Rabu, 29 March 2017

Sekolah Keren

Di HSTB, Pendidikan Karakter Mencapai 50 Persen (Bag 2)

07 Mar 2017 16:30:02


Di HSTB, Pendidikan Karakter Mencapai 50 Persen (Bag 2)

SAHABAT KELUARGA- Pendidikan karakter di sekolah saat ini menjadi perhatian pemerintah melalui gerakan Penguatan Pendidikan karakter (PPK) di satuan pendidikan. Salah satu yang gagas dalam PPK adalah penambahan kegiatan di luar kelas atau ekstra kurikuler.

Home School Tunas Bangsa (HSTB) yang berlokasi di Jalan Pondok Serut III, No.69, Pondok Kacang Barat Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, banten, sebenarnya telah melaksanakan apa yang digagas itu sejak didirikan tahun 2000 lalu.

Seperti dituturkan Melati Pertiwi, Walikelas 5 HSTB, pada sahabat keluarga beberapa waktu lalu, Walikelas 5 HSTB. Menurutnya, 50 persen proses pembelajaran ditekankan pada karakter atau budi pekerti. Hal itu dilakukan melalui pelajaran budi pekerti, mencintai dan menghormati guru dan orang tua, kedisplinan, tanggung jawab dan selalu mengingat tuhan.

Dalam keseharian proses pembelajaran, mulai pukul 07.30-10.00 WIB, semua siswa harus keluar dari kelas dan bermain bebas bersama teman-temannya. Pukul 10.00 WIB sampai waktu Salat Dhuhur. Selesai salat dilanjutkan makan siang dan proses pembelajaran diakhiri pukul 14.00 WIB.

”Dalam bermain, siswa belajar berinteraksi dengan teman-temannya. Di sana ada pelajaran saling berbagi, saling mencintai, bertoleransi dan menyayangi. Waktu belajar, siswa diajarkan tanggung jawab dan dalam salat bersama, siswa harus tetap ingat Tuhan,” terang Melati.

Saat belajar, siswa juga diajarkan budi pekerti, seperti mencintai dan menghormati guru dengan selalu salaman setiap bertemu. Mendengarkan saat guru bicara dan kalau mau bertanya, tidak menyela saat guru bicara.

Di SMP dan SMA, ada karakter yang khusus diajarkan, yakni nasionalisme atau cinta tanah air. Para siswa bersama-sama guru mengupas nilai-nilai, makna dan filosofi yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945.

Guru dan orang tua sudah menyusun daftar kebiasaan baik yang perlu dilakukan siswa, baik di rumah maupun di sekolah. Daftar kebiasaan baik itu setiap hari dibaca guru dan orang tua untuk kemudian ditandai, mana kebiasaan yang sudah dilakukan siswa pada suatu hari dan mana yang tidak dilakukan.

Misalnya, apakah hari ini menyalami guru atau tidak, apakah hari ini mengejek teman atau tidak. Saat melakukan kesalahan meminta maaf atau tidak dan sebagainya.

Melalui daftar kebiasaan baik itu, guru juga mengontrol kebiasaan baik yang dilakukan siswa di rumah. Ada tabel jadwal kegiatan di rumah apa saja, sejak pulang sampai esok paginya menjelang pergi ke sekolah. Itu semua dikontrol sekolah dan sampai sejauh mana keterlibatan orang tua dalam membentuk karakter anak.

Selain itu, saat pembagian raport tengah semester dana akhir semester, orang tua diwajibkan datang ke sekolah untuk berkonsultasi dengan guru, terutama wali kelas. ”Dalam pertemuan itu, kita beritahukan orang tua apa yang sudah dipelajari anak-anak. Bahkan gurupun memberitahu jiga ada anak yang bermasalah.Guru bisa bertanya tentang permasalahan anak di rumah untuk memperoleh penjelasan dari orang tua. Pertanyaan serupa juga dilakukan orang tua pada gurunya,” tambah Alfianti, wali kelas yang lain.

Menurut Melati, di akhir semester, setelah diakumulasi, ada semacam penghargaan bagi siswa yang nilainya terbanyak dalam satu semester, baik dalam hal akademik maupun karakter. ”Mereka diberi semacam sertifikat,” ungkapnya.

”Penilaian budi pekerti itu dilakukan semua guru yang merupakan akumulasi poin selama satu semester. Hasil penilaian para guru dikumpulkan dan dimusyawarahkan, dan terakhir diambil suara terbanyak. Semua guru mempunyai suara,” sambung Melati.

Penghargaan itu diberikan dalam acara production yang selalu digelar di akhir semester. Acara ini semacam pentas seni dan kreativitas.

Dalam acara yang dihadiri guru dan orang tua tersebut, beberapa siswa terpilih mempresentasikan hasil karyanya selama satu semester, seperti tentang alam dan sosial. Ada juga siswa yang menampilkan karyanya dalam bidang musik, puisi dan sebagainya. Mereka diseleksi menjelang pelaksanaan acara.

”Salah satunya, ada siswa yang sudah berhasil membuat blog dan bahkan menghasilkan uang. Itu jadi motivasi buat yang lainnya,” terang Melati.Yanuar Jatnika

 

Bersambung