Kamis, 29 June 2017

Berita

Change your words, and you change your world!

17 Feb 2017 17:19:33


Change your words, and you change your world!

SAHABAT KELUARGA – Ada yang berbeda dengan ruang sidang Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga (Bindikel) sepanjang Senin hingga Kamis (14-15/02/2017) kemarin. Jika biasanya senyap karena diisi dengan rapat pimpinan, kali ini diisi dengan derai tawa, tepuk tangan serta gemuruh pegawai yang tengah mengikuti kegiatan Peningkatan Kapasitas Pegawai di lingkungan Bindikkel.

Kegiatan kali ini memang sangat berbeda. Pegawai direktorat dilatih untuk mahir berbicara di depan umum (public speaking). Mereka dilatih untuk menjadi narasumber atau pembicara. Apa perlunya?

Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga yang baru dibentuk di akhir tahun 2015 ini, sangat membutuhkan sosialisasi yang seluas-luasnya pada seluruh satuan pendidikan di Indonesia. Baik satuan pendidikan yang menjadi sasaran program Direktorat maupun satuan pendidikan lainnya.

Ditambah lagi, tujuan dari segenap program pembinaan pendidikan keluarga yakni agar terjadinya perubahan perilaku, dari yang belum sadar menjadi sadar, dari yang belum terampil menjadi sangat terampil, sehingga terwujud potret keluarga dengan pengasuhan yang positif, terlibat dalam pendidikan anaknya di sekolah, serta anak-anak yang berkarakter serta berbudaya prestasi.

Pepatah, Change your words, and you change your world! Ubahlah kata-katamu menjadi lebih baik, maka kamu akan mengubah duniamu! Ya, betapa ‘kata-kata’ mempunyai kekuatan besar dan berpengaruh bagi sebuah perubahan.

Dona Very, staf subdit Kemitraan mengaku senang bisa mengikuti pelatihan ini. ”Saya senang sekali dapat berlatih bagaimana menangani grogi sebelum bicara di depan umum, teknik yang dilatihkan juga beragam, dan menyenangkan!” tandasnya.

Maklum saja, pegawai Direktorat memang terkadang ditugaskan menjelaskan program tertentu di depan para kepala sekolah, jajaran dinas pendidikan daerah, maupun mitra. Perbedaan usia kadang menjadi hambatan tersendiri sehingga membuat grogi. Dengan kiat-kiat yang diajarkan oleh narasumber, Dona dan pegawai lain mengaku sangat terbantu.

“Kalau saya senang dengan materi bagaimana menangani tanya jawab!,” seru Dina Kartika staf  subdit Program dan Evaluasi.

Selain karena merasa masih merasa “junior” di Direktorat, pertanyaan dari banyak peserta dalam suatu pelatihan sering membuatnya merasa “kalah sebelum bertanding” alias tidak percaya diri. Tetapi kiat-kiat yang disampaikan Hilbram Dunar, salah satu pembicara, membuatnya merasa kendala itu sangat bisa diatasi.

Trio pembicara diantaranya Hilbram Dunar, Bayu Oktara dan Uli Herdiansyah dinilai paket komplit. ”Kalau bisa pelatihan seperti ini bisa rutin dilakukan tiap tahunnya, syukur kalau trio itu lagi. Soalnya ganteng-ganteng,” cetus Yuliana Lubis, staf subbag Tata Usaha yang kerap menjadi narasumber materi perpajakan dan pengelolaan keuangan.

Semakin tidak membosankan karena materi yang disampaikan selalu diselingi dengan praktek langsung. Mulai dari materi dinamika kelompok, menangani grogi, membangun skrip yang menarik, teknik bercerita, menangani tanya jawab, hingga materi berteman dengan kamera.

Belum lagi ketika Venna Anisa, penyiar VoA juga dihadirkan untuk melatih teknik vokal. “Suara cempreng sekalipun, jika dilatih dengan teknik yang tepat, tetap bisa menyuguhkan kharisma tersendiri”, ujarnya.  

Yang tidak kalah seru adalah ketika tiba-tiba Farhan masuk ke ruang sidang, di saat para peserta sedang serius menyimak salah satu materi. Dengan senyum lebar dan lambaian tangan, Farhan menyapa para peserta. Sontak semua menoleh pada sosok yang terkenal sebagai penyiar dan pemandu acara ini, lalu meningkahinya dengan sorakan dan tepuk tangan.

Sekira dua jam Farhan memukau pegawai dan pimpinan Direktorat dengan materi komunikasi persuasif. Meski sering diselingi dengan kekocakannya ala penyiar, tetapi tidak mengurangi bobot materi yang dia sampaikan. Farhan mengatakan, penting bagi pembicara untuk mengetahui terlebih dahulu, siapa yang akan menjadi audiens, sebelum kita presentasi.

“Lakukan profiling atau pemetaan audiens! Pemetaan itu setidaknya dari aspek usia audiens, demografis dan psikografis mereka,” ujar Farhan.  

Pengetahuan mengenai beberapa aspek-aspek ini sangat membantu dalam persiapan bahan paparan, bahkan program yang relevan dengan kebutuhan mereka. “Selain itu, rebut hati audiens di saat kita membuka presentasi. Jika hati peserta sudah bisa dijangkau, biasanya peserta akan lebih nyaman mendengar apapun yang akan kita sampaikan selebihnya,” tambahnya.

Merebut hati audiens atau peserta bisa dilakukan di antaranya dengan menyapa peserta menggunakan bahasa setempat, menceritakan legenda atau cerita-cerita khas daerah setempat.

Ditutup dengan individual coaching dari trio narasumber, dan pendampingan dari jajaran pimpinan Bindikkel, para peserta berkesempatan praktek menggunakan semua teknik dan keterampilan yang telah dilatihkan.

Umpan balik yang disampaikan oleh para pembicara menjadi masukan untuk perbaikan selanjutnya. “Sukses untuk kalian semua ya.. Jaya Indonesia dengan keluarga-keluarga yang hebat!,” ungkap pembicara ketika menutup acara. (Sri Lestari Yuniarti, subdit Pendidikan Orang Tua)