersambung ke I Made Andi Arsana (3) – Membangun Kedekatan Keluarga dengan Kebiasaan Bercerita (Bunga Kusuma Dewi)